Jangan Jadi Orang Kaya Bermental Miskin

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

orang kaya mental miskinOrang kaya mental miskin, hati-hati penyakit ini berbahaya!

“Barangsiapa yang melewati harinya dengan perasaan aman dalam rumahnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan ia telah memiliki dunia seisinya.” (HR. Tirmidzi; dinilai hasan oleh Al-Albani)

Sahabat…

Apakah kita masih memiliki sesuatu untuk dimakan hari ini? Badan kita masih terasa sehat, tidak memerlukan tabung oksigen untuk bernafas ataupun alat pemacu jantung agar tetap berdetak? Lalu, apakah kita masih memiliki tempat tinggal beratap genteng yang dapat melindungi kita dari panas terik matahari maupun dinginnya hujan badai?

Kalau kita masih memiliki kesemua itu, berdasarkan hadits di atas, kita adalah orang kaya, bahkan seolah-olah memiliki dunia dan segala seisinya! Maasya Allah, alhamdulillah.

Adakah yang sudah punya tempat tinggal, makanan di hari ini, dan badan sehat namun masih merasa miskin?

Jika masih berpikir seperti itu, hati-hati… Sangat mungkin kita memang telah terjangkiti penyakit mental miskin! Penyakit ini amat berbahaya, karena sebanyak apapun uang yang kita hasilkan nantinya, tetap tak akan bisa membuat hati puas.

Sahabat, berikut ini beberapa ciri orang dengan mental miskin, semoga kita dapat menghindarkan diri darinya:

1. Selalu merasa kurang

Orang bermental miskin tak akan pernah merasa cukup. Meski ia telah memiliki uang milyaran sekalipun, ia tetap akan merasa kurang.

Hal ini menjadikannya sulit sekali bersyukur. Bagaimana bisa mensyukuri nikmat Allah jika ia tak bisa menganggap hal tersebut adalah nikmat? Seharusnya bisa dapat lebih dari ini! Begitu kira-kira yang dirasakannya.

“Seandainya manusia diberi satu lembah penuh dengan emas, ia tentu ingin lagi yang kedua. Jika ia diberi yang kedua, ia ingin lagi yang ketiga. Tidak ada yang bisa menghalangi isi perutnya selain tanah. Dan Allah Maha Menerima taubat siapa saja yang mau bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6438)

2. Merasa rugi jika memberi untuk orang lain

“Enak sekali orang minta infak shadaqoh begitu saja, padahal saya susah payah mencari uangnya!”

Ciri mental miskin selanjutnya adalah berat untuk memberi sebagian dari harta yang dimilikinya untuk orang lain.

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat buruk (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 268)

3. Tidak memandang halal/haramnya cara menghasilkan uang

Orang bermental miskin tak akan mempermasalahkan bagaimana cara menghasilkan uang, baik dari pekerjaan halal ataupun haram, baginya bukan masalah, yang penting ada uang!

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil …” (QS. Al-Baqarah [2] : 188)

Padahal sudah jelas hadits Rasulullah yang mengharamkan surga bagi orang yang dagingnya tumbuh dari makanan haram, entah itu zat makanannya yang memang haram, ataupun cara mendapatkannya yang haram:

Dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah, sesungguhnya tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari makanan haram.” (HR. Darimi, sanadnya shahih)

“Maka alangkah beraninya mereka terhadap api neraka.” (QS. Al-Baqarah [2] : 175)

4. Tingginya nafsu untuk memenuhi keinginan duniawi

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. [Q.S. al-Furqân/25:67]

Ciri mental miskin lainnya adalah tingginya nafsu untuk memenuhi hasrat duniawi: Belanja di mall setiap hari, harus memiliki barang-barang branded berkelas dari ujung rambut sampai ujung kaki demi memuaskan hasratnya, membeli rumah dan kendaraan yang bisa meningkatkan gengsi di hadapan manusia, dan lainnya.

Padahal, begitu banyak orang kaya bermental kaya yang justru tak begitu peduli pada penampilan fisiknya. Apakah Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam memiliki penampilan dan gaya hidup mentereng?

Bagaimana dengan Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan yang memiliki kekayaan puluhan ribu properti? Apakah gaya hidup dan penampilan mereka tampak mewah?

… Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa memakai pakaian mewah, Allah akan memakaikan padanya pakaian hina pada hari kiamat”.
[Hadist Sunan Ibnu Majah No. 3606]

“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” [Al Israa’:26-27]

5. Lupa bahwa harta hanyalah titipan Allah

”Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan, dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar” [QS. Al-Anfaal : 28].

Orang dengan mental miskin biasanya lupa bahwa harta apapun yang dimiliki oleh dirinya atau siapapun pada hakikatnya adalah sekadar titipan Allah, bukan benar-benar miliknya.

Mental miskin menjadikannya begitu cinta harta dunia, mendorongnya untuk berbuat kikir, dan tidak bersyukur pada Allah. Naudzubillah min dzalik.

”Dan sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak berterima kasih kepada Tuhannya. Dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya. Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta” [QS. Al-‘Aadiyaat : 6-8]

Sahabat, sesungguhnya kita semua adalah orang kaya jika masih bisa menikmati tubuh sehat, tempat untuk berteduh, dan makanan yang bisa dinikmati di hari ini. Maka, jangan sampai mental miskin menyeret kita menjadi lupa bersyukur, selalu merasa kurang, dan bersifat kikir pada orang lain atas apa yang Allah pinjamkan pada kita. Wallaahualam. (SH)

Wakaf Sekarang