Dahsyatnya Pahala Mencari Nafkah

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

pahala mencari nafkah“Memangnya jihad di jalan Allah itu hanya yang terbunuh (dalam perang) saja? Siapa yang bekerja untuk menghidupi orang tuanya, maka dia di jalan Allah, siapa yang berkerja menghidupi keluarganya maka dia di jalan Allah, tapi siapa yang bekerja untuk bermewah-mewahan (memperbanyak harta) maka dia di jalan thaghut.” (HR Thabrani)

Sahabat, mengapa harus minder jika kita banyak menghabiskan waktu untuk mencari nafkah? Selama dalam koridor pekerjaan halal dan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, sungguh hal ini bisa termasuk jihad di jalan Allah.

Sayangnya, banyak yang salah paham mengenai hal ini, bekerja keras dianggap sebagai bentuk cinta dunia. Tentu saja hal ini bisa dibenarkan jika hasil jerih payah pekerjaan kita hanya habis untuk berfoya-foya dan bermaksiat pada Allah.

Akan tetapi jika kita menggunakan hasil kerja untuk memberi makan anak-istri, orangtua, karib kerabat, serta menjadikan keluarga kita terjauh dari sifat meminta-minta dan mengemis pada orang lain, sungguh bekerja merupakan hal yang mulia.

Baca Juga: Kenapa Wakaf Termasuk Amalan Sedekah Jariyah?

Ketika bekerja, tentu saja kita mendayagunakan segala keterampilan yang dimiliki untuk memberi manfaat, minimal bermanfaat untuk perusahaan. Namun jangan berhenti sampai di sana, bekerjalah dengan kontribusi terbaik, bekerja sepenuh hati bukan sekedar sepenuh gaji, karena sesungguhnya Allah menyukai hambaNya yang profesional dan bekerja keras dengan keterampilan yang dimiliki tersebut:

“Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional atau ahli).  Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla.” (HR. Ahmad)

Dalam Islam, mencari nafkah yang halal merupakan salah satu kewajiban setiap muslim, sebagaimana shalat 5 waktu, berpuasa dan berzakat.

“Mencari rezeki yang halal adalah wajib sesudah menunaikan yang fardhu (seperti shalat, puasa, dll).” (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)

Maka amatlah zalim orang yang tidak mau bekerja mencari nafkah dengan alasan agar dapat banyak beribadah pada Allah mengikuti berbagai pengajian, forum dzikir, dan lain sebagainya, sehingga nafkah untuk keluarganya terbengkalai. Padahal nafkah yang diberikan untuk keluarga sendiri terhitung sebagai ibadah sedekah meski hanya berupa suapan makanan untuk istri dan anak, hal ini bisa memancing keridhoan Allah pada diri kita:

Harta yang dikeluarkan sebagai makanan untukmu dinilai sebagai sedekah untukmu. Begitu pula makanan yang engkau beri pada anakmu, itu pun dinilai sedekah. Begitu juga makanan yang engkau beri pada istrimu, itu pun bernilai sedekah untukmu. Juga makanan yang engkau beri pada pembantumu, itu juga termasuk sedekah.” (HR. Ahmad 4: 131. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan mengenai pahala sedekah untuk keluarga, “Sebagian orang tatkala bersedekah untuk fakir miskin atau yang lainnya maka mereka merasa bahwa mereka telah mengamalkan amalan yang mulia dan menganggap sedekah yang mereka keluarkan itu sangat berarti. Adapun tatkala mengeluarkan harta mereka untuk memberi nafkah kepada keluarganya maka seakan-akan perbuatan mereka itu kurang berarti, padahal memberi nafkah kepada keluarga hukumnya wajib dan bersedekah kepada fakir miskin hukumnya sunnah. Dan Allah lebih mencintai amalan wajib daripada amalan sunnah.” (Sebagaimana penjelasan beliau dalam Riyadhus Shalihin)

Sahabat, selain memperoleh pahala yang amat dahsyat, bekerja susah payah mencari nafkah pun dapat menghapus dosa yang tak dapat terhapus oleh amalan wajib lainnya. Lantas apakah yang menghalangi kita untuk bekerja sebaik-baiknya sebagai bukti jihad di jalan Allah?

“Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan shalat”. Maka para sahabat pun bertanya: “Apakah yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: ”Bersusah payah dalam mencari nafkah.” (HR. Bukhari)

Baca Juga: Cepat Dapat Rezeki dengan Meningkatkan Jumlah Sedekah

Jadi, nikmatilah lelahnya mencari nafkah untuk keluarga, mudah-mudahan Allah meridhoi setiap langkah yang kita tapaki, setiap keringat yang jatuh, setiap pikiran, dan setiap kelelahan sendi tubuh yang kita rasakan saat bekerja. Dengan begitu insya Allah, Allah akan memberikan pahala bagi orang yang mencari nafkah.

“Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya ketrampilan kedua tangannya pada siang hari maka pada malam itu ia diampuni oleh Allah.” (HR. Ahmad)

Selamat bekerja! Semangat bekerja! (SH)

Wakaf Sekarang