Fantastis, 7 Sahabat Nabi Penghafal Al-Quran dan Doanya!

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

7 sahabat nabi penghafal al quran

Para sahabat nabi penghafal Al Quran mengabadikan kalam ilahi di dalam sanubari dan pikirannya dengan cara menghafal ayat suci. Di sisi lain, Umar bin Khattab, salah satu sahabat Rasulullah SAW, sangat perhatian kepada Al Quran. Maka dari itu, munculah para penghafal Al Quran termahsyur di kalangan sahabat nabi. Tindakan dan caranya dapat menjadi inspirasi untuk Sahabat Dompet Dhuafa di Hari Santri, tanggal 22 Oktober ini. Yuk, kenalan lebih jauh dengan tujuh sahabat nabi yang populer sebagai penghafal Al-Quran:

1. Utsman bin Affan, Sahabat Nabi Penghafal Al-Quran yang Dermawan

Utsman bin Affan, sahabat nabi penghafal Al Quran yang dermawan

Utsman bin Affan merupakan sahabat nabi terkaya dan dermawan. Jika dikonversi, nilai kekayaannya mencapai Rp 2.532.942.750.000 yang ia sumbangkan untuk wakaf sumur supaya masyarakat Madinah tidak sulit mencari air saat kekeringan. Selain sibuk urusan duniawi, beliau juga tekun menanam pahala akhirat dengan menjadi penghafal Al Quran. Karena kecintaannya dengan Al Quran, pada masa pemerintahannya, ia memelopori penghimpunan Al Quran menjadi mushaf, lalu ia bagikan di beberapa kota.

Khalifah dengan julukan dua pemilik cahaya atau Dzu An-nurain masuk Islam berkat ajakan Abu Bakar As-Siddiq.  Utsman pun termasuk dalam golongan Assabiqunal Al-Awwalun atau orang-orang yang memeluk Islam di masa awal-awal kenabian. Ketekunannya dalam mendalami Al Quran mendapatkan pujian dari Ali bin Abi Thalib, ia berujar,

“kalaulah Utsman tak melakukannya, maka pasti akan kulakukan,” 

Dengan demikian, Utsman juga termasuk salah satu sahabat nabi yang dijamin masuk surga. Prestasi cemerlang lainnya yaitu Utsman bin Affan berhasil menyatukan Al Quran yang bersifat tujuh jenis huruf atau dialek, sehingga umat Islam terhindar dari perpecahan umat.

Baca juga: Inilah 6 Sikap Teladan Utsman bin Affan Sebagai Sosok Ideal

Sayangnya, di akhir masa kekhalifaannya pada 35 Hijriyah, terjadi kekacauan dan timbul fitnah pada pemerintahannya. Rumahnya dikepung oleh pemberontak selama 40 hari hingga akhirnya ada yang menyelinap masuk melalui cerobong rumahnya untuk membunuh Utsman. Seketika, beliau wafat saat membaca Al Quran pada usia 82 tahun, 17 Juni 656 M di Madinah.  `

2. Ali bin Abi Thalib, Menghafal Al-Quran dengan Tekun

Ali bin Abi Thalib Sahabat Nabi Penghafal Al Quran

Setelah Utsman wafat, Ali menggantikan dirinya menjadi khalifah. Beliau juga dikenal sebagai sosok penghafal Al- Quran yang kuat, cerdas, dan termasuk orang-orang yang masuk Islam di usia belia. Ali bin Abi Thalib menumpahkan kecintaannya kepada Al Quran dengan menghafal ayat demi ayat di kehidupannya. Ia menjunjung prinsip zuhud, wara, dan selalu beramal untuk keridhaan Allah SWT. Kepiawaiannya dalam mengafal Al Quran mengundang decak kagum Abu Abdurrahman as-Sulmi hingga berkata,

“aku tidak pernah melihat seorang yang lebih pandai dalam al-Qur’an daripada Ali”.

