Allah Menjamin Nafkah Hamba

 

[blockquote indent=”yes” ]

قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّه

Katakanlah, “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah, “Allah!” (Saba:24)

[/blockquote]

Sartono yang baru pulang dari tempatnya bertugas di KBRI Chekoslowakia (sebuah negeri komunis di Eropa Timur) untuk menikmati cuti tahunan.

Dalam perjalanan menuju Depok dimana Sartono tinggal, terucap pertanyaan iseng dari mulutnya, “Berapa anakmu sekarang, Hend?” Hendri menjawab dengan enteng, “Tujuh!” Dengan gaya Eropa Timurnya, Sartono menyergah, “Wah…, gimana kasih makannya tuh?!”Matanya bergerak ke arah dahi, seraya menunjukkan bahwa ia sedang berpikir agak serius.

Mendengar itu, Hendri menjadi gerah sambil berkata sengit, “Pak Sartono, biar saya orang kecil dan cuma guru SD…. Saya mah masih bisa ngasih makan anak-anak saya! Saya punya Tuhan Yang Maha Kaya Pemberi rejeki!!!”

Allah Maha Kuasa… meski seorang guru, Hendri masih dapat merawat ketujuh anaknya dengan baik. Berbeda dengan Sartono yang menjadi pejabat KBRI Cheko, kedua anak yang ia miliki; anak tertuanya yang perempuan terkena virus pada otaknya. Padahal anak tersebut sudah remaja. Dan akhirnya, ia menjadi manusia yang cacat mental. Sementara anak keduanya yang laki-laki ternyata tewas tenggelam di sebuah danau saat KBRI di sana sedang mengadakan lomba renang dalam memperingati HUT RI. Itulah kehendak Allah Swt. Dia Yang Maha Tinggi & Pencipta telah menjamin rejeki setiap hamba-Nya. Bukanlah perkara aneh bagi-Nya untuk memberikan rejeki yang tiada terduga kepada seorang ayah berpenghasilan kecil seperti Hendri untuk dapat memberi nafkah dan makan kepada tujuh orang anak yang dititipkan Allah kepada hamba-Nya.

Dialah Allah… Tuhan Yang Menjamin rezeki semua hamba-Nya.

وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللّهِ رِزْقُهَا

“Tiada yang melata di muka bumi melainkan Allah telah menanggung rezekinya.” QS Hud {11}:6.

Seorang sufi pernah membaca ayat ini. Ia begitu yakin bahwa Allah Swt menjamin rezeki seluruh hamba-Nya. Namun dalam hati sang sufi amat besar keinginan untuk membuktikan hal tersebut. Pergilah ia ke sebuah bukit. Di atas bukit sana terdapat gua. Sang sufi berniat untuk uzlah mengisolir diri dari dunia lain demi membuktikan kebenaran ayat di atas. Dalam gua tersebut, si sufi duduk bersila. Ia bernazar tidak akan membuka mata seraya melihat. Tidak membuka mulut seraya berbicara, dan tidak bergerak sedikitpun hingga REZEKI DATANG LANGSUNG KE MULUTNYA.

Maka duduklah sang sufi di dalam gua gelap tersebut.

Selang beberapa lama, hujan deras turun. Beberapa orang dari sebuah kafilah turut menepi untuk berteduh sejenak dalam gua yang sama. Saat salah seorang dari mereka menyalakan api untuk masuk di dalam gua, didapatinya ada seorang manusia yang sedang duduk dalam kegelapan.

Maka melihat ada orang di dalam gua, si pembawa obor pun mengucapkan salam kepadanya. Namun… tidak ada balasan. Si pembawa obor mencoba memanggil beberapa rekannya. Maka begitu mereka mendapati ada orang di dalam gua yang terdiam diri tanpa membalas salam. Beberapa di antara mereka mencoba menepuk-nepuk punggung dan pundak sang sufi seraya berharap ada respon yang keluar dari dirinya. Rupanya sang sufi hanya diam tak bergeming. Salah seorang dari kafilah tersebut berujar, “Mungkin dia sudah terlalu lama tidak mendapat makan. Hingga, untuk membalas salam & memberi respon saja dia sudah tidak sanggup!” Rekan sejawatnya pun berpikiran sama. Sehingga salah satu dari mereka berinisiatif untuk mengambil perbekalan makan mereka dan diberikan kepada sang sufi.

Sang sufi masih terdiam, memejamkan mata, membisu dan tiada bergerak… Saat seorang dari kafilah membawakan makanan, sang sufi pun masih terdiam. Subhanallah, beberapa orang di antara kafilah merebahkan tubuh sang sufi. Bahkan seorang diantara mereka sudah bersiap-siap memasukkan sepotong roti & segelas air untuk diberikan kepada si manusia dalam gua. Begitu makanan sudah masuk dalam rongga mulut. Maka terbitlah senyum yang cerah di wajah sang sufi kemudian ia berteriak, “SUBHANALLAH WAL HAMDULILLAH!”

Kontan rombongan kafilah menjadi kaget keheranan. Mereka bertanya, “Saudara…, saat kami memberi salam mengapa tidak kau jawab? Saat kami menepuk punggung dan pundakmu, mengapa kau tak meresponnya? Dan lalu kenapa begitu kami memberimu makan, kamu langsung tersenyum sambil bertasbih & bertahmid? Kami mengira tadinya kamu sakit?”

Sang sufi pun bercerita, bahwa ia melakukan itu semua hanya karena ingin membuktikan kebenaran bahwa Allah Swt sungguh menjamin rezeki seluruh hamba-Nya. Subhanallah!

Saudaraku, betapa sering kita merasa galau… risau… panik dalam urusan kehidupan ini. Mengenai rezeki, masa depan dan kejayaan hidup. Janganlah pernah Anda merasa bahwa Allah menyia-nyiakan hidup kita dan tak menjaminnya. Asalkan Anda menjadi hamba-Nya, maka Dia akan terus menjamin penghidupan Anda!