KISAH WAKAF SUMUR UTSMAN BIN AFFAN RA

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Sumur-Utsman-bin-Affan

Kisah wakaf sumur Utsman bin Affan sangat terkenal di kalangan umat muslim. Utsman bin Affan terkenal dengan kisahnya yang membeli sumur Raumah, lalu digratiskan untuk kepentingan umat. Air dari sumur tersebut dialirkan ke kebun kurma yang berdampak meningkatkan kesejahteraan masyarakat pada masanya.

Hari itu panas terik dan gersang di kota-kota Jazirah Arab. Angin yang berhembuspun hawanya panas. Sumur-sumur di rumah warga kering kerontang. Kota Madinah sedang mengalami musim paceklik. Satu-satunya sumur yang sumber airnya masih mengalir adalah sumur Raumah, milik seorang Yahudi.

Nabi dan rakyat Madinah sudah merasa kahausan. Kaum muslimin dan warga Madinah terpaksa harus rela mengantri dan membeli air di sumur Yahudi tersebut.

Rasul bersabda lirih, tak kuasa melihatnya umatnya menderita karena kekeringan air.

“Wahai sahabatku, siapa saja diantara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka ia akan mendapatkan surgaNya Allah Ta’ala” (HR. Muslim).

Baca juga : Apa Itu Wakaf?

Utsman bin Affan segera menyambut seruan Nabi dan lansung mendatangi si pemilik sumur tersebut. Si Yahudi menawari harga yang sangat tinggi hingga puluhan dinar.

“Seandainya sumur ini saya jual kepadamu wahai Utsman, maka aku tidak punya penghasilan yang bisa aku peroleh setiap hari”, ucap  Yahudi tak ingin melepaskan sumurnya.

Utsman bin Affan yang ingin sekali mendapatkan balasan pahala surga tidak kehilangan cara untuk membeli sumur Raumah.

“Bagaimana kalau aku beli setengah saja dari sumurmu”, ucap Utsman  tak kehilangan akal untuk menawar.

“Maksudmu?’ tanya Yahudi keheranan

“Begini jika engkau setuju maka kita akan memiliki sumur ini bergantian. Satu hari  ini milikku, esoknya Kembali menjadi milikmu kemudian lusa menjadi milikku lagi dengan demikian berganti-gantian. Bagaimana?” Jelas Utsman terus melobi.

Yahudi itupun bengong terherang-heran, sambal bergumam,

“…..saya mendapatkan uang yang besar dari Utsman bin Affan tanpa harus kehilangan sumurku.”

Akhirnya Yahudi setuju menerima tawaran Utsman dan disepakati pula kepemilikannya secara bergantian.

Utsman pun segera mengumumkan kepada penduduk Madinah yang mau mengambil air di sumur untuk cukup dua hari.

“Silahkan mengambil air untuk kebutuhan rumah semua Gratis! Ambil sebanyak-banyaknya besok sumur ini milik si Yahudi.” Rakyatpun berbondong-bondong datang ke sumur Utsman.

Keesokan harinya Yahudi mendapati sumur miliknya sepi pembeli, karena penduduk Madinah masih memiliki persedian air di rumah. Merasa rugi Yahudi itu pun mendatangi Utsman dan berkata:

“Wahai Utsman belilah setengah lagi sumurku ini dengan harga yang sama seperti engkau membeli setengahnya kemarin”, ucap Raumah kepada Utsman.

Utsman setuju, lalu dibelinya seharga 20.000 dirham, maka sumur si Raumah pun menjadi milik utsman secara penuh. Secara resmi Utsman mewakafkan sumur tersebut untuk kepentingan kaum muslimin, dimanfaatkan untuk kepentingan umat, seluruh rakyat Madinah. Sumur itu menjadi sumber mata air lahan disekitarnya, hingga ditanam kebun kurma. Rakyat Madinah memanfaatkan kurma untuk berdagang dan hasilnya dimanfaatkan untuk umat.

Baca juga : Wakaf Produktif di Khaibar dari Umar bin Khattab

kebun-kurma-Utsman

Kebun kurma disekitar sumur wakaf Utsman bin Affan (Foto: Saudi Arabia Agency)

Pohon kurma terus bertambah, hingga diwariskan dari generasi ke generasi. Dari para Khalifah, hingga Daulah utsmaniyyah dan terkahir dikelola oleh pemerintah Arab Saudi. Dapertemen Pertanian Saudi menjual hasil dan ribuan pohon ke pasar-pasar. Setengah keuntungannya disalurkan ke anak yatim. Setengahnya lagi disimpan di rekening bank atas nama Utsman bin Affan dibawah pengawasan Dapertement Pertanian.

Dan kini, ribuan tahun berlalu, manfaatnya tak berhenti terus mengalir. Rekening Utsman bin Affan terus bertambah, hingga pemerintah Saudi memutuskan untuk membelikan tanah di kawasana Markaziyah (area ekslusif) dekat masjid Nabawi.

Hotel-Utsman-bin-Affan

Hotel Utsman bin Affan dibangun di Kawasan Markaziyah (kawasan elit) dekat Masjid Nabawi Madinah

Di atas tanah itulah dibangun hotel Utsman bin Affan di Madinah, bangunan dengan 210 kamar siap semwa dan 30 kamar khusus yang siap menyambut para wisatawan di Madinah. Hotel itu berdiri gagah setinggi 15 lantai dengan 24 kamar disetiap lantainya. Hasil dari surplus wakafnya? Tentu untuk kemanfaatan umat seluas-luasnya.

Masyaallah walaupun jasad tertimbun tanah, namun amal Utsman bin Affan terus mengalir tiada henti. Manfaatnya terus dirasakan hingga kini. Hotel dan rekening atas nama utsman menjadi saksi kedermawanan sahabat nabi dan bukti aktualisasi wakaf untuk kesejahteran umat. Wallahua’alam. (Nur Hafifah/Tabung Wakaf)