Jangan Iri pada Rezeki Orang Lain!

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain!

(Karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya! Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [Q.S. An Nisaa: 32]

Mengapa Islam tak memperbolehkan kita iri pada rezeki orang lain? Ya tentu saja karena hal tersebut bisa dibilang sangat konyol! Mengapa konyol? Berikut ini ilustrasinya:

Bayangkan ada 2 tempat penitipan barang! Yang satu sangat luas, yang satu cenderung sempit.

Tempat penitipan barang yang luas ini petugasnya begitu sibuk, ada banyak yang menitip tas, dompet, bungkusan, helm, dan lain sebagainya sehingga ia begitu sibuk melayani barang-barang titipan.

Sedangkan tempat penitipan yang sempit, titipannya tak begitu banyak, petugasnya bisa lebih santai bekerja.

Akan tetapi, potensi gaji kedua orang petugas yang menjaga tempat penitipan ini sama besarnya. Bukankah aneh dan konyol kalau si petugas yang menjaga tempat penitipan yang lebih sempit merasa iri pada petugas yang satunya hanya karena jumlah barang titipannya lebih banyak?

Demikianlah ilustrasi mengapa kita tak perlu merasa iri dengan rezeki orang lain. Toh potensi kita dan orang tersebut untuk masuk surga Allah sama besarnya, jadi mengapa harus iri?

Akan tetapi, memang benar ada satu kondisi di mana kita diperbolehkan untuk merasa iri pada orang yang lebih kaya, yakni ketika ia menafkahkan harta kekayaannya untuk bersedekah, berwakaf, dan membantu orang lain yang kesulitan.

“Tidak ada iri hati kecuali terhadap dua perkara, yakni seorang yang diberi Allah harta lalu dia belanjakan pada jalan yang benar, dan seorang yang diberi Allah ilmu dan kebijaksaan lalu dia melaksanakan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Lalu, bagaimana jika kita masih sering merasa iri pada harta benda orang lain dan bukan karena kedermawanan orang itu? Adakah cara menghilangkan rasa iri yang konyol tersebut?

Simaklah hadits berikut ini:

“Apabila seorang melihat dirinya, harta miliknya atau saudaranya sesuatu yang menarik hatinya (dikaguminya) maka hendaklah dia mendoakannya dengan limpahan barokah.” (HR. Abu Ya’la)

Jika kita masih merasa iri dan tertarik dengan rezeki yang Allah limpahkan pada orang lain, maka doakanlah kebarokahan pada rezeki orang tersebut, demikianlah cara terbaik untuk menangkal rasa iri di hati kita. Wallaahualam. (SH)

Wakaf Sekarang