Kita Perlu Malu

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

rasa malu“Sesungguhnya dalam dirimu terdapat dua hal yang dicintai Allah, yaitu kesabaran dan rasa malu.”(Musnad Ahmad)

Sahabat, Sadarkah bahwa selama masih memiliki rasa malu, in syaa Allah kita masih berada dalam koridor keimanan dan cintanya Allah?

Tentu yang dimaksud dengan rasa malu di sini bukanlah rendah diri alias minder, seorang yang beriman takkan merasa minder apalagi dalam urusan keduniawian karena ia tahu Allah senantiasa memberi yang terbaik untuknya.

Malu yang dimaksud di sini berkenaan dengan rasa malu ketika berbuat hal yang buruk. Bukankah tanpa rasa malu manusia tak berbeda dari binatang? Bagaimanapun, rasa malu merupakan bagian dari iman yang harus selalu ada dalam diri kita.

“Iman terdiri dari 60 cabang lebih dan rasa malu sebagian cabang dari iman.” (HR. Bukhari)

Berikut ini beberapa ciri orang yang masih memiliki rasa malu:

1. Menjaga ucapan

Malu adalah bagian dari iman dan keimanan itu berada di surga. Ucapan yang jorok berasal dari akhlak yang buruk dan akhlak yang buruk tempatnya di neraka.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab Birr Was Shilah, Hadits nomor 1932)

Hadits di atas menyandingkan rasa malu sebagai bagian dari surga dan juga ucapan jorok sebagai bagian dari neraka. Artinya, seorang yang memiliki rasa malu, terlihat dari ucapannya yang terjaga. Ia takkan berbicara jorok, kasar, atau menyakiti orang lain dengan lisannya.

Jelas bahwa orang yang telah terbiasa mengucapkan hal jorok, kasar, menghina terang-terangan, bahkan tak merasa bersalah karenanya, telah kehilangan rasa malu sekaligus keimanan pada dirinya.

2. Tidak berbuat sesuka hati, melainkan dengan memikirkan baik buruknya terlebih dahulu

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya salah satu perkara yang telah diketahui oleh manusia dari kalimat kenabian terdahulu adalah, ‘Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.’” (HR. Bukhari)

Jelas bahwa rasa malu menjadi rem bagi orang beriman, ia takkan melakukan segala sesuatu sekehendak hatinya saja karena ia mengerti dalam tiap perbuatan mengandung konsekuensi baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Orang yang telah kehilangan rasa malunya takkan memahami konsep ini, ia bisa melepas pakaiannya di mana saja, melakukan hal buruk terang-terangan tanpa merasa berdosa, menghardik anak yatim dan orang miskin tanpa merasa bersalah, memakan harta bathil seperti korupsi dengan perasaan bangga, membakar hutan demi keuntungan diri dan golongannya dengan sengaja, serta perbuatan menjijikkan lainnya.

Sahabat, betapa pentingnya memiliki rasa malu sebagai penghias perilaku kita.

3. Menjaga isi kepala, isi perut, dan banyak mengingat kematian

Orang yang memiliki rasa malu di dadanya pastilah menjaga pikiran, perut dan juga banyak mengingat pemusnah kenikmatan yakni kematian. Ia tahu bahwa semua perbuatannya akan dipertanggungjawabkan sesudah kematian datang, maka ia pun malu berbuat buruk.

“Hendaklah kalian malu kepada Allah Azza wa Jalla dengan sebenar-benar malu. Barang-siapa yang malu kepada Allah dengan sebenar-benar malu, maka hendaklah ia menjaga kepala dan apa yang ada padanya, hendaklah ia menjaga perut dan apa yang dikandungnya, dan hendaklah ia selalu ingat kematian dan busuknya jasad. Barangsiapa yang menginginkan kehidupan akhirat hendaklah ia meninggalkan perhiasan dunia. Dan barangsiapa yang mengerjakan yang demikian, maka sungguh ia telah malu kepada Allah Azza wa Jalla dengan sebenar-benar malu.” (HR.at-Tirmidzi (no. 2458), Ahmad (I/ 387), al-Hâkim (IV/323))

4. Menyembunyikan maksiat yang dilakukannya

Setiap manusia pasti melakukan kesalahan, bahkan seorang yang beriman pun bisa terjerumus dalam perbuatan maksiat, namun bedanya, ada orang yang terang-terangan memperlihatkan kemaksiatannya, ada yang sembunyi-sembunyi dan meminta Allah menutupi aibnya karena ia masih memiliki rasa malu.

Beruntunglah orang yang malu terhadap maksiatnya dan mencoba untuk menyembunyikannya karena jijik pada perbuatan tersebut, karena dengan demikian Allah masih akan mengampuni dosa-dosanya tersebut.

“Setiap umatku pasti dimaafkan, kecuali orang yang melakukan maksiat secara terang-terangan.” (HR.al-Bukhâri (no. 6096) dan Muslim (no. 2990) dari Abû Hurairah)

Sahabat, apakah kita masih memelihara rasa malu? Ataukah kita seorang munafik yang memakai topeng keshalehan di hadapan manusia untuk menutupi keburukan yang kita lakukan tanpa malu-malu di hadapan Allah? Naudzubillah. Semoga Allah mengaruniakan rasa malu di hati kita hingga akhir hayat. (SH)

Wakaf Sekarang