Belum Pernah Wakaf Seumur-Umur?

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Belum-Pernah-Wakaf-Seumur-Umur

Tak perlu jadi juragan tanah terlebih dahulu baru bisa wakaf, juga tak perlu menunggu menggunungnya harta baru bisa wakaf. Kini wakaf mulai dari 10 ribu bisa bikin amal  jariyah tumbuh subur.

Meskipun wakaf bukan termasuk ibadah wajib dalam Islam, namun wakaf termasuk ibadah yang sangat istimewa. Kenapa istimewa? Karena pahala amalan wakaf bukan hanya bermanfaat untuk pewakaf (Wakif) saja tapi juga beramanfaat untuk sesama atau masyarakat. Selain itu, pahala wakaf akan terus mengalir meskipun pewakaf (Wakif) telah meninggal dunia.

Seperti dalam petunjuk Al-Qu’ran dan Sunnah

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya :

“Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: (1) sedekah jariyah, (2) ilmu yang diambil manfaatnya, (3) anak shalih yang selalu mendoakan orang tuanya.” (HR. Muslim, no. 1631)

Selain dari ketiga jenis perbuatan di atas, ada lagi beberapa macam perbuatan yang tergolong dalam amal jariah.

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya diantara amal kebaikan yang mendatangkan pahala setelah orang yang melakukannya wafat ialah ilmu yang disebar­luaskannya, anak saleh yang ditinggalkannya, mushaf (kitab-kitab keagamaan) yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah yang dibangunnya untuk penginapan orang yang sedang dalam perjalanan. sungai yang dialirkannya untuk kepentingan orang banyak, dan harta yang disedekahkannya” (HR. Ibnu Majah).

 

Di dalam hadis ini disebut tujuh macam amal yang tergolong amal jariah sebagai berikut :

7-Amal-Jariyah

  • Ilmu yang ia ajarkan dan sebarkan

Sahabat, ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu yang dapat bermanfaat untuk sesama, lebih utama lagi ilmu – ilmu tentang akidah agama, bagaimana cara mengenal Allah sebagai Rabb. Serta mengajarkan ilmu yang menuntun kejalan yang lurus, sehingga kita tahu mana hal – hal yang baik dan buruk.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi wahyu kepada Nabi Dawud Alaihis Salaam. Firman-Nya,

“Wahai, Dawud. Pelajarilah olehmu ilmu yang bermanfaat”. “Ya Rabbi.. apakah ilmu yang bermanfaat itu ? “ tanya Nabi Dawud. Allah menjawab, “Itulah ilmu yang bertujuan untuk mengetahui keluhuran, keagungan, kebesaran ,dan kesempurnaan kekuasaan-Ku atas segala sesuatu. Inilah yang mendekatkan engkau kepada-Ku.”

  • Anak shalih yang ia tinggalkan.

Jika semasa hidupnya ada orang tua yang berjuang dan berusaha mendidik anaknya dengan baik hingga menjadi anak yang sholeh atau sholehah. Maka ketika orang tua kelak meninggal, sang anak akan menjadi penyelamat orang tuanya untuk terhindar dari azab dan api neraka. Karena doa seorang anak yang sholeh akan langsung di hijabah oleh Allah SWT.

Seorang anak merupakan sebuah usaha dan tabungan orang tua, karena ketika orang tua sudah meninggal, amalan – amalan si anak dapat menjadi ladang pahala untuk orang tuanya tanpa mengurangi pahala anak tersebut sedikitpun.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an Surat An. Najm : 39

Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An Najm: 39). Di antara yang diusahakan oleh manusia adalah anak yang sholih.”

Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya :

Sesungguhnya yang paling baik dari makanan seseorang adalah hasil jerih payahnya sendiri. Dan anak merupakan hasil jerih payah orang tua.” (HR. Abu Daud no. 3528 dan An Nasa-i no. 4451)

  • Mushaf yang ia wariskan.

Al-Qur’an merupakan buku pedoman umat Islam dalam kehidupan di dunia. Sehingga kehidupan umat Islam akan lebih terarah jika mengikuti pedoman Al-Qur’an atau Mushaf.

