LKC Dompet Dhuafa: Kebaikan yang Mewabah

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Tim LKC memeriksa mata pasien di RS Mata Serang. Foto: Dompet Dhuafa

Sebaran LKC Dompet Dhuafa di Indonesia bagai kebaikan yang mewabah. Jika virus dikonotasikan negatif, izinkan virus kebaikan yang satu ini menjadi positif.

2001, hanya LKC Ciputat yang berdiri untuk menopang bantuan kesehatan dhuafa. Walau hanya satu, fokus para pendiri untuk merawat sehat saat itu nampaknya sudah mulai mendapat centang satu demi satu.

Kini, di usia Dompet Dhuafa menjelang seperempat abad, sudah ada 14 LKC dan Gerai Sehat di Indonesia. Tiga diantaranya sudah menerima layanan BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) yang bersinergi dengan program Negara.

Kehadiran BPJS

Dahulu, saat LKC berdiri pada 2001, kehadirannya bagai buah hati yang ditunggu tunggu. Memang pemerintah saat itu belom gencar menggerakan asuransi jiwa pro masyarakat belum mampu.

Bagaimana tidak menarik perhatian, Dompet Dhuafa berikan layanan tak berbayar. Belum lagi dengan obat dan operasi yang diberikan.

Banyak yang bertanya seperti ini, “Sekarang kan sudah ada BPJS, Layanan Kesehatan Cuma Cuma jadinya bagaimana?,”.

Tak kenal maka tak sayang. Miza Elman sebagai Direktur LKC Jakarta dan Banten jelaskan tugas LKC setelah kehadiran BPJS. Ia mengatakan tidak semua dhuafa memiliki dan ter-cover BPJS. Menurutnya, inilah yang menjadi salah satu tugas LKC.

“Iuran BPJS paling murah 25.500. Sedangkan bayar BPJS itu harus satu keluarga. Dikalikan saja untuk berapa orang. Untuk iuran itu mereka tidak bisa bayar, maka bisa langsung ke LKC,” kata Miza (10/4).

Saat ditanyakan mengenai persentase member LKC yang miliki BPJS dan tidak memiliki BPJS, ternyata sebagian besar memiliki BPJS. Ya, menurut LKC, warga Negara tetap harus taat pada regulasi yang disusun Pemerintah, selagi mereka mampu membayar.

Namun, ada beberapa kasus yang memang harus tetap membutuhkan bantuan lembaga yang salah satunya adalah LKC. Pada beberapa kasus, LKC dapat melengkapi perawatan yang tidak ter-cover BPJS.

“Obat BPJS kan terbatas ya. Tidak semua bisa didapat penerima BPJS. Memang ada member LKC sekaligus member BPJS disini” tambah Miza.

LKC juga membantu kaum urban kurang mampu untuk akses kesehatan. Sebagaimana yang kita ketahui, untuk mendaftar BPJS butuh data yang lengkap, beberapa data itu diantaranya Kartu Keluarga (fotocopy) dan KTP (fotocopy). Tapi percayalah, ada saja warga yang tidak punya atau kehilangan data penting itu.

LKC akan membantu proses penanganan pasien dengan kelengkapan surat keterangan dari RT dan RW. Namun jika pasien mampu membayar BPJS, LKC akan mengarahkan pembuatan BPJS tersebut.

Sebaran Kebaikan

14 LKC dan Gerai Sehat sudah berdiri di beberapa wilayah Indonesia dengan beberapa pertimbangan dan kesempatan yang didapatkan. Beberapa LKC dan Gerai Sehat yang sudah berdiri diantaranya Gerai Sehat Aceh, Gerai Sehat Palembang (terakses BPJS), Gerai Sehat Ciputat (terakses BPJS), Gerai Sehat Rorotan Jakarta Utara, Gerai Sehat Bekasi, Gerai Sehat Tambun, Gerai Sehat Purwokerto, Gerai Sehat Yogya, Gerai Sehat Makasar, Layanan Kesehatan Thibun Nabawi DD Balikpapan, Gerai Sehat Makassar, Gerai Sehat Kupang (terakses BPJS), Layanan kesehatan kerjasama dengan MHC Abepura Papua, dan Gerai Sehat Madiun.

“Mendirikan Gerai Sehat atau Layanan Kesehatan pasti kita punya pertimbangan. salah satunya adalah jumlah dhuafa di wilayah itu,” kata Miza.

