Bergantung pada Allah

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

bergantung pada allah“Allah adalah Rabb yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (QS. al-Ikhlash: 2)

Sahabat, sudahkah kita bergantung sepenuhnya pada Allah? Atau, apakah kita masih merasa segala kesuksesan yang kita raih, kenikmatan yang kita peroleh adalah disebabkan kepandaian dan jerih payah kita sendiri?

Jadilah laksana bayi di hadapanNya! Lihatlah bagaimana kelakuan bayi yang lemah, tak berdaya, selalu merengek untuk meminta apapun pada ibundanya, dan yang terpenting… Selalu bergantung pada sang ibunda bagaimana pun kondisinya.

Adakah bayi yang bisa mengurus dirinya sendiri? Adakah bayi yang bisa menyombongkan diri? Adakah bayi yang bisa terus hidup tanpa campur tangan orang lain untuk mengurusnya? Tidak ada!

Bayi benar-benar menggantungkan semua kebutuhannya pada orang lain, dalam hal ini adalah ibundanya. Makan, minum, mandi, membersihkan diri dari kotoran, melindungi dari dari sengatan matahari, dan segala aktivitas sang bayi, hampir 100% dilayani oleh sang ibunda.

Adakah ibunda baik hati yang menelantarkan bayinya? Adakah ibunda yang penuh kasih sayang namun bosan melayani kebutuhan bayinya? Adakah ibunda perkasa yang enggan melindungi bayinya? Tentu tidak!

Maka, jika bayi saja mengerti untuk bergantung penuh pada kasih sayang ibundanya, mengapakah kita kalah dari sesosok mungil makhluk ini?

Sedangkan Allah, kasih sayangnya pada seorang hamba jauh lebih besar daripada seorang ibu pada anaknya. Keperkasaan dan kelembutanNya jauh lebih dahsyat dari ibunda mana pun di dunia ini. Mengapa kita ogah meniru bayi dalam bergantung padaNya?

Mengapa kita tak mau merengek kasih sayang Allah di saat kesulitan mendera? Kita selalu merasa kuat dan mampu menghadapi cobaan apapun, meminta pertolongan Allah hanya sekadar basa-basi saja, nyatanya kita tak sepenuhnya menyandarkan segala urusan padaNya. Bahkan kita lebih sering bergantung pada manusia.

Sahabat, ketika dicoba dengan penyakit, apakah hati kita memasrahkan diri pada kehendak Allah, ataukah mempercayakan semua pada diagnosa dan resep dari dokter?

Bukan berarti menafikan ikhtiar pengobatan, akan tetapi ikhtiar merupakan kewajiban fisik, sedangkan tawakal merupakan kewajiban hati. Apakah kita bisa bertawakal pada Allah sebagaimana seorang bayi mungil memasrahkan diri untuk dirawat ibundanya ketika sakit?

Lalu, misalnya ketika tanggal jatuh tempo utang telah tiba, apakah hati kita sepenuhnya meminta bantuan Allah dan memasrahkan diri pada ketentuanNya, ataukah hati kita disibukkan dengan banting tulang sana-sini, jual barang ini-itu, hubungi teman kanan-kiri, untuk melunasi utang tersebut? Sadarkah bahwa dengan melakukan hal-hal demikian, seolah kita menggantungkan diri pada sesama makhluk? Na’udzubillah.

Ibnul Qayyim telah membuat perumpamaan berikut: “Perumpamaan orang yang bergantung kepada selain Allah itu laksana orang yang berteduh dari dingin dan panas dengan sarang laba-laba, yang merupakan selemah-lemahnya rumah.” (Madârij as-Sâlikîn, jilid 1, hlm. 492)

Sahabat, semoga kita menyadari kekeliruan dan segera memperbaikinya dengan bergantung sepenuhnya pada Allah semata, sebagaimana seorang bayi yang tak dapat hidup tanpa kasih sayang dari ibundanya.

Hai manusia, kamulah yang sangat butuh kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)

Mudah-mudahan Allah menghilangkan kesombongan dalam hati kita, dan menjadikan hati kita tunduk merendah dan senantiasa bersandar padaNya. (SH)

Wakaf Sekarang