Manusia Matrelialistis

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

manusia matreDan mereka mengatakan, hidup hanyalah kehidupan kita di dunia ini saja, dan kita sekali-sekali tidak akan dibangkitkan.” (QS. al-An’am: 29)

Sahabat, apakah kita pernah berpikiran bahwa kehidupan hanyalah di dunia ini saja dan tidak ada hari kebangkitan setelah kematian? Jika demikian, kita bisa saja terjebak pada pemikiran matrelialistis di mana segala sesuatu diukur dengan materi.

Kesuksesan ditarget dengan pencapaian materi, yakni semakin kaya berarti semakin sukses. Ketika gaya hidup semakin mewah, fasilitas semakin lengkap, jabatan semakin tinggi, paras semakin rupawan, inikah yang disebut kesuksesan?

Sama sekali tidak! Sungguh pemikiran manusia matre sangat jauh berbeda dengan konsep dunia yang sebenarnya. Allah telah memberitahukan kita dalam al quran bahwa dunia hanyalah tempat sementara manusia untuk diuji, sehingga parameter kesuksesan adalah seberapa baik manusia dalam menghadapi berbagai ujian tersebut.

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.” (QS. Al-Kahfi: 7)

Beda dengan konsep matrealistis yang menargetkan emas, perak, kendaraan terbaik, properti, wanita, serta anak-anak keturunan sebagai tujuan hidup, orang yang paham mengenai konsep hidup dalam Islam akan menargetkan keridhoan Allah dan tempat kembali yang baik setelah kematian.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Al-Imran: 14)

Hal ini berimbas pada cara hidup yang dipilih. Manusia matre akan menghalalkan segala cara untuk mencapai targetnya, sedangkan manusia yang beriman akan melakukan segala cara halal untuk merebut posisi di surgaNya.

Tak mengherankan jika para ‘manusia matre’ takkan mencapai pemikiran mengenai kezuhudan, yakni pengabaian terhadap materi. Mendengar kisah Rasulullah dan Sahabat yang saling berlomba dalam menyedekahkan harta yang jika dikonversikan ke saat ini bisa bernilai ratusan juta bahkan Milyaran, seolah-olah hanya sebuah kisah di negeri dongeng.

Zuhudlah dari perkara dunia maka Allah akan mencintaimu dan zuhudlah dari apa yang ada pada manusia maka manusia akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah)

‘Manusia matre’ takkan memahami bahwa dunia yang mereka jadikan tujuan, yang setiap harinya memenuhi kepala dan hati mereka, sebenarnya adalah sesuatu yang amat hina dan tak pantas diperebutkan.

Mereka terjebak dalam pemikiran matrelialistisnya bahwa hidup tidak adil bagi orang miskin, maka berlombalah menjadi kaya, hidup tak adil untuk orang jelek, maka berlombalah melakukan operasi vermak wajah agar cantik, hidup tak adil bagi orang yang berada di bawah, maka milikilah jabatan setinggi-tingginya bagaimanapun caranya agar tak diinjak-injak orang lain.

Sungguh menyedihkan cara berpikir ‘manusia matre’ yang seperti ini. Mereka akan berlomba mengejar dunia yang hina, serta mengabaikan kehidupan akhirat yang kekal.

“Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang aku takutkan (akan merusak agama) kalian, akan tetapi yang aku takutkan bagi kalian adalah jika (perhiasan) dunia dibentangkan (dijadikan berlimpah) bagi kalian sebagaimana (perhiasan) dunia dibentangkan bagi umat (terdahulu) sebelum kalian, maka kalian pun berlomba-lomba mengejar dunia sebagaimana mereka berlomba-lomba mengejarnya, sehingga (akibatnya) dunia (harta) itu membinasakan kalian sebagaimana dunia membinasakan mereka.” (HR. Bukhari Muslim)

Sahabat, semoga kita bukanlah bagian dari manusia matrelialistis yang takkan pernah mencapai derajat taqwa di hadapan Allah, disebabkan kecintaan mereka pada dunia. Mudah-mudahan Allah memampukan kita untuk menjadikan dunia dalam genggaman semata, namun akhiratlah yang ada di hati. Aamiin. (SH)

Wakaf Sekarang