Iringi Keburukan dengan Kebaikan

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Iringi Keburukan dengan Kebaikan“Bertakwalah kamu kepada Allah di mana pun kamu berada, iringilah kesalahanmu dengan kebaikan niscaya ia dapat menghapuskannya dan pergaulilah semua manusia dengan budi pekerti yang baik.” (HR. Tirmidzi. Ia berkata, “Hadits ini hasan.” Dalam naskah lainnya dikatakan, “Hadits ini hasan shohih”)

Sahabat, tidak ada manusia yang 100% baik, pun tak ada manusia yang 100% buruk. Setiap manusia telah Allah berikan 2 pilihan berupa jalan kebaikan dan jalan keburukan.

“Maka Allah mengilhamkan pada jiwa itu jalan fujur (melanggar, membantah, tidak taat, fasik, buruk ) dan jalan taqwa (taat, patuh, nurut, baik). Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwanya (dengan jalan taqwa itu) dan sungguh merugi orang yang mengotori jiwanya (dengan mengikuti jalan fujur).” (QS. Asy-Syams:8-9)

Dari ayat tersebut jelas disebutkan bahwa mengikuti jalan kebaikan atau keburukan merupakan hasil pilihan dan keputusan manusia itu sendiri, bukan ketetapan Allah, karena Allah telah memberikan setiap manusia kesempatan untuk berlaku baik atau buruk.

Akan tetapi Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam sungguh luar biasa, beliau mengingatkan kita untuk tidak berputus asa dalam menjadi orang baik yang memilih jalan taqwa. Manakala kita melakukan kekhilafan dan salah memilih tindakan buruk, maka kita diminta untuk mengiringi perbuatan buruk tersebut dengan amal kebaikan.

Apakah manfaatnya mengiringi perbuatan buruk dengan perbuatan baik? Adakah hikmah tersembunyi di balik anjuran ini?

Sahabat, berikut ini beberapa hal penting yang perlu kita ketahui mengapa sebuah perbuatan buruk harus segera ‘ditutupi’ dengan perbuatan baik:

1. Perbuatan buruk yang dilakukan terus-menerus bisa menetap menjadi kebiasaan buruk, dan kebiasaan buruk yang terus dipelihara akan menjadi karakter buruk.

Oleh sebab itu kita perlu menyelingi perbuatan buruk dengan amal kebaikan agar keburukan tersebut tak menjadi kebiasaan apalagi karakter diri kita.
Phillippa Lally dari University College London yang dipublikasikan dalam European Journal of Social Psychology menyatakan bahwa setidaknya diperlukan waktu 66 hari atau sekitar 2 bulan untuk menjadikan suatu perbuatan sebagai kebiasaan.

Jika kita tidak segera mengiringi perbuatan buruk dengan perbuatan baik, sangat mungkin perbuatan buruk tersebut meracuni diri kita hingga akhirnya tanpa sadar kita terbiasa melakukannya. Bahkan merasa kurang lengkap jika tidak melakukannya setiap hari. Na’udzubillah min dzalik.

2. Perbuatan baik bisa menjadi ‘hukuman’ atau ‘ganjaran’ yang harus dibayar untuk menghapus perbuatan buruk yang kita lakukan.

Lihatlah betapa luar biasanya Abu Bakar Ash Shiddiq, yang hanya karena tertinggal shalat jama’ah di masjid langsung menghukum dirinya dengan menyedekahkan kebun yang menyebabkan ia lalai saat itu!

Ini artinya ia menjadikan perbuatan baik sebagai ganjaran yang harus dilakukannya dengan harapan dapat menghapus perbuatan lalai yang dilakukannya.

Hal ini tentu dapat kita contoh. Misalnya saat kita melakukan perbuatan buruk berupa mengghibah orang lain, alias membicarakan keburukan orang, maka iringilah segera dengan beristighfar, bersedekah, atau bahkan menghukum diri dengan melakukan puasa Daud (sehari puasa, sehari tidak) selama seminggu misalnya.

Jika kita konsisten menghukum diri dengan cara berbuat amal kebaikan, terutama setelah melakukan perbuatan kurang baik atau yang disebabkan kelalaian, in syaa Allah ini dapat memperlihatkan betapa kita berharap bisa menghapus perbuatan buruk tersebut dengan amal kebajikan, dan semoga Allah berkenan mengabulkannya.

3. Perbuatan baik bisa menghilangkan noda perbuatan buruk jika kita mengiringinya dengan segera dan tak menunggu nanti.

Perbuatan buruk yang kita lakukan ibarat lumut di permukaan lantai kamar mandi, sementara perbuatan baik yang kita lakukan ibarat pembersih lantainya.
Tahukah bahwa membersihkan lumut yang baru tumbuh lebih mudah dibandingkan lumut yang sudah memenuhi lantai bertahun-tahun?

4. Mencegah kita berputus asa dari rahmat Allah

Banyak orang putus asa karena merasa diri ‘kotor’ dan penuh kesalahan, sehingga enggan beramal kebaikan. Oleh sebab itu semestinya di saat kita melakukan hal-hal buruk dan penuh noda, kita justru segera ‘merendamnya’ dengan amalan baik agar tak sempat merasakan keputusasaan tersebut.
Sahabat, lakukanlah anjuran Rasulullah untuk senantiasa mengiringi kejahatan dengan kebaikan, agar hati kita selalu terjaga dari kelalaian. Semoga Allah membantu kita untuk menghapus perbuatan buruk yang pernah dilakukan. Aamiin.(SH)

Wakaf Sekarang