Bahagia Hadapi Ujian

bahagia-hadapi-ujianSahabat, pernahkah melihat seseorang yang justru tampak bahagia ketika menghadapi ujian? Padahal orang-orang lain justru tak menyukai ujian dan amat gembira jika ujian dinyatakan selesai. Akan tetapi jenis orang ini justru sebaliknya, mereka seolah ‘menginginkan’ ujian, dan bersedih hati jika mereka tidak mendapatkan soal ujian.

Dalam kehidupan kampus atau sekolah, orang-orang yang berani menghadapi ujian adalah mereka yang tahu benar bahwa hanya dengan mengerjakan soal-soal ujianlah mereka bisa naik kelas ke level selanjutnya. Tanpa ujian, mereka akan mengalami stagnan dan tak ada kemajuan.

Selain itu, orang yang bahagia menghadapi ujian juga biasanya merupakan tipe yang menyadari pentingnya sebuah tes untuk mengenali kapasitas diri. Misalnya, orang-orang yang dengan sadar mengikuti ujian TOEFL, dan ujian tidak wajib lainnya namun bernilai penting.

Tidak hanya diwajibkan datang tepat waktu, membawa perlengkapan tulis, serta mendaftar dengan membayar sejumlah biaya tertentu, orang-orang ini juga dengan rela mengerjakan soal selama berjam-jam, dengan hati-hati, berharap tidak keliru dalam menjawab soal.

Bukankah mereka melalui seluruh rangkaian ujian tersebut disebabkan berharap mendapat sertifikat yang memperlihatkan berapa nilai atau skor yang mereka peroleh? Jika skor tersebut tinggi, maka makin bahagialah hati mereka.

Sahabat, maka demikian pula lah ujian yang kita hadapi di dunia ini. Hanya orang-orang yang paham pentingnya ujian, yang bisa bahagia dan tenang menghadapi soal ujian yang Allah berikan. Orang-orang ini memahami bahwa ujian adalah keniscayaan bagi setiap makhluk, dan harus dihadapi untuk membuktikan seberapa besarkah level keimanannya, maka ia takkan melarikan diri dari ujian apapun yang diberikan untuknya.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “kapankah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)

Berbahagialah jika memperoleh ujian dengan soal yang rumit dan sulit ditangani, mengapa? Jawabannya ada di dalam hadits Rasulullah berikut:

“Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Semakin besar ujian, semakin besar pahala. Dan sesungguhnya jika Allah mencintai seseorang, maka Allah akan memberikan ujian kepada hamba tersebut. Siapa yang ridho dengan ujian tersebut maka Allah akan ridho kepadanya dan siapa yang marah, murka dan kecewa dengan ujian tersebut, maka Allah akan marah kepada orang tersebut.” (HR. Tirmidzi)

Semakin tinggi kesulitan suatu ujian, maka semakin besar pahala yang diperoleh. Bahkan ujian adalah tanda kecintaan Allah pada seorang hamba, lalu apa yang membuat kita bersedih hati menghadapi ujian?

Bukankah ujian porsi terberat telah dirasakan oleh para Nabi dan Rasul? Lihatlah Rasulullah yang dalam keluarganya diuji dengan meninggalnya anak-anak laki-laki beliau, lalu beliau pun diuji dengan berbagai macam pertentangan dari paman-pamannya sendiri yang enggan menerima Islam dan mencoba memboikot kaum muslimin. Maka, ujian yang kita alami ini sebenarnya tidak ada apa-apanya.

“Orang yang paling hebat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang orang sholeh, kemudian orang-orang di bawah itu dan kemudian di bawah itu. Seseorang diuji berdasarkan kadar agamanya, jika agamanya kuat dan mantap maka akan ditambah hebat ujiannya, dan jika agamanya kurang maka kurang pula penderitaannya.” (HR. Ahmad)

Sahabat, sedih adalah hal manusiawi ketika tertimpa musibah, namun jika kita meyakini janji Allah “Beserta kesulitan ada kemudahan”, maka kebahagiaan juga semestinya hadir sebagai rasa bangga bahwa Allah mencintai kita dengan memberikan ujian tersebut. Wallahualam. (SH)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *