Berempati pada Orang Miskin

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

empati pada orang miskinSahabat pernahkah mendengar kisah berikut ini?

Ada seorang anak berasal dari keluarga kaya raya, sebutlah ia bernama Faris, tiap berangkat dan pulang sekolah selalu diantar jemput oleh sopir pribadi dengan menggunakan mobil mewah, meski jarak sekolahnya hanya beberapa kilometer saja.

Rumahnya sangat luas, hampir di tiap ruangan terpasang TV dan pesawat telepon, segala jenis permainan yang ada di toko mainan dimiliki oleh Faris di kamarnya. Segala jenis makanan mewah dan lezat pernah dicicipinya. Segala tempat yang indah di seluruh dunia pernah disinggahinya saat liburan bersama keluarga.

Suatu hari, guru di sekolahnya berinisiatif untuk mengajarkan anak-anak murid mengenai arti empati, khususnya pada orang miskin. Maka sang guru pun meminta semua anak untuk membuat tulisan mengenai kehidupan orang miskin yang begitu mengiris hati dan perlu mereka bantu.

Maka Faris pun mengerjakan tugas tersebut dengan sepenuh hati, ia mencoba menghayati kehidupan sehari-hari orang miskin sebagaimana yang diminta oleh ibu gurunya. Maka terciptalah tulisan Faris berikut ini:

Ada sebuah keluarga miskin yang hidup dengan sangat menyedihkan. Saking miskinnya keluarga tersebut, sopirnya pun orang miskin, pembantunya juga orang miskin, bahkan kolam renang di belakang rumahnya selalu kering karena mereka miskin.

Kucing peliharaan mereka sangat kurus karena miskin, mereka hanya bisa makan dengan salad, tidak ada makanan daging saking miskinnya. 

Tiap hari libur tiba, mereka tidak bisa pergi ke Eropa, hanya bisa berjalan-jalan ke Bali sekeluarga, itu pun dengan pesawat yang tiketnya berharga murah karena mereka miskin. 

Sahabat, dari kisah fiktif di atas kita bisa mengetahui betapa empati sulit dirasakan oleh orang yang belum pernah mengalaminya sendiri. Bagaimana cara menjelaskan betapa menderitanya kemiskinan pada seorang anak yang terbiasa dilayani kemewahan dari ujung kepala hingga ujung kaki, 24 jam sehari, 7 hari seminggu?

Terjawab sudah mengapa Rasulullah meskipun kaya raya namun memilih hidup sederhana. Bukankah beliau merupakan pengusaha sukses sejak muda? Bahkan setiap istrinya diberikan mahar tak kurang dari 500 dirham, yang jika dikonversikan ke Rupiah kurang lebih mencapai 40 juta untuk satu orang.

“…semuanya 500 dirham. Inilah mahar Rasulullah saw kepada para isteri beliau.” (HR. Muslim)

Akan tetapi, Rasulullah dan keluarganya justru tak pernah merasakan kenyang selama 3 hari berturut-turut.

Dan dalam satu riwayat bagi Baihaqi, (Aisyah) berkata, “Rasulullah SAW tidak pernah kenyang selama tiga hari berturut-turut. Seandainya kami menghendaki, kami bisa makan sampai kenyang, tetapi beliau suka mendahulukan orang lain atas diri beliau.”

Adakah yang bertanya-tanya mengapa Rasulullah memilih gaya hidup sebagaimana orang miskin hidup?

Tentu saja itulah bukti karakter kepemimpinan beliau yang luar biasa. Sebagai pemimpin, Rasulullah telah menunjukkan empati luar biasa terhadap umatnya, terutama orang-orang miskin.

Apakah ada cara lain yang lebih baik untuk belajar empati pada kemiskinan selain mengikuti gaya hidup orang miskin dan merasakan penderitaan yang sama dengan mereka?

Lihatlah alas tidur Rasulullah yang hanya berupa tikar dan bahkan membekas di badannya. Makanannya pun hanya terbuat dari gandum yang kasar, bahkan Rasulullah berdoa agar dirinya dikumpulkan bersama orang miskin kelak di hari kiamat.

Aisyah mendengar Rasulullah berdoa: “Ya Allah, jadikanlah gaya hidupku seperti gaya hidup orang miskin, cabutlah nyawaku dalam keadaan miskin, lalu kumpulkanlah aku pada Hari Kiamat bersama kelompok orang miskin “.

Mendengar doa itu Aisyah protes: “Mengapa engkau berdoa seperti itu wahai Rasulullah?“

Beliau menjawab: “Orang-orang miskin akan masuk Surga 40 tahun lebih awal dari pada orang-orang kaya, wahai Aisyah jangan pernah menolak orang-orang miskin meski engkau hanya bisa memberi separuh biji korma, cintailah orang miskin dan dekatkanlah mereka kepadamu agar Allah juga mendekatkanmu kepadaNYA pada Hari kiamat nanti!” ( HR.Tirmidzi, Baihaqi dan Mundziri )

Sahabat, dibandingkan dengan cara berempati Rasulullah yang begitu dahsyat terhadap orang miskin, apa yang kita lakukan mungkin bukanlah apa-apa. Bisa jadi kita justru meminta agar Allah menjauhkan kita dari kemiskinan, saking takutnya menderita di dunia.

Namun demikian, tetap saja ada hal-hal yang perlu kita lakukan agar bisa berempati dengan orang miskin dan mengasihi serta menyantuni mereka selama hidup kita, di antaranya adalah dengan memperbanyak berpuasa, bukankah perut kita terlalu sering dipenuhi oleh rasa kenyang?

Semoga Allah memberikan kita rasa cinta terhadap orang miskin, mau mendekat pada orang-orang miskin, agar kita pun semakin mendekat padaNya. (SH)

Wakaf Sekarang