Mengapa Harus Berbaik Sangka kepada Allah?

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Berbaik Sangka kepada Allah

Berbaik sangka kepada Allah adalah menyadari akan hikmah dibalik sebuah kejadian

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain!” [Q.S Al-Hujurat : 12]

Sahabat, setuju kah jika dikatakan bahwa salah satu ciri orang beriman adalah senantiasa dapat berprasangka baik pada Allah?

Jangan salah paham, makna berbaik sangka bukan berarti harus selalu menganggap semua makhluk akan berbuat baik pada diri kita karena Allah menyayangi kita, itu naif namanya! Bahkan Rasulullah sang Kekasih Allah sekalipun banyak memperoleh perlakuan buruk dari orang sekitarnya.

Baca Juga: Cepat Dapat Rezeki dengan Sedekah

Akan tetapi berprasangka baik itu adalah menyadari bahwa di balik setiap hal yang buruk sekalipun terkandung hikmah besar, dan selalu ada maksud baik Allah untuk diri kita, meskipun melalui kejadian yang terlihat sangat buruk dan menyakitkan.

Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa seorang mukmin sejati pastilah orang yang senantiasa mampu berprasangka baik pada Allah dalam kondisi bagaimanapun.

Lalu, apa urgensinya berprasangka baik? Mengapa kita harus mampu berbaik sangka pada Allah? Berikut ini beberapa alasan pentingnya:

1. Prasangka kita pada Allah dampaknya kembali pada diri kita sendiri!

Berbaik Sangka kepada Allah

“Aku menuruti prasangka hamba terhadapKu, jika Ia berprasangka baik terhadapKu, maka baginya kebaikan, maka jangan berprasangka terhadap Allah kecuali kebaikan!” (H.R. Bukhari)

Misalkan seseorang yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), jika ia berprasangka baik pada Allah, sikapnya akan memancarkan optimisme, “Alhamdulillah saya di-PHK, pasti Allah ingin memberikan pekerjaan yang lebih baik pada saya!”

Akan tetapi seseorang yang tidak mampu berprasangka baik, ia akan mencoba mencari kambing hitam, bukan untuk disembelih saat qurban, melainkan untuk melampiaskan prasangka buruknya pada pihak lain.

“Perusahaan dzolim! Saya sudah bekerja yang terbaik kok malah dipecat. Memang HRD nya tidak becus!”

Atau bahkan yang terburuk, manusia yang penuh prasangka negatif ini akan turut menyalahkan Allah.

“Allah bagaimana sih… Sudah tahu saya sedang butuh uang, kok saya malah dibiarkan dikeluarkan dari perusahaan!”

Bisa membayangkan dampak dari prasangka orang tersebut pada Allah?

Ketika dia mampu berprasangka baik, optimisme terpancar, maka Allah benar-benar akan memberikannya pekerjaan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Mudah bagi Allah melakukan hal ini.

Sedangkan ketika seseorang berprasangka buruk, pesimisme dan depresi akan melanda dirinya, dan Allah akan kabulkan prasangka buruknya tersebut dengan membiarkannya terus berada dalam kubangan emosi negatif, hingga ia sendiri yang mau mengubah nasibnya tersebut.

2. Prasangka baik pada Allah merupakan salah satu ibadah yang terbaik

“Sesungguhnya berprasangka baik pada Allah adalah termasuk sebaik-baiknya ibadah” (HR. Abu Daud)

Apa gunanya shalat 5 waktu, puasa Ramadhan, berqurban, berwakaf, bersedekah, akan tetapi ketika ditimpa kesusahan lalu berkata, “Allah tidak adil, saya sudah melakukan banyak kebaikan, mengapa Allah memberikan kejadian buruk ini pada hidup saya?”

Bagaimana mungkin Allah berbuat tidak adil pada hambaNya, sedangkan Allah tak memiliki keperluan apapun dari hamba-hambaNya?

Sungguh merugi orang yang tak mampu berprasangka baik pada Allah dan ketetapan-Nya.

3. Apa yang kita kira baik, sebenarnya belum tentu baik untuk kita, Allah yang lebih tahu

Kita ini bukan Tuhan yang bisa tahu masa depan, maka jangan merasa diri serba tahu apa yang terbaik untuk diri kita! Itulah sebabnya kita perlu selalu berprasangka baik pada Allah, karena memang apa yang terjadi pada hidup kita, sebenarnya selalu ada hikmah di baliknya.

“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:216)

4. Janganlah kita mati kecuali dalam kondisi berprasangka baik pada Allah

Ini adalah pesan baginda Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam yang amat mencintai umatnya:

“Janganlah salah satu di antara kalian mati, kecuali dalam keadaan berprasangka baik terhadap Allah.” (H.R. Muslim)

Maka, semoga kita mampu menjadi mukmin sejati, yang bisa selalu berbaik sangka kepada Allah, bahkan dalam kondisi yang terlihat buruk sekalipun. (SH)

Wakaf Sekarang