Skip to content

5 Kisah Perempuan Dermawan dan Cerdas di Zaman Nabi

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Kisah perempuan cerdas dan dermawan di zaman nabi

Sejak zaman nabi, perempuan memiliki peran penting dalam sejarah dunia, politik, hadist, hingga perdagangan. Kendati demikian, kisah para perempuan cerdas nan dermawan di zaman nabi masih kurang diketahui oleh khalayak luas. Inilah 5 kisah para perempuan tangguh untuk menjadi inspirasi sukses di dunia dan akhirat!

1. Khadijah binti Khuwailid 

Ialah Khadijah binti Khuwailid, seorang pedagang mahsyur yang terkenal karena kearifan dan kebijaksanannya. Perempuan kelahiran 555 M dan berdarah Quraisy adalah sosok mandiri, cerdas, dan dermawan. Para masyarakat Quraisy menyebut beliau sebagai tokoh masyarakat yang paling dihormati.

Ia merupakan istri pertama dan abadi dari Rasulullah SAW sekaligus pemeluk Islam pertama. Sebelum menjadi suami dan era kenabian, Muhammad merupakan rekan bisnis sang saudagar Khadijah.

Saat menjalankan bisnis, Rasulullah ditemani budak bernama Maisarah. Omzet selalu melambung saat Muhammad berdagang hingga membuat Maisarah takjub. Tak hanya itu, ia selalu berdagang dari hati yang terlihat dari sikap beliau yang jujur, ramah, santun, baik hati, dan terpercaya.

Setelah pulang dari berdagang, Maisarah bercerita tentang harinya dan karakter Rasulullah. Semua itu membuat Khadijah terpikat pada tutur dan akhlak Muhammad. Ia tidak hanya memandang baginda sebagai rekan kerja, akan tetapi juga sebagai pribadi manusia.

Lalu, Rasulullah dan Khadijah menikah dengan mahar dua puluh unta muda. Saat itu, Khadijah berusia 40 tahun dan Rasulullah berumur 25 tahun. Dari pernikahan dan rumah tangga yang penuh kedamaian, lahirlah Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah.

Khadijah setia menemani perjuangan Rasulullah selama 25 tahun.  Khadijah adalah orang pertama yang percaya kepada Allah dan Rasul beserta ajaran-Nya. Menjadi Nabi berarti harus siap dengan kesepian dan terpinggirkan karena tantangan yang ia hadapi untuk menuntun umat ke jalan yang benar.

Rasulullah merasa ringan bebannya karena di sampingnya ada pasangan pilihan Allah yang senantiasa memberikan dukungan materi, psikologis, dan kasih sayang untuk dakwahnya. Seperti, saat wahyu pertama turun tak disangka-sangka saat Rasulullah menyepi di Gua Hira.

Paman Khadijah, Waraqah bin Naufal memberi tahu keponakannya kalau suaminya sedang menghadapi risalah kenabian. Rasulullah minta tolong untuk diselimuti, lantas Khadijah dengan sigap menyelimutinya hingga hilang perasaan takutnya. Beliau menumpahkan semua keluh kesahnya hingga berkata,

“aku khawatir kepada diriku,” ujar Rasulullah.

Dukungannya terhadap dakwah Nabi Muhammad mendapatkan tempat spesial di hatinya. Saat 3 tahun masa kenabian, Khadijah meninggal dunia dan meninggalkan duka mendalam. Hati Nabi Muhammad mencelos hingga Allah menghiburnya dengan peristiwa Isra Miraj.

2. Aisyah binti Abu Bakar

Ini adalah kisah perempuan zaman nabi yang tak lekang oleh waktu dari Aisyah binti Abu Bakar. Setiap kali sahabat nabi dan perempuan berdiskusi dengan Aisyah, maka obrolannya mampu memperluas khazanah orang lain. Ingatannya kuat, peduli, dan kritis terhadap masalah sosial pada masanya.

Aisyah berusia 18 tahun pada saat Rasulullah meninggal dunia. Di sisi lain, mengutip dari Women and Islam: An Historical and Theological Enquiry (1991) oleh Fatima Mernissi, Aisyah pernah menjadi pemimpin pasukan pada Perang Jamal saat berusia 42 tahun.

Perempuan yang memiliki julukan Al-Humairah tersebut adalah perawi hadits unggul. Ia menghabiskan sisa hidupnya untuk belajar dan mengajar hadits. Hingga akhir hayatnya, ia berkontribusi menyumbang 242 hadits sebagai pusaka pengetahuan umat Islam.

3. Hafsah binti Umar

Hafsah binti Umar adalah putri dari Umar bin Khattab, yang populer dalam kepiawaiannya menghafal dan menjaga Al Quran. Hafshah memiliki nama lengkap Hafshah binti Umar bin Khaththab bin Naf’al bin Abdul-Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurt bin Rajah bin Adi bin Luay. Ia lahir dan tumbuh dari suku Arab Adawiyah.

Sebelum Umar bin Khattab mengenal Islam, ia merasa malu ketika Hafshah lahir karena terdapat mitos saat Arab jahiliyah bahwa anak perempuan adalah aib. Setelah masuk Islam, Umar bangga kepada anaknya yang menjadi penghafal Al Quran.

Berkat kasih sayangnya, Hafshah binti Umar tumbuh menjadi sosok yang kuat seperti ayahnya. Selain itu, ia memiliki kepribadian yang baik dan ucapan yang tegas.

