Kepekaan Terhadap Nikmat

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Kepekaan Terhadap NikmatSahabat, pernah mencoba minum segelas kopi di sebuah kafe ternama? Aroma dan kenikmatan kopi cita rasa tinggi kadangkala membuat ‘ketagihan’. Dan biasanya hal ini membuat kita kurang bisa lagi menikmati kopi sachet buatan istri di rumah, apalagi kopi yang dijajakan di warung pinggir jalan.

Padahal bisa jadi awalnya kita sangat menyukai kopi sachet racikan gula dan creamer di rumah, tapi begitu lidah mengenali cita rasa yang lebih dahsyat, jadilah kita membanding-bandingkan, dan akhirnya kita tak lagi ‘doyan’ dengan kopi yang biasa saja, mengapa demikian? Karena tingkat kepekaan rasa kita makin meninggi.

Demikian pula yang terjadi pada kenikmatan yang lain. Misalnya, orang yang awalnya memiliki penghasilan 3 juta dan ia amat bersyukur atas nilai gaji tersebut, kemudian gajinya meningkat menjadi 5 juta, lalu kembali naik menjadi 7 juta, maka ketika nilai gaji tersebut berkurang menjadi 3 juta lagi, ia yang awalnya bersyukur hampir bisa dipastikan akan berubah menjadi mengeluh.

Mengapa begitu? Karena semakin tinggi nikmat yang pernah dirasakan, maka sensitivitas alias kepekaan seseorang terhadap nikmat biasanya makin berkurang.

Bisa dibayangkan bagaimana orang yang biasa tidur dengan AC di kamar, ke mana-mana naik mobil pribadi, selalu makan makanan ala restoran, memakai bahan terbaik untuk pakaian yang dikenakannya sehari-hari, jika sewaktu-waktu nikmat-nikmat tersebut tercerabut darinya, tentu akan sulit baginya beradaptasi dengan kondisi serba kekurangan.

Mungkin itulah sebabnya Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam meskipun mampu memiliki kehidupan layaknya orang kaya raya, namun beliau senantiasa merendahkan standar hidupnya, sehingga dirinya bisa begitu peka dengan segala nikmat yang Allah berikan.

Beliau hanya tidur beralaskan tikar yang membekas di tubuhnya, hampir tidak pernah makan sampai kenyang, tidur secukupnya saja, dan memperbanyak berpuasa.

Ketika Hafshah istri Rasulullah ditanya tentang alas tidur Rasulullah, dia menjawab, “Kain wol kasar yang kami lipat dua. Suatu malam, tebersit di benakku untuk melipatnya menjadi empat. Ternyata paginya beliau bertanya, ‘Apa yang kau jadikan alas tidurku tadi malam?’

Aku jawab, ‘Itu adalah alas tidurmu, hanya saja tadi malam aku lipat menjadi empat. Aku pikir itu akan lebih nyaman untukmu.’ Sekonyong-konyong beliau bersabda, ‘Kembalikan lagi ke keadaan semula (dilipat menjadi dua). Ketahuilah, kenyamanannya telah menghambatku (mendirikan) shalat tadi malam.” (HR Tirmidzi)

Diriwayatkan dari Aisyah, Rasulullah S.A.W. berkata kepadaku ” Sesungguhnya Allah menawarkan kepadaku dataran Mekkah untuk dijadikan emas dan diberikan kepadaku, maka aku menolaknya, lalu aku berkata : Aku tidak mengharapkan itu semuanya Ya Allah, akan tetapi aku lebih senang sehari lapar dan sehari kenyang. Tatkala hari yang aku merasakan lapar, aku merendah diri dan berdo’a kepada-Mu, sementara tatkala hari yang aku merasakan kenyang, aku bersyukur dan memuji-Mu “

Bukankah dengan cara demikian kepekaan beliau terhadap nikmat Allah akan senantiasa terjaga? Bahkan menyantap sebutir kurma pun akan terasa begitu nikmat, menelan seteguk air pun akan terasa dahsyat.

Tak mengherankan juga jika Rasulullah menyuruh kita selaku umatnya untuk senantiasa mengingat kematian, pemutus segala kelezatan dan kenikmatan duniawi. Dengan demikian kepekaan dan kesyukuran kita terhadap nikmat Allah akan tetap terpelihara.

Bukankah seringkali kita baru menyadari nikmatnya bernafas di kala hidung tersumbat? Kita baru menyadari nikmatnya makan di saat gigi kita sedang sakit atau maag lambung kumat? Bahkan menyadari nikmatnya memiliki orangtua saat mereka telah tiada?

Maka, semoga dengan terus-menerus mengingat kematian, kita akan senantiasa peka akan kenikmatan hidup barang sekecil apapun jua.

Sahabat, jangan sampai kita kehilangan kepekaan terhadap nikmat yang diberikan Allah hanya karena kita terlalu sering memanjakan ‘seonggok daging’ ini. Semakin kita memanjakan badan dengan segala nikmat duniawi, waspadalah akan berkurangnya sensitivitas terhadap kenikmatan itu sendiri. Karena dunia ini ibarat air laut yang semakin diteguk malah semakin membuat dahaga. Wallahualam. (SH)

Baca Juga: Alasan Tercabutnya Nikmat

Wakaf Sekarang