Edi Setiawan: ‘Malaikat Penolong’ Itu Bernama LKC

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Terserang sindrom nefrotik , penjual telur dadar keliling Edi Setiawan pun terjungkal. Sekujur tubuhnya membengkak, stamina pun nge-drop, badan terasa kaku-kaku sulit digerakkan. Edi tak mengira, penyakitnya cukup parah.

Tak cukup diobati dengan obat-obat di warung tetangganya. Sindrom nefrotik adalah penyakit kelainan ginjal yang mengakibatkan beredarnya protein di luar jaringan pembuluh darah. Penjaja telur goreng yang mangkal di SDN 01-05 Ulujami itu, mencoba melawan penyakitnya dengan berobat ke Puskesmas. Sayangnya, pihak Puskesmas tak mau menyampaikan fakta parahnya penyakit Edi. “Kata yang memeriksa, ginjal dan liver saya normal,” ujar pria kelahiran 10 Februari 1987 yang nampak masih tergolek lemah di bangsal LKC ini kepada Tawadu. Tapi kenapa, kian hari tubuhnya membengkak?

Kali kedua, ia diantar istrinya ke Puskesmas yang lain. Hasilnya, pihak Puskesmas menyarankan suami dari Lisa yang dinikahinya 20 Maret 2009 harus ke rumah sakit besar, supaya dioperasi. Sepasang sejoli yang baru menikmati indahnya pernikahan selama setahun itu pun bingung. Kalau harus operasi, darimana biayanya? Untuk berobat ke Puskesmas saja selama ini hartanya sudah ludes. Televisi, setrika, kipas angin, sudah pindah ke tangan orang lain, demi mendapatkan biaya berobat. “ Yah, memang cuma itulah harta kami dari hasil berdagang telur dadar keliling,” ungkap pria asal Brebes yang merantau ke Jakarta sejak kecil ini. Untuk menutupi kebutuhan lainnya, pasutri itu terpaksa berhutang.

Maka ketika hartanya sudah habis, sementara ia diharuskan operasi, Edi pun semakin bingung. Mana kini dirinya sudah berstatus seorang suami dan ayah dari Aditya Alrofi, yang lahir 27 Mei 2010. Lisa, istrinya, hanya bisa menangis, melihat pencari nafkah diri dan anaknya, terkapar di kamar tidur, tak sanggup lagi keliling jualan telur.

Syukurlah, akhirnya kabar akan adanya ‘malaikat penolong’ datang dari pamannya, Safar. “ Cobalah berobat ke LKC di Ciputat. Saya dulu pernah berobat kesana, dan sembuh,” sarannya. Biayanya? “ Gratis,” jawab Safar. Edi sempat tak percaya, kok ada rumah sakit gratis. Safar meyakinkan keponakannya itu, berobat ke LKC bukan saja semuanya gratis, tetapi layanan dokternya, susternya pun memuaskan. “Mereka ramah dan sigap,” kata Safar yang pernah sakit dengan gejala kencing keluar darah itu. Dengan perasaan agak masygul, Edi pun berangkat ke Ciputat. Ongkos transpornya, pinjam dari keluarganya. Sebelum diterima di LKC, sesuai saran Safar, Edi dibantu istri dan orangtua, menyiapkan surat-surat yang diperlukan: kartu keluarga, ktp, dan surat keterangan tak mampu dari kelurahan setempat.

Sesampai di LKC, Jumat, 23 Juli 2010, tanpa banyak ribet Edi langsung mendapatkan penanganan medis. Saat ditemui Tawadu, kondisi Edi sudah mulai membaik. Tubuhnya yang membengkak parah, sudah mulai pulih. Ia juga sudah mulai bisa berjalan lagi tanpa harus tertatih-tatih. Hanya betisnya yang masih agak besar dan wajahnya yang pucat.

Dokter umum LKC dr. Kartikasari Widuri, menyatakan pasien Edi insya Allah bisa pulih dalam tempo sekurang-kurangnya 10 sejak ia dirawat di LKC. “ Ketika baru datang, kadar protein dalam tubuhnya hanya satu gram per desi liter. Kalau kadarnya sudah 3 sampai 3,5 gram per desi liter, pasien Edi sudah diperbolehkan pulang,” ujar dr. Kartika yang menyatakan kadar protein manusia sehat normalnya adalah 4-6 gram/desi liter. Apakah LKC bisa menangani Edi sampai sembuh? “ Insya Allah bisa. Tidak perlu itu operasi,” ujar dokter yang baru bergabung dengan LKC enam bulan yang lalu itu. [ajm]

__________________________________________________________

Keterangan : Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) merupakan lembaga non profit jejaring Dompet Dhuafa Republika khusus di bidang kesehatan yang melayani kaum dhuafa secara paripurna melalui pengelolaan dana sosial masyarakat (ZISWAF- Zakat, Infak, Sedekah dan wakaf) dan dana sosial perusahaan.

TWI mengalihstatuskan lahan dan gedung LKC yang sebelumnya dibangun dengan dana zakat, infak dan sodakoh, menjadi dana wakaf. Dengan sistem terhutang, TWI kini diwajibkan membayar sejumlah wakaf tunai atau surplusnya dari para wakif secara bertahap kepada holdingnya, Dompet Dhuafa.

Wakaf Sekarang