Doa Sahabat Nabi Penghafal Al-Quran agar Lancar

Sebagai manusia, Ali pun pernah menemukan kesulitan saat menghafal Al Quran. Mengutip dari Republika, Rasulullah SAW  mengajarkan doa agar Ali bin Abi Thalib KAW mudah menghafalnya, yaitu:

اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي بِتَرْكِ الْمَعَاصِي أَبَدًا مَا أَبْقَيْتَنِي وَارْحَمْنِي أَنْ أَتَكَلَّفَ مَا لَا يَعْنِينِي وَارْزُقْنِي حُسْنَ النَّظَرِ فِيمَا يُرْضِيكَ عَنِّي اللَّهُمَّ بَدِيعَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ وَالْعِزَّةِ الَّتِي لَا تُرَامُ أَسْأَلُكَ يَا أَللَّهُ يَا رَحْمَنُ بِجَلَالِكَ وَنُورِ وَجْهِكَ أَنْ تُلْزِمَ قَلْبِي حِفْظَ كِتَابِكَ كَمَا عَلَّمْتَنِي وَارْزُقْنِي أَنْ أَتْلُوَهُ عَلَى النَّحْوِ الَّذِي يُرْضِيكَ عَنِّيَ اللَّهُمَّ بَدِيعَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ وَالْعِزَّةِ الَّتِي لَا تُرَامُ أَسْأَلُكَ يَا أَللَّهُ يَا رَحْمَنُ بِجَلَالِكَ وَنُورِ وَجْهِكَ أَنْ تُنَوِّرَ بِكِتَابِكَ بَصَرِي وَأَنْ تُطْلِقَ بِهِ لِسَانِي وَأَنْ تُفَرِّجَ بِهِ عَنْ قَلْبِي وَأَنْ تَشْرَحَ بِهِ صَدْرِي وَأَنْ تَغْسِلَ بِهِ بَدَنِي فَإِنَّهُ لَا يُعِينُنِي عَلَى الْحَقِّ غَيْرُكَ وَلَا يُؤْتِيهِ إِلَّا أَنْتَ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ

“Allaahummarhamnii bitarkil ma’aashii abadan maa abqaitanii, war hamnii an atakallafa maa laa ya’niinii, warzuqnii husnan nazhari fiimaa yurdhiika ‘annii. allaahumma badii’as samaawati wal ardhi dzal jalaali wal ikraam, wal ‘izzatil latii kaa turaamu. as-aluka yaa allaahu, yaa rahmaanu bi jalaalika wa nuuri wajhika an tulzima qalbii hifzha kitaabika kamaa ‘allamtanii, warzuqnii an atluwahu ‘alan nahwilladzii yurdhiika ‘annii. allaahumma badii’as samaawaati wal ardhi, dzal jalaali wal ikraam, wal ‘izzillatii laa turaam, as-aluka yaa Allaahu, yaa Rahmaanu bi jalaalika wa nuuri wajhika an tunawwira bikitaabika basharii wa an tudhliqa bihi lisaanii, wa an tufarrij bihi ‘an qalbii, wa an tasyrah bihi shadrii, wa an taghsil bihi badanii. fainnahu laa yu’iinunii ‘alal haqqi ghairuka, wa laa yu`tiihi illaa anta, wa laa haula wa laa quwwata illaa bika al ‘aliyyil ‘azhiim.”

Arti dari Doa untuk Menghafal Al Quran 

“Ya Allah, rahmatilah aku untuk meninggalkan kemaksiatan selamanya selama Engkau masih menghidupkanku, dan rahmatilah aku untuk tidak memperberat diri dengan sesuatu yang tidak bermanfaat bagiku, berilah aku rezeki berupa kenikmatan mencermati perkara yang mendatangkan keridhaanMu kepadaku.

Ya Allah, wahai Pencipta langit dan bumi, wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan serta keperkasaan yang tidak mungkin bisa dicapai oleh makhluk.

Aku memohon kepadaMu ya Allah, wahai Dzat yang Mahapengasih, dengan kebesaran-Mu dan cahaya wajah-Mu agar mengawasi hatiku untuk menjaga kitab-Mu, sebagaimana Engkau telah mengajarkannya kepadaku, dan berilah aku rezeki untuk senantiasa membacanya hingga membuat-Mu ridha kepadaku.

Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, Dzat yang memiliki kebesaran, kemulian dan keperkasaan yang tidak mungkin diinginkan oleh makhluk.

Aku memohon kepada-Mu ya Allah, wahai Dzat yang Mahapengasih, dengan kebesaranMu dan cahaya wajah-Mu agar Engkau menyinari hatiku dan membersihkan badanku, sesungguhnya tidak ada yang dapat membantuku untuk mendapatkan kebenaran selain Engkau, dan juga tidak ada yang bisa memberi kebenaran itu selain-Mu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi dan Maha-agung.”

3. Abu Darda, Sahabat Nabi Penghafal Al-Quran dan Perawi

Abu Darda, penghafal dan periwayat hadits

Sahabat nabi penghafal Al-Quran selanjutnya adalah Abu Darda. Beliau seorang hafidz yang bijaksana sekaligus telaten dalam mengumpulkan ayat-ayat Al Quran menjadi mushaf. Mushaf yang ia bagikan menjadi sumber bagi para pembaca di Damaskus. Kearifannya membuat ia disegani setiap menjadi imam di masjid di Damaskus. Ribuan orang mengelilinginya untuk belajar Al Quran. Supaya efisien, ia membagikan kelompok berisi 10 orang dan memilih 1 ketua untuk setiap kelompok.

Baca juga: Dari Sumur ke Hotel: 14 Abad Wakaf Abadi Utsman bin Affan

Anggota kelompok belajar Al Quran kepada ketuanya. Jika ketua belum tahu jawaban atau keliru, maka ketua berkonsultasi kepada Abu Darda. Sementara itu, Abu Darda mengawasi mereka di mihrab. Rutinitas di dalam majlis Abu Darda berbuah manis. Dari situ muncul pengafal Al Quran sebanyak 1.600 orang.

Selain berkutat dengan majlis ilmu, Abu Darda juga produktif sebagai perawi hadits. Di masa hidupnya, ia telah meriwayatkan 179 hadits. Beliau waat pada tahun 32 Hijriah semasa khalifah Utsman di Syam.

4. Zaid bin Tsabit, Hafidz dan Sekretaris Kebanggan Rasulullah

Zaid bin Tsabit, menguasai ilmu Al Quran dan Faraid

Generasi Al Quran di masa Nabi Muhammad tidak berhenti sampai Abu Darda saja. Adalah Zaid bin Tsabit, sahabat Rasulullah yang cerdas, penulis, dan penghafal Al Quran serta menguasai ilmu Faraid. Sejak usia muda, cita-cita Zaid bin Tsabit adalah dekat dengan Rasulullah tanpa batasan usia. Caranya adalah dengan menghafal Al Quran.

Melansir dari Republika, ibu Zaid sangat senang anaknya ingin menjadi penghafal Al-Quran. Saking bahagianya, ia sebarkan kabar tersebut kepada kaum Anshar tentang keinginan anaknya. Setelah itu, ia berbicara dengan Rasulullah bahwa anaknya telah hafal 17 surat sebagai upaya ingin dekat dengan beliau.

Baca juga: Pesona 7 Wakaf Masjid di Peradaban Islam Indonesia, Ada dari Walisongo!

Rasulullah pun mendengarkan zaid melatunkan ayat suci Al Quran. Bacaannya bertajwid jelas dan bersuara merdu. Berkat kemampuan Zaid, Rasulullah memujinya karena tidak banyak anak seusia dia yang dapat menghafal Al Quran dengan cepat. Usaha Zaid berbuah manis, ia menjadi sekretaris Rasulullah di usia muda. Jika Rasulullah menerima wahyu, maka beliau memanggil Zaid untuk menulis ayat yang turun.

Zaid menghembuskan nafas terakhir pada tahun 45 Hijriyah. Kepergian tokoh cendekia tersebut sangat membekas di hati penduduk Madinah. Salah satu yang merasa kehilangan ialah Ibnu Abbas RA, sang perawi hadits.

5. Ubay bin Ka’ab, Pesohor di Kalangan Hafidz di Zaman Nabi

Ubay bin Ka'ab, khatam Al Quran dalam waktu 8 hari

Selanjutnya, nama Ubay bin Ka’ab adalah pesohor di kalangan sahabat nabi penghafal Al-Quran. Ia selalu menyempatkan diri untuk membaca Al Quran siang malam untuk khatam dalam waktu delapan malam. Tindakannya mengundang decak kagum Umar bin Khattab yang berkata,

“Qari paling baik di antara kami adalah ubai,”

Umar sampai berkhutbah di Jabiyah sambil bercerita tentang pengetahuan Ubai terhadap Al Quran. Dikutip dari Islampos.com, umar berkata,

“barang siapa yang hendak menanyakan tentang Al-Qur’an datanglah ke Ubai,” 

Karena mahir, Ubai menjadi sekretaris Rasulullah SAW sebelum Zaid bin Tsabit. Ia bersama Zaid paling tekun menulis wahyu yang Rasulullah terima. Keduanya menulis di bawah pengawasan Rasulullah.

6. Abu Musa Al-Asy’ari, Imam Bersuara Merdu

Abu Musa Al Asyari, hafidz bersuara merdu

Siapa yang mendengar Abu Musa Al-Asy’ari melantunkan ayat suci Al Quran, maka hatinya akan tersentuh dan merasa tenang. Nama lengkap Abu Musa adalah Abdullah bin Qais bin Sulaim, yang dianugerahi suara merdu oleh Allah. Rasulullah bahkan memuji suaranya seperti seruling Nabi Daud yang menenangkan. Talentanya membuat banyak sahabat menanti-nanti Abu Musa untuk menjadi imam shalat.

7. Abdullah bin Mas’ud, Pernah Menghafal di Depan Rasulullah

Abdullah bin Mas'ud, periwayat 840 hadits

Sampai di list terakhir, yaitu Abdullah bin Mas’ud. Sahabat nabi penghafal Al-Quran dengan nama lengkap Abdullah bin Mas’ud bin Ghafil Abdirrahman al-Hadzali al-Maki al-Muhajiri ini seorang penghimpun Al-Quran di masa Rasulullah sekaligus periwayat 840 hadits. Ia bahkan pernah melatunkan hafalannya di hadapan Rasulullah.

Tiada hentinya Rasulullah dan para sahabat menyuntikkan semangat satu sama lain untuk menjaga Al-Quran dengan cara menghafal. Maka dari itu, para sahabat nabi menjadi sosok inspiratif berkat lingkungan yang mendukung. Mereka mendedikasikan diri dan mengajari kalam ilahi untuk generasi Islam di masa mendatang.

Generasi para penghafal Al-Quran di Indonesia semakin tumbuh subur dan membumi.  Meskipun penuh rintangan, mereka tidak menyerah sama sekali. Mereka lakukan semata-mata untuk ibadah dan sebagai contoh bagi umat Islam sendiri untuk tidak melupakan kitab sucinya.

Untuk menjalani visi dan misi mulia, para santri tahfidz butuh fasilitas mumpuni supaya mereka dapat menghafal secara kondusif dan tenang, seperti di Pesantren Produktif Smart Hafidz Village. Anda dapat menjadi sosok yang suportif kepada para penghafal Al-Quran. Caranya yaitu patungan wakaf pesantren mulai dari 10 ribu. Mari, bersama-sama bangun generasi qurani dengan klik berwakaf di tautan ini!