Kecakapan Hafsah dalam menghafal Al Quran diteliti oleh sejarawan, seperti Ruqayya Y. Khan dalam jurnalnya berjudul Did a Woman Edit the Qur’an? Hafsa’s Famed Codex. Khan menjelaskan bahwa Hafsah binti Umar kemungkinan menjadi perempuan pertama yang menyimpan ayat-ayat Al Quran dalam bentuk teks tertulis.

Hafsah belajar Al Quran serta cara menulis ayat yang baik dan benar dari Rasulullah SAW. Ia menjadi sosok yang istimewa karena satu-satunya penghafal yang menulis ayat di bawah pengawasan langsung Nabi Muhammad. Maka dari itu, ayahnya, Umar bin Khattab menyebut anaknya sebagai penghafal Al Quran karena ia sendiri mencari Hafshah ketika terdapat perbedaan tafsir Al Quran.

Melansir dari Medievalists.net, sampai saat ini, para penghafal Al Quran lebih banyak berfokus kepada laki-laki. Di sisi lain, beberapa sejawaran menunjukkan bahwa perempuan juga berperan penting dalam kebangkitan agama Islam di tanah Arab, seperti Hafshah binti Umar. Ia adalah perempuan terpelajar yang vokal menjaga ayat Al Quran sebelum ditulis ulang di era khalifah Utsman bin Affan.

4. Fatimah binti Muhammad

Inilah kisah Fatimah Az-Zahra, putri dari Siti Khadijah dan Nabi Muhammad, tentang kesederhanaan, tawaduk, wara, bersahaja, dan bersabar dalam kesulitan. Kehidupan yang keras sejak belia membuatnya menjadi pribadi yang tegar. Di awal kenabian Nabi Muhammad, ia dan keluarganya menerima perundungan dari kafir Quraisy. Lalu, ibunda Khadijah wafat di saat ia masih balita.

Meskipun ditempa dengan kenyataan, Rasulullah sebagai ayah membimbing Fatimah dengan cinta dan kasih sayang. Dengan begitu, Fatimah pun memiliki sifat bersahaja, dermawan, dan tidak pendendam. Ia pernah memberi sedekah kepada musafir berupa kalung hadiah pernikahannya dengan Ali bin Abi Thalib. Musafir tersebut telah kehabisan bekal makanan dan hartanya.

Fatimah memiliki julukan Az-Zahra yang artinya wajah yang bersinar. Karena ketaatannya yang ia praktikkan dalam kehidupan sehari-hari, Rasulullah menjanjikan Fatimah Az Zahra akan masuk surga.

“Pemuka wanita ahli surga ada empat: Maryam binti Imran, Fatimah binti Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah.” (HR Muslim).

5. Nusaibah binti Ka’ab al-Mazneya

Nusaibah adalah kisah perempuan di zaman nabi yang dikenal sebagai tim medis di Perang Uhud. Ia adalah sang perisai Rasulullah yang berani dan sigap melindungi Rasulullah dari musuh di medan perang.

Sebagai tim medis, ia berkewajiban untuk memasok air dan mengobati pasukan muslim yang terluka. Saat para pemanah menembakkan anak panah dari atas bukit, Rasulullah kewalahan menangkis sendirian. Sekejap, Nusaibah dan lainnya membentuk pertahanan untuk melindungi beliau.

Meskipun ia mengalami luka-luka di sekujur tubuh, semangatnya terus membara. Keberaniannya membuat Rasulullah takjub hingga mendoakan ia dan anaknya, Abdullah, kelak menjadi sahabatnya di surga.

Selain Uhud, masih ada peperangan lain yang ia ikuti bersama suami dan putra-putranya, seperti Khaibar, Hunain, dan Yamamah.

Itulah kisah perempuan bersahaja di zaman nabi yang menginspirasi Anda. Mari, dukung terus pemberdayaan yang progresif untuk kehidupan perempuan yang lebih baik. Salah satu cara untuk merawat semangat adalah dengan patungan wakaf Khadijah Learning Center Dompet Dhuafa. Wah, apa itu?

Khadijah Learning Center, wadah pelatihan wirausaha perempuan

khadijah learning center klc dompet dhuafa

Khadijah Learning Center (KLC) adalah sebuah pusat aktivitas peningkatan pengetahuan, spiritual, dan keterampilan untuk melahirkan wirausaha perempuan yang berkarakter: profesional, cerdas, dan religius. Berdasarkan data statistik, kontribusi perempuan dalam bidang UMKM cukup signifikan.

Berdasarkan data dari BPS di 2021, sebanyak 64,5 persen dari total UMKM dikelola oleh kaum perempuan. Meskipun begitu, motivasi untuk mengembangkan usaha belum terlalu terlihat. Hal tersebut disebabkan oleh beragam faktor, salah satunya kurangnya tempat pelatihan agar bisnis menjadi berkelanjutan (sustain) dan bertahan.

Maka, Dompet Dhuafa ingin membersamai para womenpreneur Indonesia untuk tumbuh dan berkembang. Kami percaya, wanita punya power untuk memberikan kontribusi yang besar untuk lingkungannya. Yuk, wakaf mulai dari 10 ribu untuk Khadijah Learning Center. Perempuan berdaya karena wakafmu, klik di sini sekarang!

 

Wakaf Sekarang