Bahaya Prasangka Buruk

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

bahaya prasangka burukWahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangkaan karena sesungguhnya sebagian dari persangkaan itu merupakan dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Sahabat, mungkin pernah mendengar kisah inspiratif berikut ini, meski menuai pro kontra mengenai benarkah kisah ini berdasarkan kenyataan, namun jelas kita bisa mendapat hikmah di dalamnya:

Suatu pagi, seorang wanita yang hendak mengikuti tes wawancara untuk posisi manajer sebuah perusahaan terkenal, membawa serta anaknya yang masih usia sekolah dasar ke perusahaan tersebut.

Karena masih ada waktu, mereka terlebih dahulu sarapan di sebuah taman samping gedung. Mengejutkan, selesai makan, wanita tersebut malah membuang sembarangan tisu bekasnya. Hal ini dilakukan karena ia melihat seorang kakek tua berpakaian sederhana sedang memotong ranting tak jauh dari tempatnya duduk.

Kakek tua itu menghampiri dan memungut sampah tisu tersebut lalu membuangnya ke tong sampah. Tak disangka, sekali lagi sang wanita membuang kembali sampah tisunya tanpa sungkan. Kakek tua itu dengan sabar tetap memungut dan membuang tisu tersebut ke tempat sampah.

Sambil menunjuk ke arah sang kakek, wanita itu lantang berkata pada anaknya, “Nak, kamu lihat kan… Kalau tidak sekolah dengan benar, nanti masa depan kamu cuma seperti kakek itu, jadi tukang sampah yang memunguti sampah orang lain. Jelas?!”

Mendengar hal itu, sang kakek mendekat dan menyapa wanita itu. “Permisi, ini adalah taman pribadi perusahaan, bagaimana Anda bisa masuk ke taman ini?”

“Saya adalah calon manajer yang dipanggil oleh perusahaan ini!” jawab wanita itu angkuh.

Tak lama, seorang pria muda berjas rapi tampak berjalan mendekat ke taman dan kemudian membungkuk hormat ke arah sang kakek tua.

“Pak Presdir, hanya mau mengingatkan, rapat akan dimulai jam 10 pagi ini! Mohon Anda bersiap-siap.”

Sang kakek mengangguk, lalu sebelum berbalik, ia mengarahkan matanya ke wanita tadi dengan berkata tegas, “Saya tidak akan menerima orang yang tak bisa menghargai orang lain untuk menjabat posisi manajer di perusahaan ini!”

Wanita itu begitu terkejut, tak menyangka kakek yang dikiranya tukang sampah ternyata presiden direktur perusahaan calon tempatnya bekerja, ia pun tertunduk malu.

Lalu kakek itu menghampiri kemudian berjongkok dengan memegang pundak sang anak, “Nak, ketahuilah bahwa yang terpenting dalam hidup ini adalah sikap bisa menghormati dan menghargai orang lain, sekalipun ia hanyalah seorang tukang sampah!”

Sahabat, begitulah bahayanya berburuk sangka terhadap orang lain. Hanya karena melihat penampilan luarnya, kita sering menghakimi orang lain dengan prasangka buruk. Padahal sebagian besar prasangka adalah dusta! Simaklah hadits berikut ini:

Hati-hati kalian dari persangkaan yang buruk karena hal itu adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mendengarkan ucapan orang lain dalam keadaan mereka tidak suka. Janganlah kalian mencari-cari aurat/cacat/cela orang lain. Jangan kalian berlomba-lomba untuk menguasai sesuatu. Janganlah kalian saling hasad, saling benci, dan saling membelakangi.

Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang Dia perintahkan. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, maka janganlah ia menzalimi saudaranya, jangan pula tidak memberikan pertolongan/bantuan kepada saudaranya dan jangan merendahkannya. Takwa itu di sini, takwa itu di sini.” Beliau mengisyaratkan (menunjuk) ke arah dadanya.

“Cukuplah seseorang dari kejelekan bila ia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain, haram darahnya, kehormatan dan hartanya. Sesungguhnya Allah tidak melihat ke tubuh-tubuh kalian, tidak pula ke rupa kalian akan tetapi ia melihat ke hati-hati dan amalan kalian.” (HR. ?Al-Bukhari no. 6066 dan Muslim no. 6482)

Jelas bahwa prasangka buruk bisa membahayakan diri kita sendiri, berikut ini beberapa alasannya:

1. Allah akan mengikuti prasangka hambaNya, jika prasangka tersebut buruk, meskipun keliru, Allah tetap akan mengabulkannya

“Aku (Allah) sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku.” (Muttafaqun ‘alaih)

Jika kita menyangka Allah kejam, jahat pada diri kita, tak mau mengabulkan doa-doa kita, meskipun prasangka itu salah besar, namun Allah akan mengikuti prasangkaan tersebut. Bukankah hal ini amat merugikan? Oleh sebab itu kita diminta tidak mati dalam keadaan berburuk sangka pada Allah.

“Janganlah salah seorang di antara kalian mati melainkan ia harus berprasangka baik pada Allah” (HR. Muslim no. 2877)

2. Prasangka buruk membuat malu diri sendiri

Sebagaimana kisah di atas, di mana seorang presdir  disangka sebagai tukang sampah dan diperlakukan begitu rendah oleh calon manajernya yang terbiasa berprasangka buruk, bukankah terasa amat memalukan begitu ia mengetahui hal yang sebenarnya?

Demikian pulalah yang terjadi jika kita memelihara prasangka buruk sebagai kebiasaan. Prasangka buruk pada orang lain ataupun pada Allah sebenarnya hanyalah mempermalukan diri sendiri!

3. Sibuk berprasangka buruk pada orang lain akan melalaikan kita dari memperhatikan aib diri sendiri

Orang yang selalu mencari-cari aib orang lain, maka akan lalai dari aib dirinya sendiri. Padahal bisa jadi aib dirinya jauh lebih banyak dan lebih besar daripada aib orang lain yang selalu ia cari-cari tersebut.

Sahabat, selalulah mencoba berprasangka baik pada orang lain terutama saudara seiman, juga berbaik sangka terhadap Allah dan ketentuanNya. Sesungguhnya kebiasaan berprasangka buruk hanya akan merugikan diri kita sendiri dan tak membawa kebaikan apapun. Wallaahualam. (SH)

Wakaf Sekarang