Jika Kematian Hanya 1×24 Jam

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

ingat-kematian-2-638Seorang wanita menangis hebat di hadapan seorang bijak yang terkenal bisa membantu menemukan solusi dari berbagai permasalahan.

“Hidup saya sungguh menyebalkan!” keluh wanita itu. “Suami tidak cinta lagi, tetangga hobi pamer, bahkan anak-anak saya pun sangat nakal serta tak peduli pada saya!”

“Jadi apa yang Anda inginkan saat ini?” tanya si orang bijak.

“Rasanya saya lebih baik mati!”

Orang bijak itu menundukkan kepala, berpikir sejenak. Lalu akhirnya ia menghela nafas dan menatap wanita tersebut.

“Baiklah, saya akan membantu Anda menghadapi kematian dengan cara yang paling tenang.”

Wanita itu terkejut, tak menyangka keinginannya untuk mati dikabulkan begitu saja. Si orang bijak di hadapannya terlihat mengambil sebuah botol seukuran antiseptik dan menyodorkan ke arahnya.

“Ini adalah racun yang efektif. Silakan Anda minum saat ini juga, dalam hitungan 1×24 jam Anda akan meninggal dunia dengan tanda-tanda serangan jantung.”

Ragu wanita itu mengambil botol tersebut, dipandanginya cairan racun dalam botol. Sejurus kemudian ia buka dan ia tenggak racun itu hingga tandas. Terasa pahit di lidah.

Orang bijak itu tersenyum tipis, “Sekarang Anda silakan kembali ke rumah, dalam 24 jam racun tersebut akan bekerja mencabut nyawa Anda tanpa rasa sakit.”

“Terima kasih.” Wanita itu pun beranjak pulang dengan perasaan sedikit lebih tenang.

Di perjalanan pulang ia bertemu tetangga baru sebelah rumahnya yang sedang kerepotan membawa barang belanjaan dari swalayan. Tetangga ini adalah yang paling membuatnya sebal karena suka pamer kekayaan, beli perhiasan lah, beli mobil lah, renovasi rumah lah.

Akan tetapi mengingat sebentar lagi ia akan meninggalkan dunia, apa salahnya ia berbuat hal baik sekali saja untuk tetangga menyebalkan ini.

“Mari saya bantu!” wanita itu mengulurkan tangannya dan membantu membawakan barang belanjaan. Tetangganya merasa heran karena tumben sekali wanita itu bersikap baik, biasanya mukanya kecut setiap kali melihat dirinya membeli barang.

Sesampainya di depan rumah, tetangga itu mengucap terimakasih, dan memberi sebuah blender untuknya. “Saya tadi dapat hadiah undian sebuah blender, tapi saya sudah punya di rumah, ini untuk Anda saja, terimakasih sudah membantu membawakan belanjaan saya!” ujar sang tetangga ramah. “Lain kali mampir masuk ke dalam yaa!” tambahnya.

Wanita itu kaget menyadari tetangga barunya ternyata orang kaya yang sangat dermawan. Ia pandangi blender di tangannya, sedikit menye selama ini telah mengira tetangganya itu hobi pamer karena selalu membeli barang baru.

Sang wanita melangkah agak gontai ke arah rumahnya. Di dalam rumah, ia melihat barang-barang berantakan, sepatu, kaos kaki, dan tas tergeletak begitu saja, tampaknya anak-anaknya sudah pulang.

“Aah, sudahlah saya tak perlu menghabiskan waktu dan tenaga untuk mengomeli dan memukuli anak-anak. Toh sebentar lagi saya akan meninggalkan dunia ini!” tanpa ba-bi-bu, wanita itu pun membereskan barang-barang yang berserakan di lantai. Satu per satu ditaruhnya barang di tempat penyimpanan.

“Kok tumben mama nggak marahin aku dan kakak? Biasanya kita berdua kena pukul kalau rumah berantakan!” ujar si bungsu begitu keluar dari kamar. Sang ibu kaget, rupanya anaknya hapal benar kebiasaannya mengomel dan memukul mereka dengan gantungan baju tiap melihat rumah berantakan.

