Jauhi Sifat Curang!

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

ancaman bagi orang curang, ancaman bagi orang-orang yang berlaku curang

“Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. Al Isra’: 35).

Sahabat, sebagai manusia tentu saja kita pernah dihadapkan dengan kesempatan untuk berlaku curang, baik disadari ataupun tidak. Misalnya ketika mencicipi jeruk di tukang buah, kita mencoba jeruk yang ini dan itu, tapi kemudian tidak jadi beli dengan banyak alasan. Atau, ketika jadi beli pun, kita minta dilebihkan.

Sedangkan jika berada dalam posisi penjual, kita malah tergoda untuk mengurangi timbangan. Padahal Allah telah mengingatkan kita untuk tidak berbuat curang, bahkan sekadar urusan yang kita anggap sepele pun.

“Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan; dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan; dan bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dan umat-umat yang dahulu.” (QS. Asy Syu’ara : 181-184)

Tentu saja Islam sangat memperhatikan segala hal yang menyangkut hak-hak manusia, karena harta seorang muslim diharamkan atas muslim lainnya: “Sesungguhnya harta, darah, dan kehormatan kalian adalah haram (dinodai kemuliaannya) di antara kalian.” (HR. Muslim)

Curang yang dimaksudkan tidak hanya dalam jual beli saja, melainkan juga dalam hal lain, misalnya makan gaji buta karena pekerjaan yang dilakukan tidak memenuhi target di kantor, melakukan korupsi jabatan, korupsi waktu, dan lain sebagainya.

Tentu perkara curang ini amatlah berat, mengingat terjemahan kata ‘thafif’ atau ‘muthaffif’ sendiri melingkupi kecurangan dalam jumlah yang sangat kecil sekalipun, “Sesungguhnya pelakunya disebut muthaffif karena dia nyaris tidak mencuri dari takaran dan timbangan kecuali hanya amat sedikit dan ringan.” ( Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 250; As-Samarqandi, Bahr al-‘Ulum, vol. 3, 556)

Hal ini disebabkan orang yang berbuat curang otomatis telah melakukan ketidakjujuran seringan apapun itu, sementara dalam Islam, sikap jujur merupakan harga mati bagi orang-orang yang mengaku dirinya beriman. Oleh sebab itu, orang yang memiliki keimanan pada Allah dan RasulNya seharusnya tidak mungkin berbuat curang secara sadar, baik di hadapan orang banyak maupun di saat sendirian.

Sahabat, tahukah apa saja yang menjadi ancaman bagi orang-orang yang berlaku curang? Berikut beberapa di antaranya:

1. Neraka Jahanam

“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al Muthaffifin : 1-3)

Dalam ayat di atas disebutkan kata Wayl yang berarti kecelakaan besar, atau bisa juga merujuk pada nama sebuah lembah di Neraka Jahannam, orang kafir dijatuhkan ke dalamnya selama empat puluh tahun sebelum akhirnya sampai ke dasarnya (HR Ahmad, at-Tirmidzi dan al-Hakim).  Sedangkan menurut Ibnu Abbas, Wayl adalah sebuah lembah di Neraka Jahanam yang di dalamnya mengalir nanah-nanah para penghuni neraka, lembah tersebut diperuntukkan bagi orang-orang yang berbuat curang. Na’udzubillah min dzalik.

Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang yang berbuat curang akan Allah tempatkan di dalam neraka, sebagai sebuah ancaman agar orang-orang yang beriman memperhatikan betapa pentingnya memenuhi ‘takaran’.

“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, penduduk di kota tersebut sering bermain curang dalam takaran. Turunlah ayat ‘celakalah al muthoffifin’. Setelah itu barulah mereka memperbagus takaran mereka.” (HR. An Nasai dalam Al Kubro. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan dalam Sunan Ibnu Majah no. 1808).

2. Tertimpa paceklik, kesusahan dalam memenuhi kebutuhan, dan terkena kejahatan penguasa

Rasulullah menghadap kami lalu mengatakan, “Hai orang-orang Muhajirin, ada lima perkara yang jika kalian tertimpa dengan itu—dan aku berlindung kepada Allah untuk kalian tertimpa dengan itu— … (lalu beliau mengatakan) dan tidaklah orang-orang mengurangi takaran dan timbangan kecuali mereka tertimpa oleh paceklik, kesusahan (dalam memenuhi) kebutuhan dan kejahatan penguasa…” (HR. Ibnu Majah).

Hadits di atas menyebutkan 3 bahaya yang mengancam orang-orang yang berbuat curang selama di dunia, bahkan balasan mengerikan tersebut akan menimpa orang-orang yang berbuat curang sebelum kematiannya, yakni tertimpa oleh paceklik atau gagal panen, kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, serta terkena kezaliman penguasa.

3. Mendapat kebinasaan

Ibnu Katsir berkata, “Allah membinasakan dan menghancurkan kaum Syu’aib dikarenakan mereka berbuat curang dalam takaran dan timbangan.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 508).

Jika kecurangan sudah mendarah daging dan menjadi sesuatu yang dimaklumkan dalam suatu kaum, maka sangat mungkin Allah akan membinasakan kaum tersebut dan menggantikannya dengan kaum lain yang lebih baik darinya.

Sahabat, semoga kita senantiasa menyadari bahayanya perilaku curang. Dan semoga Allah membantu kita untuk menjauhkan diri dari perbuatan yang mengurangi hak orang lain tersebut. Aamiin. (SH)

Baca Juga: 4 Cara Menjauhi Sifat Munafik

Wakaf Sekarang