Dosa Kecil yang Menjadi Besar

Ilustrasi Foto: Pixabay

Setiap anak Adam pernah berbuat dosa dan sebaik-baik yang berbuat dosa adalah yang bersegera bertaubat,

(HR Muslim)

Sahabat, kita semua tahu bahwa tidak ada seorang manusia pun yang luput dari dosa. Akan tetapi, fakta tersebut jangan sampai membuat kita memaklumi diri yang penuh dengan lumuran dosa.

Sebagaimana seseorang yang jatuh ke selokan, tentu ia takkan membiarkan dirinya dalam kondisi kotor seperti itu terus-menerus bukan? Pastilah ia akan segera membersihkan kotoran yang melekat pada dirinya. Maka demikian pula semestinya kita menghapuskan dosa-dosa dengan segera.

Sahabat, ada banyak hal yang membuat dosa kecil berubah menjadi besar, diantaranya:

 

1. Dilakukan terus-menerus tanpa merasa menyesal

Dosa-dosa kecil sekalipun, jika dilakukan rutin terus-menerus maka dapat berubah menjadi dosa besar yang tidak bisa dianggap remeh.

Tak ada dosa kecil selagi terus dikerjakan dan tak ada dosa selagi dimohonkan ampunan,

(HR. Ad-Dailami)

 

2. Membongkar aib dosa-dosa yang dilakukan diri sendiri

Sesungguhnya Allah sering menutupi aib hambaNya, akan tetapi banyak yang justru membongkar aib dosa-dosanya sendiri. Inilah yang bisa menyebabkan dosa kecil menjadi besar dan menjadi tidak terampuni.

“Setiap umatku diberi ampunan kecuali orang-orang yang terang-terangan. Sesungguhnya yang termasuk terang-terangan adalah jika seseorang melakukan suatu dosa pada malam hari, kemudian pagi harinya ia membuka dosa tersebut padahal Allah telah menutupinya. Dia berkata “Hai Fulan, semalam aku telah berbuat begini dan begini.” Allah telah menutupi apa yang ia lakukan malam itu, tetapi ia sendiri justru menyingkap tutupan Allah pada dirinya.

(HR. Bukhari dan Muslim)

 

3. Menganggap enteng dosa tersebut

Dosa yang diikuti dengan perasaan menyesal, bisa mendatangkan kasih sayang Allah. Namun sebaliknya, dosa yang dianggap enteng, justru dapat membinasakan.

Dari Abdullah bin Mas’ud ra berkata, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin (ketika) ia melihat dosa-dosanya, adalah seperti (ketika) ia duduk di lereng sebuah gunung, dan ia sangat khawatir gunung itu akan menimpanya. Sedangkan seorang fajir (orang yang selalu berbuat dosa), ketika ia melihat dosa-dosanya adalah seperti ia melihat seekor lalat yang hinggap di batang hidungnya, kemudian ia mengusirnya seperti ini lalu terbang (ia menganggap remeh dosa).” (HR. Bukhari)

…dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja.  Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.

(QS. An Nur: 15)

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya kalian benar-benar melakukan perbuatan-perbuatan yang di mata kalian lebih tipis daripada rambut, tetapi kami di zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menganggapnya sebagai dosa-dosa yang membinasakan.” (HR. Bukhari)

 

4. Tidak segera memohon ampunan pada Allah

Setiap kali berbuat dosa, segeralah sadari pada siapa kita telah bermaksiat, dan mohon ampunlah padaNya. Sesungguhnya orang yang beriman dan bertaqwa, setiap melakukan perbuatan dosa akan segera mengingat Allah dan menyesali perbuatan keji yang dilakukannya.

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedangkan mereka mengetahui.” (QS Ali Imran:135)

 

5.  Melakukan dosa besar

Terbiasa melakukan dosa kecil akan membuat seseorang berani melakukan dosa besar karena merasa sudah terlanjur basah. Oleh sebab itu, penting memastikan diri menghindari dosa besar sekalipun kita telah banyak melakukan dosa-dosa kecil.

Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).” (QS. An Nisa: 31)

 

6. Tidak dibarengi rasa malu

 

Rasa malu amat penting dimiliki, sebagai pertanda adanya iman di hati seorang hamba. Selain itu, rasa malu juga bisa menghilangkan dosa besar menjadi dosa kecil. Sebaliknya, tanpa rasa malu, dosa kecil bisa terhitung sebagai dosa besar.

Dan disini ada sebuah perkara yang harus dicermati, yaitu bahwa sebuah dosa besar terkadang dibarengi dengan sifat malu, rasa takut dan pengagungan akan beratnya dosa tersebut yang menjadikannya dikategorikan dengan dosa-dosa kecil, dan (sebaliknya) terkadang sebuah dosa kecil dibarengi dengan sedikit rasa malu, tidak mengacuhkan, tidak takut dan sikap meremehkan dengan dosa tersebut yang menjadikannya dikategorikan dengan dosa-dosa besar, bahkan menjadikannya di tingkatan yang paling tinggi (dari dosa-dosa besar itu). Dan perkara ini kembalinya kepada apa yang terbetik di dalam hati.” (Lihat kitab Madarij As Salikin, karya Ibnul Qayyim)

 

7. Merasa aman dari dosa karena banyaknya amalan

Merasa banyak amalan, sehingga tidak mengkhawatirkan dosa-dosa yang kita lakukan? Pikir lagi! Bahkan para Nabi dan Sahabat Rasulullah yang sudah dijamin surga sekalipun masih memiliki ketakutan akan dosa yang mereka perbuat biarpun amalan mereka amat banyak tak terhitung.

Ibnu ‘Aun rahimahullah berkata: “Jangan terlalu yakin dengan banyaknya amal, karena sesungguhnya Anda tidak mengetahui, apakah amalan Anda diterima atau tidak? dan jangan pula terlalu merasa aman dengan dosa-dosa Anda, karena sesungguhnya Anda tidak mengetahui, apakah diampuni dosa Anda atau tidak? sesungguhnya amalan Anda gaib dari Anda, Anda tidak mengetahui apa yang Allah perbuat terhadap amalan Anda, apakah Allah jadikannya di dalam Sijjin (buku catatan dosa)? Ataukah dijadikan-Nya di dalam ‘Illyyin (buku catatan amal shalih)?” (Lihat Kitab Syu’ab Al Iman, karya Al Baihaqi)

Sahabat, semoga kita mewaspadai dosa-dosa kecil yang dapat berubah menjadi besar karena hal-hal di atas. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa yang pernah kita lakukan. (SH)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *