Harta itu rezeki paling murah – Bagian 2

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Wahai ‘Amru, alangkah baiknya harta yang sholeh  di tangan orang yang sholeh. (HR. Ahmad)

Seorang muslim dianjurkan untuk memiliki harta. Karena dengan memiliki harta maka akan banyak ibadah dan amal kebaikan yang bisa kita lakukan. Wajibnya Zakat dan wajibnya pergi haji bagi yang mampu, adalah salah satu bukti bahwa Allah SWT menganjurkan seorang muslim itu memiliki harta yang banyak.

Namun janganlah harta dijadikan ukuran kaya yang seringkali diidentikkan dengan hidup senang dan bahagia. Kebahagiaan sama sekali tidak bisa diukur dari banyaknya harta dalam genggaman kita. Tapi justru kebahagiaan itu ada disaat kita berbagi.

Seorang muslim yang memiliki pemahaman yang baik adalah yang paling pantas memiliki harta. Harta ditangannya akan menjadi kebaikan bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin). Sebaliknya, bila harta dimiliki oleh kaum kafir atau muslim yang tidak memiliki pemahaman yang baik (fasik), harta itu akan banyak digunakan untuk kemudharatan.

Allah SWT menjadikan hikmah dari Kisah Nabi Sulaiman ‘alahi salam. Seorang Nabi yang dianugerahi kekayaan yang sangat berlimpah dan kekuasaan yang begitu luas. Kekayaan dan Kekuasaan Nabi Sulaiman berdampak pada negeri yang makmur, aman dan tentram. Kekuasaannya mengharmonisasi peradaban manusia dengan alam yang mencakup hewan dan tumbuhan, serta menjangkau alam jin.

Nabi Sulaiman as adalah model pengelolaan Harta dan Kekuasaan bagi peradaban Manusia. Ditangannya harta tidaklah menjadi tujuan atau alat untuk memuaskan dahaga syahwat. Harta kekayaan dianggap dan diperlakukan sebagai alat untuk mendapatkan keridhoan Allah, yakni dengan menggunakannya secara adil, bukan untuk kepentingan pribadi dan keluarganya saja.

Kita juga bisa mengambil hikmah dari Rasulullah SAW yang berhak atas 1/5 dari Ghonimah (harta rampasan perang) yang seharusnya menjadikan beliau paling kaya diantara para sahabat. Namun beliau hanya mengambil secukupnya untuk kebutuhan hidup rumah tangga beliau, kemudian mengembalikan sisanya untuk kemaslahatan ummat. Bahkan pada saat menggali Khandak (parit) menjelang perang Ahzab, karena lapar Rasulullah mengganjal perutnya dengan 2 buah batu, sementara para sahabat mengganjal perut mereka dengan hanya sebuah batu. Menunjukkan Rasulullah SAW lebih lapar daripada para sahabatnya.

Dan masih banyak lagi kisah-kisah nyata para Sahabat Nabi yang menginfakan harta mereka dengan jumlah yang sangat besar. Infak dan sedekah para sahabat Nabi itu seakan tidak masuk akal bagi masyarakat pada umumnya. Abu Bakar pernah menyerahkan seluruh hartanya pada Rasulullah. Utsman bin Affan pernah menginfakkan salah satu kafillah dagangnya yang jika di konversi harta yang diserahkan tersebut senilai ratusan milyar rupiah. Belum lagi kisah Abdurrahman bin Auf yang jauh lebih kaya raya dibandingkan Utsman bin Affan ra.

Itulah kisah mereka yang tidak menjadikan harta sebagai tempat bergantung. Tidak menjadikan harta sebagai sumber kebahagiaan. Bagi mereka harta adalah amanah yang membebani mereka. Karena itulah bila amanah harta ditunaikan haknya, hilanglah beban dan hadirlah kebahagiaan dari keberkahan yang Allah bayarkan karena menuntaskan amanah itu.

Bagi mereka, harta itu murah harganya. Harta yang dimiliki tak akan mampu membeli kesenangan dan kebahagiaan yang Allah SWT janjikan. Harta hanyalah benda tak berharga, bila dibandingkan dengan ketenangan jiwa dan kebahagiaan yang mereka rasakan setelah memeluk Islam dan menjadi pengikut Rasulullah SAW. Dan harta semakin tak ada harganya bila dibandingkan dengan nikmat iman dan islam yang telah mereka rasakan. (qodratsq)

Wakaf Sekarang