Mewariskan Mushaf (Al-Qur’an) kepada orang lain atau Masjid dapat memberikan manfaat kepada pembaca maupun yang mewarisi Mushaf tersebut. Pahalanya akan terus mengalir selama Mushaf itu dibaca dan ditadaburi.

  • Masjid yang ia bangun.

Siapa yang tidak ingin membangun rumah mewah di Surga? Pasti kita semua menginginkannya bukan? Nah sangat mudah kita lakukan untuk membangun rumah di Surga sebagai tempat tinggal abadi kelak di akhirat.

Jangan bayangkan kita harus membangun satu buah Masjid dengan sendirian, tapi dengan cara membangun kebaikan secara bersama yaitu berwakaf pembangunan Masjid.

Barangsiapa yang membangun masjid (karena mengharap wajah Allah), Allah akan membangunkan bangunan yang semisalnya di surga,” (HR. Bukhari dan Muslim, dari ‘Utsman bin ‘Affan)

Wakaf Masjid Disini

Masjid yang dibangun akan digunakan umat Muslim untuk melaksanakan sholat, mengaji, kajian serta ibadah Muslim lainnya. Orang yang membangun Masjid tersebut akan menerima pahala seperti pahala orang yang beribadah di mas­jid itu.

  • Sedekah yang ia keluarkan dari harta ketika ia sehat dan hidup.

Banyak diantara kita ketika sedang keadaan sehat, tidak luput dari kesombongan dan lupa diri untuk berbagi kepada sesama yang membutuhkan. Kikir dan Pelit menjadi ciri khas ketika posisi hidup sedang senang, sehat, dan memiliki materi.

Padahal bersedekah ketika posisi seperti ini memiliki sebaik-baikny dalam bersedekah dan berpahala lebih besar. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa ada seseorang yang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berkata yang artinya :

“Wahai Rasulullah, sedekah yang mana yang lebih besar pahalanya?” Beliau menjawab, “Engkau bersedekah pada saat kamu masih sehat, saat kamu takut menjadi fakir, dan saat kamu berangan-angan menjadi kaya. Dan janganlah engkau menunda-nunda sedekah itu, hingga apabila nyawamu telah sampai di tenggorokan, kamu baru berkata, “Untuk si fulan sekian dan untuk fulan sekian, dan harta itu sudah menjadi hak si fulan.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 1419 dan Muslim no. 1032).

  • Sungai yang ia alirkan.

Kebutuhan air sangat krusial bagi kelangsungan kehidupan manusia. Tapi tidak semua tempat mendapatkan kebutuhan air secara baik, masih ada saja yang kekurangan air bersih. Oleh karena itu jika seseorang dapat mengalirkan atau membuat sumber air, maka akan banyak memberikan manfaat untuk digunakan segala kebutuhan kehidupan.

Air sungai yang mengalir ibarat pahala yang mengalir tiada henti. Amalan ini akan menjadi pahala jangka panjang yang tiada ada batasanya. Apalagi air sungai yang kita alirkan dimanfaatkan luas untuk kebutuhan masyarakat, dengan hal ini akan memberikan penghidupan pada orang banyak karena sumber air merupakan kebutuhan vital bagi manusia. Rasulullah SAW bersabda,

“Barangsiapa membangun sebuah sumur lalu diminum oleh jin atau burung yang kehausan, maka Allah akan mem­berinya pahala kelak di hari kiamat.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Majah).

  • Rumah bagi Ibnu Sabil (musafir yang terputus perjalanan) yang ia bangun

Setiap kebaikan yang kita lakukan untuk orang lain, akan berdampak baik pula bagi diri sendiri seperti halnya membangun rumah atau pondokan bagi orang-orang yang bepergian untuk kebaikan. Setiap kali orang yang memanfaatkannya, baik untuk berteduh sejenak atau bermalam yang kegunanaannya bukan untuk maksiat, akan mengalirkan pahala kepada orang yang membangunnya.

Sahabat, beramal jariyah atau berwakaf sangat dianjurkan meskipun hanya satu kali dalam seumur hidup. Jika kalian belum pernah berwakaf hingga sampai saat ini, yuk mulai sekarang menunaikan wakaf sebagai amal jariyah kita yang pahalanya tiada henti sampai akhirat kelak.

Wakaf Sekarang