Bahaya Salah Memilih Kawan

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

salah memilih kawanAgama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Sahabat, betapa banyak orang baik menjadi berperangai buruk –dan sebaliknya– orang buruk menjadi berperangai baik dikarenakan pengaruh teman karibnya. Maka, salah memilih kawan dampaknya tidak hanya merugi di dunia, tapi juga merugi di akhirat.

Bergaul dengan orang pelit, kita akan terpengaruh untuk berlaku kikir. Bergaul dengan lingkungan pemboros dan suka pamer, kita akan terpengaruh untuk ikut menghamburkan harta dan berbuat riya’. Hal ini sudah diwanti-wanti oleh Rasulullah dalam haditsnya:

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Lihatlah betapa orang yang banyak bergaul di lingkungan pezina, pemabuk, pemakan riba, dan koruptor, bisa tertular sifat buruk suka berzina, mengonsumsi minuman keras, turut memakan harta dengan cara yang bathil, atau kalaupun tidak, minimal ia akan terbiasa melihat kemunkaran dan hatinya sudah kebal sehingga tak berdaya upaya untuk mencegah kemunkaran tersebut.

Sedangkan seseorang yang berada di lingkungan orang-orang jujur, shaleh, taat beribadah, dekat dengan al Quran, minimal ia akan merasa malu dan tak nyaman jika tidak turut melakukan kebaikan serupa.

Sahabat, bagaimanakah cara memilih kawan karib agar kita tidak ‘tersesat’ dalam rimbunnya pergaulan di dunia ini? Berikut beberapa tips yang Allah dan RasulNya berikan:

1. Pilihlah teman akrab yang memiliki karakter jujur

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).” (QS. At Taubah: 119)

Sungguh, kejujuran merupakan karakter utama seorang mukmin. Orang yang tidak bisa dipegang ucapannya, baik di kala berkata-kata maupun berjanji, merupakan ciri-ciri orang munafik yang sebaiknya tidak kita jadikan kawan karib.

Memang tak mudah menemukan orang jujur, cara paling efektif adalah dengan menjadikan diri kita sebagai orang yang jujur terlebih dahulu, karena pertemanan itu ibarat magnet… Jika kita jujur, in syaa Allah kita akan menarik orang-orang yang juga berkarakter jujur untuk mendekat dan masuk dalam kehidupan kita.

2. Dekat pada orang-orang yang mencintai Quran

Setidaknya pastikan diri kita memiliki kebersamaan dengan orang-orang yang mempelajari quran dan bersedia mengajarkannya, minimal setiap pekan sekali. Bagaimana mungkin kita menemukan ketenangan hidup jika tak memiliki koneksi sama sekali ke kumpulan orang-orang yang mempelajari isi Al Quran?

Dan ingatlah ketika orang-orang zalim menggigit kedua tanganya seraya berkata: “Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an sesudah Al Qur’an itu datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al Furqan: 27-29)

3. Boleh saja berteman dengan orang-orang yang memiliki kesamaan hobi, namun pastikan mereka memiliki karakter dan kebiasaan yang baik.

Saat ini komunitas ada begitu banyak dan beraneka ragam, mulai dari komunitas olahraga, kesamaan hewan peliharaan, kesamaan hobi, sampai ke komunitas orang-orang yang senang berkegiatan sosial. Apapun komunitas yang kita pilih, tetap perlu selektif memilih siapa yang kita jadikan kawan karib.

Jangan sampai kita berteman akrab dengan orang yang menghabiskan 90% hidupnya hanya untuk mengurus hobinya saja dan melupakan tanggungjawab lainnya sebagai seorang individu, tentu hal ini amat berlebihan dan membahayakan karena bisa mempengaruhi diri kita juga.

Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (HR. Abu Daud no. 4833, Tirmidzi no. 2378, Ahmad 2/344, dari Abu Hurairah)

4. Carilah teman yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya

Sahabat, lihatlah bagaimana sikap seseorang dalam menaati Allah! Jika ia berani melanggar larangan Allah dan tak takut mengabaikan perintah Allah, Tuhan yang Maha Tinggi, maka mengapakah kita bersedia menjadikannya sebagai teman dekat? Sangat besar kemungkinan di akhirat kelak dia justru akan menjadi musuh kita.

Teman -teman akrab pada hari itu sebagian menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf : 67)

Semoga Allah memberi kesadaran pada diri kita betapa pentingnya menyeleksi sahabat karib untuk kebaikan dunia akhirat.

Berteman dengan siapapun jua tak masalah, bukankah Rasulullah senantiasa berbuat baik bahkan pada orang kafir dan munafik sekalipun? Akan tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat dekat, tentu merupakan hal yang berbeda.

Mudah-mudahan kita dianugerahi kawan yang membawa kedekatan pada Allah dan bukan sebaliknya. Kawan yang memberi pengaruh baik untuk kehidupan dunia dan akhirat kita. Aamiin. (SH)

Wakaf Sekarang