Memandang Hina Dunia

perumpamaan dunia“Tiadalah perbandingan dunia ini dengan akhirat, kecuali seperti seseorang yang mencelupkan jarinya ke dalam lautan besar, maka perhatikan berapa dapatnya (air yang menempel di jari adalah perumpamaan dunia, sedangkan lautan di hadapannya adalah perumpamaan akhirat).” (HR Muslim)

Sahabat, apakah kita masih memandang dunia dengan tatapan harap dan takjub?

Jika kita masih suka iri dengan orang yang memiliki tempat tinggal besar, iri terhadap mereka yang bisa menjejakkan kaki di luar negeri, iri pada mereka yang telah berkeluarga dan memiliki anak, atau iri pada kesenangan duniawi lainnya. Itulah indikasi utama bahwa kita masih belum menyadari betapa hinanya dunia ini.

Sesungguhnya kita perlu belajar memandang hina dunia ini agar tidak terjebak kenikmatan semu yang ada di dalamnya.

Berikut ini merupakan perumpamaan dunia yang bisa kita dapatkan dari hadits Rasulullah. Semoga kita mau mengambil pelajaran betapa hinanya dunia yang banyak diperebutkan manusia ini:

  1. Dunia tak sepadan dengan sayap nyamuk

Sahabat, apa yang biasa dirasakan saat melihat nyamuk? Bahagia melihat nyamuk berterbangan di sekitar kita atau justru terganggu?

Kebanyakan orang akan merasa terganggu dan dengan serta-merta mengibaskan tangan mereka ketika melihat nyamuk melintas di dekat mereka.

Maka demikianlah hendaknya kita memperlakukan dunia, bahkan di sisi Allah dunia ini masih lebih rendah jika dibandingkan sayap nyamuk:

Seandainya dunia ini sama nilainya dengan sayap nyamuk di sisi Allah. Niscaya Ia tidak akan memberikan minuman dari dunia itu kepada orang kafir, meskipun hanya seteguk air” (HR. Tirmidzi. Syeikh Albani menshahihkan hadis ini).

Justru karena dunia ini lebih hina dibandingkan sayap nyamuk, maka bagi Allah tak mengapa memberikan segala kesenangan dan kenikmatan pada orang kafir selama di dunia.

  1. Lebih hina dari bangkai kambing cacat

Jabir radiyallaahu ‘anhu berkata : Ketika Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam berjalan di pasar dan dikelilingi orang, mendadak di sana ditemukan bangkai kambing yang cacat telinganya, maka Rasulullah mengangkat telinganya seraya bertanya: Siapakah yang suka membeli ini dengan satu dirham? Jawab mereka: Tiada yang suka itu, dan buat apakah itu. Nabi bertanya : Sukakah kalau ini diberikan kepadamu secara cuma-cuma? Jawab mereka : Demi Allah, andaikan itu masih hidup, iapun cacat, apalagi ia sudah jadi bangkai. Maka sabda Nabi: Demi Allah. Sungguh dunia ini lebih hina dalam pandangan Allah, dari bangkai ini bagimu (HR. Muslim).

Jika kita bisa memandang dunia ini sebagaimana jijiknya kita melihat bangkai kambing cacat, maka in syaa Allah kita takkan terjebak pada tipu muslihat dunia, seperti: harta, tahta, dan wanita.

Baca Juga: Di Dunia untuk Akhirat

  1. Sama hinanya dengan bangkai yang dikerubungi anjing

Allah telah mewahyukan kepada Daud alaihissalam dengan firman-Nya: “Wahai Daud, perumpamaan dunia yaitu laksana bangkai di mana anjing-anjing berkumpul mengelilinginya, menyeretnya kian kemari. Apakah engkau senang menjadi seekor anjing lalu ikut bersama-sama mereka menyeret bangkai itu kian kemari? Wahai Daud ! Berlemah lembutlah dalam pembicaraan dan berlaku sederhanalah dalam berpakaian. Kemasyhuran namamu di antara khalayak ramai tidak akan identik selama-lamanya (dengan yang diperoleh) di akhirat.” (HQR Al Madani di dalam kitabnya).

Jelas bahwa orang yang mengejar dunia, mengejar popularitas, kekayaan, kebebasan, sama seperti anjing yang mengerubungi bangkai. Kecuali orang yang memanfaatkan popularitasnya, hartanya, semata-mata untuk berdakwah menyeru ke jalan Allah. Namun amat langka orang yang berlaku demikian.

  1. Dunia dan apa yang ada di dalamnya adalah terkutuk

Abu Hurairah radiyallaahu ‘anhu berkata: Saya telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Ingatlah, bahwa dunia terkutuk, dan juga apa yang ada di dalamnya juga terkutuk kecuali dzikrullah dan segala yang serupa atau sederajat dengan itu, dan orang alim yang mengerti dan orang yang mempelajari.” (HR. Attirmidzi)

Sahabat, sebegitu hinanya dunia ini. Maka janganlah mengharap apapun dari dunia selain sekadar untuk hidup saja. Jangan melampaui batas karena nikmat dunia hanyalah setetes air jika dibandingkan dengan nikmat di surga kelak. Wallaahualam. (SH)

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *