Skip to content

Arti Metaverse: 5 Catatan Merah Sebagai Kehidupan Virtual

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Apa itu Metaverse?

pengertian dan arti apa itu metaverse

Mark Zuckerberg mengumumkan Facebook berubah nama menjadi metaverse pada Oktober 2021. Tak tanggung-tanggung, ia berinvestasi untuk menciptakan lingkungan virtual yang besar. Di masa depan, manusia bukan hanya melihat dunia maya melalui layar gawai, tetapi ada wujud virtual layaknya dunia nyata.

Alang (2021) dalam Thestar.com memberikan definisi bahwa metaverse adalah lapisan antara diri Anda dan kenyataan dengan menggabungkan augmented dan virtual reality. Lebih mudahnya, ada kehidupan kedua di dunia maya.

Mengutip dari Muhammet Damar (2021), konsep ini bukanlah hal baru, melainkan pertama kali muncul pada tahun 1992 dalam sebuah karya fiksi berjudul Snow Crash oleh Neal Stephenson. Dalam novel ini, penulis mendefinisikan metaverse sebagai lingkungan virtual yang besar. Metaverse sebagai ruang virtual bersama menggabungkan realitas virtual, augmented reality (AR), dan internet.

Metaverse di Perkantoran

emarketer.com memprediksi metaverse menjadi kosakata populer di tahun 2022 karena beberapa perusahaan besar menyusun rencana untuk pembangunan dunia virtual. Contohnya yaitu Microsoft yang akan membuat layanan metaverse pertama bernama ‘Mesh’. Para karyawan akan dapat membuat avatar masing-masing yang bisa menghadiri rapat virtual di kantor dunia metaverse.

Lalu, virtualisasi bukan hanya populer di industri teknologi, tetapi juga sudah merambah ke dunia musik, seperti Korea Selatan. Negara ginseng tersebut memiliki ambisi untuk mengembangkan metaverse di industri musik hingga administrasi.

Apa Dampaknya? 

Pandemi Covid-19 di seluruh dunia membuat banyak orang harus adaptasi dengan digital dan teknologi. Membangun dunia virtual memang perlu waktu bertahun-tahun, meskipun begitu gejolaknya akan semakin terasa sejak Mark mengubah nama Facebook menjadi Meta. Apa saja yang berubah dan penting untuk menjadi perhatian?

1. Bekerja WFH, Remote, atau Hybrid

Microsoft meluncurkan pernyataan bahwa hybrid menjadi disrupsi terbesar selanjutnya setelah bekerja remote. Dalam survey yang dilakukan terhadap lebih dari 30.000 orang di 31 negara, perusahaan menemukan bahwa 70% pekerja masih ingin melanjutkan kerja fleksibel, lalu 65% ingin bekerja tatap muka dan bertemu rekan kerjanya.

Riset menunjukkan perusahaan perlu menemukan cara baru untuk meningkatkan kolaborasi dan kesejahteraan karyawan, seperti menerapkan metode hybrid.

Jika tidak berbenah, maka akan berdampak pada turn over karyawan. Pandemi menjadi pemantik munculnya kebutuhan bekerja dari rumah (WFH) atau menggabungkan daring dan luring (WFH dan WFO).

Meskipun pandemi melandai, karyawan tetap membutuhkan bekerja dari mana saja dengan harapan memperoleh kesejahteraan, kesehatan mental, pengembangan keahlian, irit ongkos, hingga rasa aman.

2. E-learning Semakin Populer

E-learning menjadi salah satu kata kunci populer di masa pandemi. E-learning dapat diberikan oleh sekolah, mencari materi di internet secara mandiri, atau berlangganan bimbingan belajar (bimbel) daring.

Selain itu, webinar juga masih menjadi pilihan prioritas meskipun pandemi melandai. Selain menghemat waktu, webinar juga menghemat pengeluaran untuk penyelenggara dan peserta. Peserta dapat melihat pameran pendidikan secara virtual yang interaktif dan tidak membutuhkan kertas brosur karena ada informasi versi pdf.

Meskipun begitu, tidak semua negara dan penduduknya memiliki akses ke teknologi yang lengkap. Bagaimanapun, tidak ada teknologi yang dapat menggantikan kualitas dan kasih sayang guru saat mengajar secara fisik.

3. Sistem Kesehatan

Peneliti juga mengkaji apakah sistem kesehatan memungkinkan untuk dikonversi ke metaverse. Pandemi berkepanjangan membuat tenaga kesehatan perlu menemukan cara baru untuk mengobati pasien non covid. Jane Thomason (2021) menjabarkan tenaga kesehatan dapat bertemu tatap muka dengan pasien tanpa alat konferensi yang ribet. Selain itu, metaverse dapat menjadi solusi untuk mengatasi kekurangan tenaga kesehatan.

Contoh terdekat saat ini yaitu konsultasi dan memesan obat melalui aplikasi telemedicine. Dokter menjadi mitra, lalu pasien dapat bercerita tentang keluhannya dari kolom chat konsultasi. Pembayaran dapat dilakukan melalui transaksi digital, seperti dompet digital.

4. Keuangan dan Investasi

Ngobrolin metaverse rasanya tidak lengkap jika tidak ada keuangan dan investasi. Meskipun masih banyak ide fiksi atau khayalan,  Nida Gökçe Narin (2021)  menjabarkan kalau metaverse telah diterima di banyak bidang sebagai masa depan internet. Lingkungan virtual tersebut menggunakan Non-Fungible Token (NFT), kripto, dan blockchain sebagai alat pembayaran.

