KPI Shalat

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

lima tingkatan manusia di dalam shalat, kpi shalat, tabung wakafSahabat, dalam sebuah perusahaan, untuk mengukur kinerja seseorang, bahkan sekalipun yang bersifat kualitatif dan rumit, bisa menggunakan KPI (Key Performance Indicators), di mana terdapat matrik-matrik penilaian yang bisa memperlihatkan nilai kinerja seseorang, meskipun untuk menentukannya tentu membutuhkan rumusan yang kompleks.

Lalu bagaimana dengan amalan shalat yang kita lakukan? Adakah matrik-matrik yang bisa memperlihatkan nilai ‘KPI’ shalat seseorang? Karena bukankah ada seseorang yang mengerjakan shalat selama puluhan tahun namun tak ada satu pun yang diterima oleh Allah?

“Sesungguhnya (ada) seseorang yang sholat selama enam puluh tahun, namun tidak ada satu sholat pun yang diterima. Barangkali orang itu menyempurnakan ruku’ tapi tidak menyempurnakan sujud. Atau menyempurnakan sujud, namun tidak menyempurnakan ruku’nya.” (Hadits hasan riwayat al-Ashbahani dalam at-Targhib, lihat ash-Shohihah no. 2535)

Astaghfirullah. Betapa kita sering melalaikan shalat, padahal inilah amalan pertama yang kelak dihisab di hari kiamat.

“Sesungguhnya pertama kali yang dihisab (ditanya dan diminta pertanggungjawaban) dari segenap amalan seorang hamba di hari kiamat kelak adalah shalatnya. Bila shalatnya baik maka beruntunglah ia dan bilamana shalatnya rusak, sungguh kerugian menimpanya.” (HR. Tirmidzi)
Dengan demikian, kita perlu mengetahui apa sajakah yang bisa dijadikan indikator shalat seseorang itu sudah baik dan benar, serta bisa diterima oleh Allah. Karena begitu banyak orang yang melakukan shalat namun hanya mendapat pahala sepersepuluhnya saja.

“Sesungguhnya seseorang benar-benar selesai (dari sholat) namun tidak dituliskan (pahala) baginya melainkan hanya sepersepuluh dari sholatnya, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, atau setengahnya.” (Hadits shohih riwayat Abu Daud)

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah mengatakan bahwa ada lima tingkatan manusia di dalam shalat:

1. Tingkatan orang yang zhalim kepada dirinya dan teledor.

Maksudnya adalah orang yang kurang sempurna dalam wudhunya, waktu shalatnya, batas-batasnya dan rukun-rukunnya.

2. Orang yang bisa menjaga waktu-waktunya, batas-batasnya, rukun-rukunnya yang sifatnya lahiriyah, dan juga wudhunya, tetapi tidak berupaya keras untuk menghilangkan bisikan jahat dari dalam dirinya. Maka dia pun terbang bersama bisikan jahat dan pikirannya.

3. Orang yang bisa menjaga batas-batasnya dan rukun-rukunnya.

Ia berupaya keras untuk mengusir bisikan jahat dan pikiran lain dari dalam dirinya, sehingga dia terus-menerus sibuk berjuang melawan musuhnya agar jangan sampai berhasil mencuri shalatnya. Maka, dia sedang berada di dalam shalat, sekaligus jihad.

4. Orang yang melaksanakan shalat dengan menyempurnakan hak-haknya, rukun-rukunnya, dan batas-batasnya. Hatinya larut dalam upaya memelihara batas-batas dan hak-haknya, agar dia tidak menyia-nyiakan sedikitpun darinya.

Bahkan seluruh perhatiannya tercurah untuk melaksanakannya sebagaimana mestinya, dengan cara yang sesempurna dan selengkap mungkin. Jadi, hatinya dirasuki oleh urusan shalat dan penyembahan kepada Tuhan di dalamnya.

5. Orang yang melaksanakan shalat dengan sempurna. Dia mengambil hatinya dan meletakkannya di hadapan Tuhan.

Dia memandang dan memperhatikanNya dengan hatinya yang dipenuhi rasa cinta dan hormat kepadaNya. Dia melihatNya dan menyaksikanNya secara langsung.
Bisikan dan pikiran jahat tersebut telah melemah. Hijab antara dia dengan Tuhannya telah diangkat. Jarak antara shalat semacam ini dengan shalat yang lainnya lebih tinggi dan lebih besar daripada jarak antara langit dan bumi. Di dalam shalatnya, dia sibuk dengan Tuhannya. Dia merasa tenteram lewat shalat.

Dari pemaparan tersebut kita bisa mengetahui bahwa ada beberapa poin yang perlu diperhatikan dalam mengerjakan shalat:

1. Menyempurnakan rukun-rukun shalat dengan baik
“Shalat tidaklah sempurna sampai salah seorang di antara kalian menyempurnakan wudhu… kemudian bertakbir, lalu melakukan ruku’ dengan meletakkan telapak tangan di lutut sampai persendian yang ada dalam keadaan thuma’ninah dan tenang.” (HR. Ad Darimi)

2. Mengerjakan shalat tepat pada waktunya bahkan di awal waktu

3. Melawan bisikan jahat yang melalaikan selama shalat

4. Menghadapkan hati pada Allah
Di luar itu, kita perlu menyertakan juga beberapa poin untuk mengukur efek dari shalat yang kita kerjakan:

5. Menjauhi perbuatan keji dan mungkar

Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabut: 45).
Jika seseorang shalat, namun ia tetap melakukan kekejian dan kemungkaran, artinya shalatnya tersebut tidaklah bermanfaat baginya.
Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang shalatnya tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia tidak bertambah dari Allah kecuali semakin jauh dariNya” (diriwayatkan oleh ath Thabarani dalam al-Kabir nomor 11025, 11/46)

6. Shalat menjadikan seseorang bertambah taat pada Allah

“Shalat tidaklah bermanfaat kecuali jika shalat tersebut membuat seseorang menjadi taat.” (HR. Ahmad)
Jika shalat yang dilakukan seseorang tidak menjadikannya makin taat pada Allah, malah sering membangkang pada aturanNya, maka shalatnya tersebut bisa dikatakan tidaklah bermanfaat bagi dirinya. Wallahualam. (SH)

Baca Juga: Pria Sejati Adalah yang Shalat Berjamaah di Masjid 5 Waktu

Wakaf Sekarang