Jauhi Perbuatan Dosa

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

jauhi perbuatan dosaSesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk” (QS. Huud: 114)

Sahabat, benar bahwa perbuatan baik bisa menghapus dosa akibat perbuatan buruk, akan tetapi amatlah disayangkan jika kita melakukan amalan hanya untuk mengimbangi dosa yang kita perbuat.

Misalnya bersedekah untuk menutupi dosa berzina, berwakaf untuk mengimbangi dosa korupsi, membangun masjid untuk hapuskan dosa menggosip dan lainnya. Ilustrasinya seperti mengepel lantai penuh lumpur, bukankah melelahkan? Sedangkan menyapu debu di lantai saja sudah cukup membuat pegal!

Penting untuk menyuburkan perbuatan baik dan mulai jauhi perbuatan dosa! Berikut ini beberapa bahaya jika kita mengikuti hawa nafsu dengan melakukan perbuatan dosa:

1. Jatuh pada perbuatan meremehkan dosa

Sahabat, terkadang yang membuat dosa kita berat bukanlah efek perbuatan buruk yang dilakukan, melainkan perasaan kita dalam meremehkan dan memandang kecil dosa tersebut.

“Sebuah dosa besar terkadang dibarengi dengan sifat malu, rasa takut dan pengagungan akan beratnya dosa tersebut menjadikannya dikategorikan dengan dosa-dosa kecil, dan (sebaliknya) terkadang sebuah dosa kecil dibarengi dengan sedikit rasa malu, tidak mengacuhkan, tidak takut dan sikap meremehkan dengan dosa tersebut yang menjadikannya dikategorikan dengan dosa-dosa besar, bahkan menjadikannya di tingkatan yang paling tinggi (dari dosa-dosa besar itu). Dan perkara ini kembalinya kepada apa yang terbetik di dalam hati”. Lihat kitab Madarij As Salikin, karya Ibnul Qayyim.

Apakah kita sudah terbiasa melakukan sebuah dosa hingga menganggapnya remeh saja? Berhati-hatilah karena perasaan meremehkan inilah yang justru dapat memberatkan dosa kita.

2. Menjauhi perbuatan dosa adalah salah satu pembeda antara mukmin dan kafir!

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya seorang mukmin memandang dosa-dosanya seakan-akan ia sedang duduk di bawah gunung dan ia takut gunung tersebut jatuh menimpanya. Dan seorang fajir (yang selalu berbuat dosa) memandang dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat di hidungnya lalu ia berbuat demikian (mengipaskan tangannya di atas hidungnya) untuk mengusir lalat tersebut” (HR. Bukhari)

Seorang yang beriman takkan mudah terjerumus ke lembah dosa dikarenakan rasa malunya pada Allah. Allah telah memberi banyak nikmat, seorang mukmin akan menjaga diri dari perbuatan yang Ia larang dan benci. Jika kita telah menganggap dosa bagaikan lalat pengganggu saja, mungkin itulah indikasi kekufuran dalam hati kita.

3. Dosa yang kita anggap biasa saja bisa jadi ternyata begitu berat dan bisa membinasakan di zaman Rasulullah

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya kalian benar-benar melakukan perbuatan-perbuatan yang di mata kalian lebih tipis daripada rambut, tetapi kami di zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menganggapnya sebagai dosa-dosa yang membinasakan” (HR. Bukhari)

Barangkali saat ini kita sudah terbiasa melihat dosa bergentayangan di semua tempat, padahal dosa tersebut adalah sebuah hal yang membinasakan di zaman Rasulullah dulu. Misalnya, dosa berzina yang marak dilakukan oleh orang pacaran dengan dalih Making Love!

4. Rutin melakukan dosa kecil bagaikan melakukan dosa besar

Sesungguhnya selalu melakukan dosa-dosa kecil maka hukumnya adalah hukum pelaku sebuah dosa besar, menurut pendapat yang terkenal (diantara para ulama)”. (Lihat Kitab Al Mu’jam Al Awsath, karya Ath Thabrani, no. 3759)

Ibarat sampah, dosa yang terlihat kecil-kecil bisa berubah menjadi gunungan dosa jika dikumpulkan secara rutin. Naudzubillah.

5. Dosa bisa melenyapkan amalan sebesar gunung

Ini adalah yang paling mengerikan, dan musibah yang membuat bangkrut di hari kiamat. Yakni saat semua amalan kebaikan kita lenyap hanya karena kita melakukan perbuatan dosa begitu mendapat kesempatan.

Aku benar-benar melihat di antara umatku pada hari Kiamat nanti, ada yang datang dengan membawa kebaikan sebesar gunung di Tihamah yang putih, lalu Allah menjadikannya seperti kapas berterbangan, Tsauban bertanya, Ya Rasulullah, jelaskan kepada kami siapa mereka itu agar kami tidak seperti mereka sementara kami tidak mengetahui! Beliau bersabda, Mereka adalah saudara-saudara kalian dan sebangsa dengan kalian, mereka juga bangun malam seperti kalian, akan tetapi apabila mendapat kesempatan untuk berbuat dosa, mereka melakukannya.” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Al-Bany dalam silsilatul Ahaadits Shahihah No.505)

Sahabat, semoga Allah menjauhkan kita dari perbuatan dosa yang tampak biasa-biasa saja, serta dari hati yang terbiasa meremehkan perbuatan dosa. (SH)

Wakaf Sekarang