Jika Bisa Lebih, Mengapa Hanya Berwakaf Sekali?

Foto: Unsplash

Sahabat, apakah pernah merasa bingung melihat seorang pebisnis membeli beberapa ruko di beberapa tempat sekaligus? Seorang pengusaha yang membuka beberapa toko sekaligus? atau seorang investor yang menanamkan modal di beberapa pihak sekaligus?

Mereka memiliki banyak uang dan modal serta ingin menghasilkan untung besar, sehingga mereka berani berinvestasi sekaligus di beberapa tempat. Jadi sungguh wajar dan tidak terasa membingungkan. Apalagi jika perjanjian bisnisnya sudah jelas menguntungkan, apa yang membuat ragu?

Bukankah kita justru bingung dengan pengusaha yang banyak modal, orang kaya yang banyak uang, hartawan yang memiliki perhiasan, namun membiarkan hartanya itu sekadar menganggur di bawah bantal, dalam laci lemari, atau di dalam brankas rumahnya.

Apakah uang tersebut bisa beranak pinak jika disimpan saja seperti itu? Tentu tidak bukan?

Sama juga dengan wakaf, jika Anda mampu berwakaf lebih dari satu, mengapa tidak melakukannya? Mengapa lebih memilih menimbun harta dalam tabungan dunia daripada memastikannya sebagai tabungan akhirat?

Lihatlah apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Beliau pada tahun ketiga hijriyah mewakafkan tujuh buah kebun kurma di Madinah, diantaranya adalah Araf, Shafiyah, Dalal, Barqah, dan kebun lainnya.

Sebagian ulama berpendapat wakaf Rasulullah SAW inilah yang merupakan contoh wakaf pertama kali dilakukan.

Pendapat ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Umar bin Syabah dari ‘Amr bin Sa’ad bin Mu’adz, ia berkata: “Kami bertanya tentang mula-mula wakaf dalam Islam? Orang Muhajirin mengatakan Umar, sedangkan orang-orang Anshor mengatakan Rasulullah

Bukankah luar biasa wakaf yang dilakukan oleh Rasulullah SAW? Beliau mewakafkan tidak hanya satu namun hingga 7 kebun kurma. Padahal kondisi hidup sehari-hari beliau amat sederhana dan jauh dari kenikmatan duniawi yang mungkin bisa membuat orang lain iri.

Lalu, mengapa kita ragu untuk berwakaf lebih dari satu jika pada kenyataannya kita mampu? Berikut ini beberapa keuntungan berwakaf lebih dari satu:

1. Memiliki banyak sumber mengalirnya pahala, bahkan ketika sudah meninggal kelak

Apakah kita yakin bisa terus beramal shaleh bahkan setelah berada di alam kubur? Tentu tidak. Bukankah segala amalan hanya bisa dilakukan sebelum nyawa tercabut dari badan? Oleh sebab itu, jika memang memiliki harta berlebih, mengapa ragu untuk berwakaf sebanyaknya selama nafas masih terdengar.

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

 

2. Memaksimalkan manfaat harta yang dimiliki

Misalkan kita bersama mewakafkan uang untuk pembangunan Rumah Sakit, mewakafkan juga untuk lembaga pendidikan ulama dan santri penghafal qur’an, lalu juga wakaf bangunan untuk sekolah anak dhuafa, wakaf ambulans,  dan wakaf qur’an. Jika semuanya bisa kita lakukan sekaligus, bukankah jauh lebih membawa nilai manfatnya daripada harta tersebut didiamkan begitu saja?

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289)

 

3. Mendapat balasan berkali lipat dari Allah SWT

Barangsiapa memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan balasan pinjaman itu untuknya dan dia akan memperoleh pahala yang banyak” (QS. Al Hadid: 11)

Sahabat, Allah tidak akan pernah merugikan orang-orang yang berbisnis padaNya. Maka jika kita dititipkan kelebihan harta, maukah kita meminjamkan padaNya berupa tanah, bangunan, kebun, ataupun sumur yang diwakafkan? (Tabung Wakaf)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook

Instagram