Mengatur Tidur Pangkal Kebajikan

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

mengurangi waktu tidur, mengatur tidur pangkal kebajikan”Sesungguhnya, orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami adalah mereka yang apabila diperingatkan (ayat-ayat itu) mereka menyungkur sujud seraya bertasbih dan memuji Rabb-nya dan mereka tidak menyombongkan diri. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya. Mereka selalu berdoa kepada Rabb-nya dengan penuh rasa takut dan penuh harap serta menginfakkan rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS as-Sajdah 15–16)

Sahabat, sesungguhnya Rasulullah dan para sahabat radiyallaahu ‘anhum bukanlah orang-orang yang gemar tidur. Mereka adalah sosok manusia yang tidur sekadar melepas lelah dan menunaikan hak tubuh saja.

Bisa dikatakan bahwa kurang tidur merupakan salah satu pangkal kebajikan, tentu saja jika waktu tidur dialihkan untuk beribadah, semisal shalat malam, tilawah, berdzikir, berdoa, ataupun perbuatan bajik lainnya.
Sangat disayangkan bahwa ada orang yang tidurnya amat kurang, namun justru dialihkan untuk memuaskan nafsu mereka semata. Misalnya nafsu untuk menonton pertandingan bola, nafsu untuk mengakses pornografi, nafsu untuk game online, atau nafsu buruk lain.

Ada pula orang yang waktu tidurnya sedikit dikarenakan terlampau banyak memakainya untuk kepentingan pekerjaan, entah itu lembur, mengerjakan tugas yang belum selesai, proyek, dan sebagainya. Apakah hal ini diperbolehkan?

Jawabannya tentu saja tergantung pada apa niatnya dalam bekerja. Jika ia bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, maka itu termasuk ke dalam jihad, namun jika ia bekerja siang malam hanya untuk mengumpulkan harta yang banyak, maka hal ini tak dibenarkan:

“Memangnya jihad di jalan Allah itu hanya yang terbunuh (dalam perang) saja? Siapa yang bekerja untuk menghidupi orang tuanya, maka dia di jalan Allah, siapa yang berkerja menghidupi keluarganya maka dia di jalan Allah, tapi siapa yang bekerja untuk bermewah-mewahan (memperbanyak harta) maka dia di jalan thaghut.” (HR Thabrani, Al-Mu’jam Al-Ausath).

Lalu apa yang menjadikan kurang tidur sebagai Pangkal kebajikan? Berikut beberapa penjelasannya:
1. Mengurangi waktu tidur membuat kita bisa mengoptimalkan pemakaian waktu
Kalau mau menghitung dengan jujur, sepertinya dalam hidup keseharian kita amat banyak waktu ‘terbuang’ hanya untuk tidur yakni sejumlah 8 jam, yakni 1/3 hari. Oleh sebab itu, kita perlu menyadari betapa pentingnya mengalihkan penggunaan waktu tidur untuk hal lain yang lebih bermanfaat dunia akhirat.

2. Waktu mustajab untuk berdoa dan berkhalwat dengan Allah ada di sepertiga malam terakhir, di saat banyak orang sedang terlelap tidur.
“Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun ke langit dunia setiap sepertiga malam akhir. Ia lalu berkata: ‘Barangsiapa yang berdoa, akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku akan Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, akan Aku ampuni. Hingga terbit fajar‘ ” (HR. Bukhari 1145, Muslim 758)

3. Banyak tidur mengundang penyakit
15% Orang yang terlalu banyak tidur atau lebih dari 9 jam per malam menderita depresi, berpotensi terkena diabetes, serta 38% lebih potensial terkena jantung koroner.

Peneliti juga menemukan bahwa wanita yang tidur lebih dari 9 jam setiap malam, otaknya akan mengalami penuaan dua tahun lebih cepat. Sedangkan terhadap wanita lansia, tidur terlalu banyak tidur dapat memperburuk fungsi otak selama enam tahun.

Sahabat, demikianlah sedikit alasan mengapa mengurangi waktu tidur bisa membawa banyak kebaikan untuk diri kita. Oleh sebab itu kita perlu melakukan evaluasi diri, apakah kebiasaan tidur kita sudah tepat? Atau masih berlebihan dan perlu untuk dikurangi? (SH)

Baca Juga: Gaya Hidup Akhirat

Wakaf Sekarang