Ini Bahaya dari Sedekah Pencitraan

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Sedekah Pencitraan, Wakaf Produktif, Tabung Wakaf

Foto: Pixabay (basic)

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Hud: ayat 15-16)

Sahabat, benar adanya bahwa sedekah atau yang baru-baru ini populer yaitu wakaf boleh dilakukan dengan terbuka atau terang-terangan, meskipun lebih baik lagi jika sedekah dilakukan secara sembunyi atau diam-diam.

Yang menjadikan sedekah sembunyi-sembunyi lebih utama salah satunya adalah karena dapat menghindarkan diri dari riya’ atau pamer amalan.

Meskipun riya’ adalah permasalahan hati yang tidak berhak dihakimi oleh manusia di dunia ini, akan tetapi kita tetap perlu saling mengingatkan agar sedekah yang diinfakkan tidak sia-sia karena tidak mendapat penilaian di sisi Allah.

Sedekah yang dilakukan untuk pencitraan atau membangun imej positif sungguh berbahaya, dikhawatirkan dapat menyeret pelakunya ke neraka. Mengapa demikian?

 

1. Sedekah pencitraan berarti sedekah yang tujuannya mendapat imej baik, pujian, dan terbentuknya citra diri positif di kalangan manusia.

Maka sedekah seperti ini hanya dibalaskan di dunia saja, yakni dengan memperoleh penghormatan, kekaguman, dan citra positif di hadapan manusia sebagaimana yang diharapkan, sedangkan di sisi Allah sangat mungkin tak ada ganjaran yang diperoleh dari sedekah pencitraan.

Apa kewajiban Allah memberi ganjaran sedekah tersebut, sementara amalan itu dilakukan bukan untuk Allah?

 

2. Sedekah pencitraan membuat diri kita sendiri tertipu, merasa diri ini dermawan, padahal fatamorgana belaka.

Jika sungguh-sungguh dermawan, tentu tak memerlukan ucapan terimakasih serta pujian sanjungan dari manusia. Sedekah pencitraan memperlihatkan keinginan dilihat baik oleh manusia, bukan oleh Allah.

 

3. Orang lain meniru sedekah pencitraan tersebut

Banyak orang latah, melihat seorang dermawan mengundang wartawan ke rumah untuk meliputnya sedang memberi santunan anak yatim atau melakukan wakaf produktif seperti bangun rumah ibadah, akhirnya yang lain pun turut melakukannya. Bagus menularkan semangat besedekah, tapi kurang baik jika yang dilakukan sekadar untuk pencitraan di hadapan manusia saja.

 

Sekali lagi, riya’ atau pamer adanya di dalam hati, tak terlihat dan kadang tak terasa, namun kita harus ekstra hati-hati agar tak tergelincir ke neraka karena masalah riya’.

Kisah pengadilan akhirat mengenai 3 orang yang melakukan amalan ahli surga namun justru diseret ke neraka berikut ini in syaa Allah dapat mengingatkan kita kembali mengenai bahayanya riya’ atau ingin dipandang baik oleh sekitar.

Kisah ini terdapat dalam hadits Rasulullah dari Abu Hurairah. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim, An-Nasa-i, Imam Ahmad dan Baihaqy. Kisah yang sama dalam teks hadits yang berbeda juga diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan al-Hakim.

Di pengadilan akhirat, orang pertama dipanggil menghadap Allah. Ia merupakan seorang pria yang mati syahid. Pria ini mengakui banyaknya nikmat yang diberikan Allah padanya. Allah pun bertanya, “Apa yang telah kau perbuat dengan berbagai nikmat itu?”

Pria itu menjawab, “Saya telah berperang karena-Mu sehingga saya mati syahid,” ujarnya.

Allah ta’ala pun menyangkalnya, “Kau telah berdusta. Kau berperang agar namamu disebut manusia sebagai orang yang pemberani. Dan ternyata kamu telah disebut-sebut demikian,” firman-Nya. Mujahid riya’ itu pun diseret wajahnya dan dilempar ke jahannam.

Orang kedua pun dipanggil. Ia merupakan seorang alim ulama yang mengajarkan alquran pada manusia. Seperti orang pertama, Allah bertanya hal sama, “Apa yang telah engkau perbuat berbagai nikmat itu?”

Sang ulama menjawab, “Saya telah membaca, mempelajari dan mengajarkannya alquran karena Engkau,” ujarnya.

Namun Allah berfirman, “Kamu berdusta. Kau mempelajari ilmu agar disebut sebagai seorang alim dan kau membaca alquran agar kamu disebut sebagai seorang qari,” Allah mengadili. Sang alim ulama pun menyusul si mujahid, masuk ke neraka yang apinya menjilat-jilat.

Orang ketiga pun dipanggil. Kali ini ia merupakan seorang yang sangat dermawan. Sang dermawan dianugerahi Allah harta yang melimpah. Allah pun menanyakan tangung jawabnya atas nikmat itu, “Apa yang telah engkau perbuat dengan berbagai nikmatKu” firmanNya.

Sang dermawan menjawab, “Saya tidak pernah meninggalkan sedekah dan infak di jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau,” jawabnya.

Dia pun tak jauh berbeda dengan dua orang sebelumnya. “Kau berdusta,” firman Allah. “Kau melakukannya karena ingin disebut sebagai seorang dermawan. Dan begitulah yang dikatakan orang-orang tentang dirimu,” firmanNya.

Sang dermawan yang riya’ ini pun diseret dan dilempar ke neraka, bergabung denan dua temannya yang juga menyimpan sifat riya’ di hati mereka.

Na’udzubillah min dzalik. Semoga kita terjauh dari sifat riya’ dan pencitraan positif di hadapan manusia padahal sungguh buruk amalan kita di hadapan Allah. (SH)

Baca Juga: Tenangkan Hati dengan Bersedekah

 

Wakaf Sekarang