Sore itu, kedua anaknya yang melihat sang ibu memunguti barang-barang mereka tanpa omelan, akhirnya ikut membantu membereskan tanpa disuruh. Sekali lagi sang ibu terkejut, ternyata untuk membuat anaknya rapi tak perlu omelan dan hukuman keras, cukup contohkan dengan sabar.

Malamnya ketika suaminya pulang dengan wajah letih, wanita itu pun merasa kasihan, setelah malam ini dirinya akan segera mati, mungkin ini terakhir kalinya bisa memijiti punggung dan kaki sang suami.

Suaminya kaget melihat istrinya tiba-tiba berlaku lembut dan memijitinya. Biasanya sepulang kantor, ia akan mendengar ocehan panjang lebar istrinya mengenai uang belanja yang kurang, tetangga yang menyebalkan, anak-anak yang memberantaki rumah, dan lain sebagainya.

Suaminya pun tersenyum menggoda, “Nah, begitu doong istriku tercinta tidak ngomel-ngomel kan terlihat lebih cantik!”

Mendengar kata ‘istriku tercinta’ dan ‘terlihat lebih cantik’, wanita itu pun terenyuh. Ia sadar sudah salah paham, mengira suaminya tak cinta lagi padanya, padahal suaminya bersikap dingin justru karena tak mendapat pelayanan yang baik darinya sebagai istri.

Tiba-tiba wanita itu panik, hanya beberapa jam lagi racun akan bekerja dan dirinya akan segera meninggal dunia, meninggalkan anak-anak dan suami yang selama ini belum diurusnya dengan baik. Tengah malam itu juga, ia pun menelpon orang bijak yang tadi memberinya sebotol racun.

“Pak, apakah Anda punya penawar racunnya? Saya ternyata belum siap mati! Masih banyak yang harus saya perbaiki!”

Orang bijak itu tertawa di ujung telepon sana. “Baguslah Anda sudah sembuh… Sebenarnya isi botol itu hanyalah jamu, bukan racun. Dan Anda tidak akan mati karena jamu tersebut, syukurlah Anda saat ini sudah sembuh!”

Sahabat, bayangkan jika dalam waktu 1×24 jam nyawa kita akan dicabut, kira-kira apakah yang akan kita lakukan?

Menangisi hidup? Bersifat lemah dan terus mengeluh? Atau justru kita akan menghabiskan 1 hari terakhir untuk melakukan hal-hal yang baik, agar manusia mengenang kebaikan kita dan bukan justru sebaliknya?!

Sesungguhnya jika kita terus-menerus menyadari bahwa kematian senantiasa mengintai, kita tak akan lagi memusingkan hal-hal sepele, kita tak akan sibuk mengeluhkan hal-hal yang tidak berguna, kita akan fokus pada hal penting yang perlu diperbuat, karena kita tahu tak akan membawa apa-apa dari dunia ini selain amalan shaleh.

Itulah sebabnya Rasulullah menyuruh kita untuk memperbanyak mengingat kematian:

‘Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan’, yaitu kematian. (HR. At Tirmidzi, Syaikh Al Albaniy dalam Shahih An Nasa’iy 2/393 berkata : “hadits hasan shahih”)

Kisah saduran yang ditulis ulang tersebut semoga bisa menyadarkan kita pentingnya mengingat mati agar hidup lebih bermakna.

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Wahai Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan termasuk orang-orang yang shaleh? Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Munafiqun : 10-11)

Jika kita hanya punya waktu 1×24 jam dari sekarang, maka yang perlu kita lakukan adalah bersedekah, yakni berbuat kebaikan sekecil apapun pada orang di sekitar kita, kendati hanya mengulas senyum.

Pertanyaannya, bisakah kita selalu merasa diintai oleh kematian ataukah kita masih merasa kematian itu begitu jauh? (SH)

Wakaf Sekarang