Harta Dunia Akhirat

Pernahkah kita perhatikan perilaku orang yang membuang sampah sembarangan ? Tempat yang tadinya bersih, diawali dengan satu orang membuang bungkus makanan kecil, lalu ditiru dengan orang lain yang membuang botol bekas minuman, lalu bekas nasi bungkus, bungkus permen, bungkus rokok dan lain – lain sebagainya. Berawal dari perilaku kecil yang dirasa tidak apa – apa, kemudian ditiru karena merasa orang lain pun melakukannya, maka kenapa tidak saya juga ikut melakukannya ?

Nah, begitu pula dengan gaya hidup hedonis dan bermewah – mewahan. Dimulai dari keinginan saling mengungguli dalam hal kecil. Kemudian menanjak ke hal yang lebih besar. Dari perasaan tidak enak karena memamerkan kekayaan, menjadi perasaan tidak apa – apa karena semua orang pun melakukannya. Menjadi umum, menjadi biasa. Jadi kebal terhadap rasa malu memamerkan kekayaan, malah berganti menjadi perasaan wajar – wajar saja. Makin keras bekerja, makin merasa berhak bermewah, makin merasa wajar untuk bergaya hidup hedonis. 

Hal kekayaan dan harta sering kita tempatkan di tempat yang berseberangan dengan hal keimanan. Urusan harta kita tahbiskan sebagai hanya urusan dunia, sementara urusan akhirat adalah yang berhubungan dengan shalat, puasa dan ibadah yang bersifat ritual. Makin kita jauhkan kedua hal ini, maka akan cenderung makin beranilah kita bersikap A terhadap keuangan kita tapi bersikap B dalam hal keimanan. Tidak kita sambungkan kedua hal ini, lupa bahwa harta kekayaan adalah sejatinya milik Allah, yang akan diminta pertanggungjawabannya kelak di akhirat dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keimanan kita kepada Allah SWT.

Coba sejenak kita bayangkan apabila kita meletakkan keimanan sebagai dasar dari hidup berkeuangan dan berharta, menyertakan iman dalam pengelolaan keuangan kita. Akankah berbeda hal yang kita lakukan ? Apabila kita renungkan keputusan – keputusan keuangan yang telah kita lakukan, pengelolaan dan pemanfaatan harta yang sudah sekian lama kita lakukan. Apa motif utama dari apa yang kita kerjakan itu ? Keimanan, ridha Allah, memenuhi kebutuhan saja ataukah sudah lebih banyak untuk memenuhi keinginan yang tidak ada habis – habisnya ?  Bagaimana kalau semua keputusan yang sudah kita lakukan itu kita letakkan dalam bingkai keimanan ? Berapa banyak yang ingin kita rubah ?

Konsep Islam yang berkaitan dengan harta sangat jelas. Kepemilikan mutlak ada pada Allah SWT, manusia hanya dipercaya sebagai khalifah Allah di muka bumi untuk mengelola dan memanfaatkan harta kekayaan tersebut dalam koridor aturan Allah. Karena itu, harta perlu dilihat dalam perspektif dunia dan akhirat sebagai karunia Allah kepada manusia, amanah yang harus dipertanggung jawabkan, sekaligus ujian bagi manusia.  Dengan sadar bahwa kepemilikan mutlak harta ada pada Allah SWT, maka faktor keimanan akan berperan sangat besar dalam keputusan – keputusan yang berkaitan dengan harta tersebut.  Dengan dijiwai faktor keimanan, maka kecenderungan untuk bermegah, bermewah dan bergaya hidup hedonis, akan cenderung dapat dihindari. Pertanyaan “bagaimana mempertanggungjawabkan perolehan dan penggunaan harta ini di hadapan Allah ?”  menjadi pagar dan rambu yang akan menghalangi keinginan untuk berlomba dalam kemewahan. Kita akan cenderung untuk berfikir, apa lagi yang akan membuat Allah ridho ? Bagaimana lagi kita pergunakan harta kekayaan yang Allah titipkan ini  untuk kebarokahan yang lebih besar ? Apakah pengelolaan harta yang saya lakukan ini juga mengandung dimensi akhirat ?

Apabila kita mengambil perumpamaan yang disebutkan di awal tulisan ini dan kita letakkan di sisi sebaliknya, maka boleh jadi gerakan – gerakan untuk mengembalikan dimensi keimanan dalam pengelolaan harta kekayaan dan keuangan kita adalah solusi yang diperlukan saat ini, baik untuk masalah – masalah keuangan yang dihadapi oleh individu, keluarga maupun bangsa ini.  Dimulai dengan hal kecil, misalnya kesadaran untuk berbagi untuk orang – orang dalam lingkungan keluarga yang membutuhkan, meningkat dengan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar dan meluas hingga membagi keberkahan dalam lingkup yang lebih luas.  Kita hindarkan diri dari kesia – siaan dalam pengelolaan dan pemanfaatan harta, dan lebih berpikir untuk memanfaatkan harta dengan dimensi dunia dan akhirat yang beriringan dan tak terpisahkan. Harta yang baik adalah harta yang berada di tangan orang yang shaleh dan beriman.  Harta yang dimanfaatkan dan dikelola di dunia dan menjadi kendaraan menuju akhirat.

Oleh: Elsa Febiola Aryanti (Managing Partner Hijrah Institute)