Menjadikan Amalan sebagai Prioritas

Foto: Unsplash

Sahabat, tidak sedikit orang beramal yang merupakan uang sisa saja. Sisa dari apa? Ya sisa dari seluruh uang keperluan yang sudah dianggarkan.

Prioritas pertama itu makan, kemudian transportasi, komunikasi, hiburan, hobi, bla bla bla. Baru lah kemudian prioritas terakhir adalah beramal. Kalau hanya bersisa seratus ribu, ya berarti beramal bulan ini hanya seratus ribu. Kalau tidak bersisa, kalau begitu anggaplah beramal pada keluarga saja.

Padahal, jika kita mau meneliti anggaran keuangan kita, banyak sekali pengeluaran yang tidak prioritas bahkan terkesan mewah. Inilah yang disebut dengan gaya hidup. Banyak orang zaman sekarang yang lebih memilih membeli gaya hidup daripada mengalokasikan uangnya untuk beramal.

Sungguh jauh kondisi kita saat ini dengan kondisi di zaman Rasulullah SAW dahulu. Bahkan Rasulullah begitu takut jika di rumahnya masih ada uang yang tersisa, ia akan segera memberinya kepada orang lain yang membutuhkan. Sedangkan kita sebaliknya, begitu takut jika tidak ada uang di rumah.

Mari kita simak hadits berikut:

“Kisah Umar radhiyallahu ‘anhu: Aku (Umar) masuk menemui Rasulullah yang sedang berbaring di atas sebuah tikar. Aku duduk di dekatnya lalu beliau menurunkan kain sarungnya dan tidak ada sesuatu lain yang menutupi beliau selain kain itu. Terlihatlah tikar telah meninggalkan bekas di tubuh beliau. Kemudian aku melayangkan pandangan ke sekitar kamar beliau. Tiba-tiba aku melihat segenggam gandum kira-kira seberat satu sha‘ dan daun penyamak kulit di salah satu sudut kamar serta sehelai kulit binatang yang belum sempurna disamak. Seketika kedua mataku meneteskan air mata tanpa dapat kutahan. Rasulullah bertanya: Apakah yang membuatmu menangis, wahai putra Khathab? Aku menjawab: Wahai Rasulullah, bagaimana aku tidak menangis, tikar itu telah membekas di pinggangmu dan tempat ini aku tidak melihat yang lain dari apa yang telah aku lihat. Sementara kaisar (raja Romawi) dan kisra (raja Persia) bergelimang buah-buahan dan sungai-sungai sedangkan engkau adalah utusan Allah dan hamba pilihan-Nya hanya berada dalam sebuah kamar pengasingan seperti ini. Rasulullah lalu bersabda: Wahai putra Khathab, apakah kamu tidak rela, jika akhirat menjadi bagian kita dan dunia menjadi bagian mereka?” (HR. Muslim)

Sahabat, kita semua mengetahui bahwa Rasulullah SAW adalah seorang pebisnis yang jujur dan memiliki harta yang tak sedikit. Namun lihatlah betapa beliau memprioritaskan harta yang dimilikinya untuk sedekah pada orang lain. Tidak menginginkan tubuhnya memperoleh kenikmatan berlebihan dengan apa yang disebut sebagai gaya hidup. Maka, hendaknya kita mulai memprioritaskan beramal, dimulai dari orang-orang terdekat yakni kerabat yang kurang mampu, hingga pada yatim dan dhuafa yang tidak kita kenal sekalipun. (SH)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook

Instagram