NFT adalah aset digital dengan teknologi blockchain yang sedang populer di bidang kripto. Baru-baru ini, NFT memungkinkan digunakan untuk menjual tanah, membeli dan menjual produk digital di metaverse.

Mungkinkah Wakaf Berkembang ke Metaverse?

Melihat NFT dapat digunakan untuk membeli aset, coba Sahabat bayangkan mungkinkah wakaf dapat digunakan di lingkungan virtual seperti metaverse? Ustadz Izzuddin Abdul Manaf, Lc., M.A., Ph.D selaku dewan syariah Dompet Dhuafa mengatakan bahwa dalam sistem ekonomi, maka harus ada keseimbangan (rebalancing) dan evaluasi.

 

Baca juga: 4 Catatan Penting Trading Forex Haram Menurut Islam 

 

Karena Metaverse adalah dunia tanpa batas (unlimited) yang terus berkembang, maka perlu regulasi baru dan kuat untuk meminimalisir spekulasi. Sementara, saat ini belum ada undang-undang kuat untuk mengatur kripto. Maka dari itu Majelis Ulama Indonesia (MUI) menurunkan fatwa haram terhadap kripto karena belum ada regulasinya.

Salah satu turunan kripto adalah social crypto. Di sisi lain, Ustadz Izzuddin pada Halaqah Syariah 2021 (26/11) menyebutkan bahwa kripto sosial adalah keniscayaan teknologi yang akan digunakan sehari-hari,

Social crypto merupakan sebuah keniscayaan teknologi yang nanti sehari-hari akan kita dapatkan. Fungsiya untuk mengukur kehidupan kita sehari hari bagaimana itu bisa kita nilaikan. Contoh, kripto dapat mengukur durasi perjalanan ambulance dan durasinya bisa diuangkan dengan teknologi blockchain,” ujarnya.

Dampak Buruk Metaverse

Dibalik keunggulan metaverse, terdapat catatan merah yang sangat perlu diperhatikan oleh pengguna dan stakeholder. Melansir katadata, mantan CEO Google, Eric Schmidt menuturkan kalau teknologi metaverse dapat berdampak buruk bagi manusia. Efeknya berpotensi menimbulkan stress tinggi, seperti:

1. Belum tentu memahami manusia seutuhnya

Perkembangan teknologi bagaikan dua mata pisau, yaitu memudahkan dan menyulitkan. Bagian tersulitnya yaitu secanggih apapun teknologi, belum tentu dapat memahami manusia seutuhnya. Akibatnya, manusia menjadi rentan merasa kesepian.

Schmidt memaparkan, kecerdasan buatan (AI) adalah dewa raksasa palsu yang menciptakan hubungan yang tidak sehat dan parasosial.

2. Metaverse bikin lupa kehidupan nyata

Game dan produk teknologi lainnya terasa asik sampai akhirnya manusia lupa masih memiliki kehidupan fisik yang nyata. Sejatinya, manusia adalah makhluk sosial yang perlu interaksi.

Pandemi menimbulkan ketergantungan pada layar gawai yang menyebabkan stres tinggi karena tubuh kurang istirahat.

Salah satu cara rehat yaitu pertemuan tatap muka. Terlalu banyak terpapar teknologi dan internet akan menciptakan kebahagiaan yang semu.

3. Malware akan semakin marak

Ketika gawai terinfeksi Malware, maka dokumen akan otomatis terkunci, lalu butuh password untuk membukanya.  Agar dokumen bebas dari virus, hacker menyandera dunia virtual seseorang untuk meminta tebusan.

Sebelumnya, malware dapat diidentifikasi menyusup dari email, sms, atau telepon. Akan tetapi, di lingkungan virtual Malware akan semakin canggih dan sulit diprediksi.

4. Pencurian data

Facebook terkenal dengan track record kebocoran data privasi. Pencurian data akan semakin mengerikan karena identitas seseorang dapat diketahui dari kontak virtual atau avatarnya.

5. Perundungan (bullying) makin marak

Adanya ‘kembaran’ virtual dalam bentuk avatar meningkatkan perundungan di dunia virtual. Saking mudahnya berinteraksi di dunia yang seakan-akan nyata, bukan tidak mungkin pembullian mengarah ke fisik. Akibatnya, seseorang bisa merasa minder hingga kesehatan mental memburuk.

Itulah arti hingga dampak baik dan buruk industri virtual. Digital dan teknologi adalah dunia yang dinamis. Apa yang menjadi tren saat ini, belum tentu berlaku di masa depan.

Anda masih menjajaki dunia nyata, maka pilihlah investasi yang sudah pasti terlihat wujud balik modalnya di dunia dan akhirat, seperti wakaf. Wakaf mendatangkan manfaat berkelanjutan bagi penerima manfaat dan Sahabat wakif yang mewakafkan hartanya.

Investasi amanah, jelas dan terpercaya dengan berwakaf di Dompet Dhuafa. Portofolio Dompet Dhuafa untuk membentang kebaikan wakaf mengurangi kekhawatiran Anda untuk investasi. Yuk, cek di tautan ini sekarang juga!

 

Wakaf Sekarang