Dulu, setiap pagi, santriwati Pondok Modern Al Basthah di Desa Sebukat, Kecamatan Pangkalan Banteng, Kabupaten Kotawaringin, Kalimantan Tengah, turun ke sungai dengan ember di tangan. Berdiri di atas jembatan kayu sederhana yang menjorok ke air berwarna kecoklatan, mereka mengambil air yang digunakan untuk mandi, mencuci, bahkan kebutuhan dasar sehari-hari.
Bukan air bersih, namun saat itu, itulah satu-satunya pilihan yang mereka punya.
Rutinitas itu berlangsung nyaris tanpa jeda, mengikuti jadwal harian pondok yang padat. Sebelum mengaji, sebelum kelas pagi dimulai, 40 santriwati Al Basthah harus lebih dulu menuntaskan urusan air. Warna sungai yang keruh bukan penghalang. Bagi mereka, itu sudah menjadi bagian dari keseharian yang dijalani bertahun-tahun.
Kondisi serupa juga dirasakan warga sekitar pondok. Setidaknya 75 warga turut menggantungkan kebutuhan air harian pada sumber yang sama, menjadikan krisis air bersih di kawasan ini bukan hanya persoalan santriwati, melainkan persoalan bersama satu kampung.
Ketika Air Bersih Menjadi Kemewahan
Di banyak tempat, air mengalir begitu saja dari keran. Namun bagi penghuni Pondok Modern Al Basthah, air bersih adalah sesuatu yang harus diperjuangkan setiap hari. Mereka menjalani rutinitas belajar dan menghafal, namun harus menyisihkan tenaga dan waktu untuk urusan yang semestinya sederhana: mendapatkan air layak pakai.
Kondisi itu turut memengaruhi kualitas kesehatan dan kenyamanan belajar. Air sungai yang tidak melalui proses penjernihan membawa risiko tersendiri, mulai dari gangguan kulit hingga penyakit yang berkaitan dengan sanitasi.
Ikhtiar yang Kini Rampung
Menjawab kondisi tersebut, dibangun sistem produksi air baku dengan sumur bor sedalam 50 meter, dilengkapi pompa submersible dan tower air berstruktur kayu ulin, menopang dua unit toren berkapasitas 2.200 liter.
Pemilihan kayu ulin bukan tanpa alasan. Material ini dikenal tahan terhadap cuaca ekstrem dan kelembapan tinggi, karakter yang umum dijumpai di wilayah Kalimantan Tengah. Sementara pompa submersible bekerja menarik air dari sumur ke permukaan, memastikan pasokan air baku dapat mengalir ke dua toren penampung sebelum didistribusikan ke lingkungan pondok.
Kini, seluruh rangkaian sistem telah rampung dibangun dan telah 100 persen dapat digunakan. Tower kayu ulin berdiri kokoh, dua toren telah terpasang penuh, dan pompa submersible mengalirkan air bersih ke penjuru pondok setiap hari.
Jembatan kayu tempat para santriwati dulu mengambil air kini hanya jadi jalan lintas biasa. Ember yang dulu wajib dibawa setiap pagi, kini tinggal cerita.
Baca Juga : Sumur Wakaf Dompet Dhuafa Akhiri Krisis Air di Desa Setokok Batam
Amanah yang Telah Sampai
Pembangunan ini merupakan bagian dari program wakaf air Dompet Dhuafa untuk kawasan-kawasan yang mengalami krisis air bersih, termasuk pesantren-pesantren di wilayah terpencil.
Bagi santriwati Al Basthah dan warga Desa Sebukat, keberadaan sistem air ini bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah penanda bahwa rutinitas turun ke sungai dengan ember di tangan kini benar-benar telah menjadi bagian dari masa lalu.









