INILAH BULLDOZER PERUSAK AMALAN KITA

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

PERUSAK AMAL IBADAHINILAH BULLDOZER PERUSAK AMAL IBADAH KITA

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian.

Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadikan ia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunujuk kepada orang-orang kafir.” [Q.S. Al Baqarah : 264]

Astaghfirullah…

Sahabat, pernahkah kita melakukan sedekah lalu mengungkit-ungkitnya?

“Itu kan hp yang saya kasih buat dia! Kalau bukan karena hp itu, dia tak bakal bisa diterima kerja!”

Sungguh berbahaya orang yang ada riya’ di hatinya, yakni keinginan untuk pamer amalan dan merasa berjasa di hadapan manusia. Dengan demikian ia tanpa sadar telah terjerumus pada syirik kecil karena amal kebaikannya bukan semata untuk Allah, melainkan juga agar dikagumi oleh orang lain.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Sesuatu yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik asghar”. Lalu beliau ditanya tentang (maksud) hal tersebut (syirik asghar), maka beliau menjawab “Riya”.” [HR. Ahmad, hasan]

Bisa dikatakan bahwa riya’ merupakan bulldozer yang bisa merusak amalan kita dan tak menyisakan sedikit pahala pun di akhirat kelak.

“Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu” [Az-Zumar : 65]

Bagaimana mungkin amalannya diterima dan dihitung oleh Allah sedangkan para pelaku riya’ melakukan amalan tersebut bukan untuk Allah? Melainkan mencari kedudukan di mata manusia. Jangan demikian, bahkan Allah akan merendahkan dan menghinakan para pelaku riya’.

“Barangsiapa memperdengarkan amalnya kepada orang lain (agar orang tahu amalnya), maka Allah akan menyiarkan aibnya di telinga-telinga hambaNya, Allah rendahkan dia dan menghinakannya”.
[HR Thabrani dalam al Mu’jamul Kabiir; al Baihaqi dan Ahmad, no. 6509. Dishahihkan oleh Ahmad Muhammad Syakir. Lihat Shahiih at Targhiib wat Tarhiib, I/117, no. 25]

Sahabat, akan tetapi sadarilah bahwa kita takkan mampu melihat dan menilai amalan mana yang riya’ dan yang bukan, dikarenakan begitu samarnya perbuatan riya’. Oleh karenanya bukan kita yang berhak menghakimi seseorang itu riya’ hanya karena kita bisa melihat amal kebajikan yang ia lakukan.

Karena sesungguhnya keinginan pamer itu adanya dalam hati, bisa jadi sebuah amalan terlihat dipamerkan, tetapi niat pelakunya bukanlah pamer, melainkan menirukan keteladanan, maka hal ini tak termasuk riya’, walaupun seluruh manusia memuji amalannya.

“Sesungguhnya setiap amal itu tergantung niatnya.Dan sesungguhnya setiap orang akan mendapat balasan sesuai dengan apa yang ia niatkan…” [HR. Bukhari-Muslim]

Rasulullah telah menjelaskan hal ini, bahwasanya mendapat pujian dari amal kebaikan yang kita lakukan merupakan kabar gembira untuk mukmin yang disegerakan di dunia, jadi ini tak termasuk riya’:

Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Ya Rasulullah, bagaimana pendapat engkau tentang seseorang yang mengerjakan satu amal kebaikan, lalu orang memujinya?”

Beliau menjawab,”Itu merupakan kabar gembira bagi orang mukmin yang diberikan lebih dahulu di dunia.” [HR Muslim, 2642; Ibnu Majah, no. 4225 dan Ahmad, V/156, 157; dari sahabat Abu Dzar].

Jika semua orang menyembunyikan sedekah dan kebaikannya karena takut dianggap riya’, lalu bagaimana cara menularkan keteladanan pada orang lain?

“Barangsiapa yang memberikan teladan yang baik dalam Islam, kemudian ada yang mencontoh kebaikannya, maka dicatat baginya pahala seperti pahala orang yang mencontohnya tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang mencontohnya.” (HR. Muslim)

Oleh sebab itu, jelas sudah bahwa perkara riya’ adalah perkara yang halus, bahkan hanya Allah yang berhak menghakimi para pelaku riya’, tugas kita adalah berhusnudzon pada sesama muslim mengenai amal kebaikan yang mereka lakukan.

Akan tetapi Sahabat, ketahuilah bahwa riya’ sungguh mengerikan dan patut kita jauhi. Bahkan seorang yang mati syahid sekalipun bisa diseret ke dalam neraka karena terselip riya’ di hatinya. Naudzubillah min dzalik.

Hendaknya setiap kita meresapi hadits berikut:

Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya.

Allah bertanya kepadanya : ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’

Ia menjawab : ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’

Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian malaikat diperintahkan agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka.

Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya.

Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’

Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca Al Qur`an hanyalah karena Engkau.’

Allah berkata : ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca Al Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari’ (pembaca Al Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian malaikat diperintahkan agar menyeretnya di atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.

Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya).

Allah bertanya : ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’

Dia menjawab : ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’

GAllah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian malaikat diperintahkan agar menyeretnya di atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’

Semoga Allah senantiasa menjaga hati kita dari kelalaian dan keinginan untuk pamer (riya’). Wallaahualam. (SH)

 

Wakaf Sekarang