14 layanan kesehatan ini terpantau dalam satu pusat di LKC Jakarta dan Banten yang berlokasi di Jalan Insinyur H. Juanda No.34, Ciputat Mega Mall D-01. Corporate Communication (Corcom) LKC juga membuat info semua layanan kesehatan ini dalam satu wadah, lkc.dompetdhuafa.org.

Tabung Wakaf sempat bertanya pada LKC, LKC dan Gerai Sehat mana yang paling sedikit pasiennya. Dilihat dari lokasi, pastinya jumlah pasien sangat beragam. Tapi ternyata fakta lain terbuka dalam obrolan bersama Miza Elman.

“Semenjak hadirnya BPJS, jumlah pasien LKC mulai berkurang. Tapi menurut kami itu hal bagus, kesehatan sudah jadi perhatian pemerintah,” ujar Miza.

Miza menambahkan, program LKC bukan hanya layanan kesehatan tak berbayar yang dilakukan di lokasi keberadaan LKC. Jemput bola dilakukan LKC dalam upaya sebaran kebaikan berupa edukasi dan sosialisasi di lingkungan sekitar.

“Saat ini untuk LKC Jakarta dan Banten ada kegiatan pelatihan dan kampanye tuberkulosis. Juga ada Komunitas Sayang Ibu yang baru baru ini dilakukan,” tambahnya

Sinergi

Hampir 100 relawan turut andil dalam program edukasi dan sosialisasi LKC. Kegiatan tersebut tentunya masuk dalam program unggulan. Selain berikan bantuan kesehatan cuma cuma, LKC juga perlu lakukan edukasi kesehatan dan sosialisasi berbagai program yang akan dilaksanakan.

Miza menyebutkan dua program yang tengah digalakan LKC. Dua diantaranya adalah kegitan pelatihan dan kampanye untuk Tuberkulosis dan Komunitas Sayang Ibu.

“Rata-rata relawan LKC memang banyak Ibu-Ibu ya. Kader LKC juga banyak dari Posyandu. Bapak-Bapak nya kan pastinya banyak yang bekerja,” ujar Miza saat ditanya Tabung Wakaf perihal rerata relawan LKC di Jakarta dan Banten.

Sampai saat ini, sudah banyak warga sekitar menjadi bagian dari edukasi sehat LKC dalam ranah lingkungannya. Peran ini tidak kecil, relawan bagai corong keluhan kesehatan terkecil.

Terkenang dengan warga Ciputat yang mengalami kecelakaan di tanjakan Emen, Subang. Beberapa dari korban adalah relawan LKC Ciputat.

“Ada 3 orang. Tahu kabarnya, langsung saya dan tim ke rumah duka. Ikut juga ke pemakaman umumnya,” cerita Miza.

Ia berkisah, sebagian besar para Ibu yang tergabung dalam koperasi daerah itu merupakan relawan LKC. Ada 3 mobil yang turut jalan saat itu, para relawan yang menjadi korban luka juga banyak.

LKC sungguh kehilangan relawan yang berpulang karena kecelakaan tersebut. Bagi LKC, relawan berikan sumbangsih sangat besar. Terlebih Miza memberi tahu tak ada bayaran bagi relawan. Harapannya, semoga amal dari ibadahnya terus mengalir.

Harapan

LKC selalu berharap untuk menjadi deretan garda terdepan untuk memenuhi hak sehat dhuafa. Sesuai dengan jargon kesehatan Dompet Dhuafa, “Sehat Milik Semua”.

Istilah jemput bola juga digunakan untuk penuhi aksi layan sehat ini. Ada RDK (Respon Darurat Kesehatan) yang juga tonggak dari LKC.

Miza mengatakan, ini juga cara efektif dan maksimal yang dilakukan LKC. Bukan hanya tak berbayar, namun juga pelayanan diutamakan. Karena baginya dan LKC, tak semua dhuafa dapat menghampiri LKC. Entah itu karena keterbatasan info atau kemampuan menghampiri LKC.

“RDK lah yang menjemput pasien dhuafa. Semoga ini semakin maksimal dan info dari RDK menyebar ke semua,” tutup Miza. (Mutia Rabbani Hanifah)

Baca Juga:

Wakaf Rumah Sakit Hasyim Asyari

Wakaf Sekarang