Delapan tahun lalu, kubah merah putih itu berdiri gagah menghadap laut, diresmikan tepat di hari yang sama seluruh negeri merayakan kemerdekaan. Sabtu lalu, bulan yang sama, kubah itu rebah diguncang gempa.
Ini kisah Masjid Al-Istiqomah, yang oleh warga Ronting akrab disapa Masjid Kubah Merah Putih.
Sejarah Masjid Al-Istiqomah
Cerita ini dimulai jauh sebelum bangunan megah itu berdiri. Pada 1932, seorang alim asal Sumbawa bernama Tuan Guru Amazena menginjakkan kaki di Ronting, sebuah kampung di pesisir Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Ia menetap, mengajar mengaji dari rumah ke rumah, menanamkan Islam perlahan dalam keseharian warga yang saat itu masih jauh dari pusat penyebaran agama.
Sepuluh tahun mengajar tanpa atap tetap, pada 1942 Tuan Guru Amazena akhirnya mendirikan surau. Bangunannya sederhana, hanya beratap daun kelapa, tapi cukup untuk menampung warga yang datang belajar dan bersujud bersama. Surau kecil itu menjadi titik awal dari perjalanan panjang yang baru akan mencapai bentuknya empat dekade kemudian.
Warga terus bertambah, dan surau daun kelapa itu ikut tumbuh. Pada 1985, bangunan ini resmi menjadi masjid dan diberi nama Al-Istiqomah, rumah ibadah sekaligus pengikat persaudaraan warga Ronting.
Bangkit Bersama Kemerdekaan
Puluhan tahun berdiri membuat Masjid Al-Istiqomah menua dimakan usia. Dindingnya lapuk, atapnya bocor di beberapa titik, dan bangunan yang dulu jadi kebanggaan warga perlahan kehilangan kelayakannya.
Pada 2018, Dompet Dhuafa hadir menginisiasi renovasi masjid ini. Setahun berselang, renovasi rampung, dan Masjid Al-Istiqomah diresmikan kembali pada 17 Agustus 2019, bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Sejak hari itu, warga menjuluki masjid ini Kubah Merah Putih. Kubahnya dicat merah dan putih, warna yang sama dengan bendera pusaka, berdiri megah di bibir pantai Ronting yang indah. Berkat kubah inilah, nama Ronting mendadak dikenal luas di media sosial dan media massa nasional. Orang-orang yang belum pernah mendengar nama kampung ini tiba-tiba tahu, ada satu masjid di ujung Flores yang kubahnya menyerupai bendera negara.
Masjid ini kemudian menjadi lebih dari sekadar tempat salat lima waktu. Anak-anak mengaji ba’da magrib di serambinya, majelis taklim mingguan berkumpul di dalamnya, dan warga menjadikannya tempat bermusyawarah. Selama hampir satu abad, bangunan ini menjadi saksi perjalanan iman masyarakat Ronting, dari surau daun kelapa hingga menjadi ikon yang dikenal seantero negeri.
Guncangan yang Merobohkan Segalanya
Sabtu, 15 Agustus 2026, tanah di Nusa Tenggara Timur berguncang hebat. Gempa berkekuatan 7,7 magnitudo dengan pusat di Kabupaten Nagakeo meruntuhkan rumah dan fasilitas umum di berbagai kabupaten, termasuk Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Sikka, Ende, Manggarai Barat, hingga Ngada.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat gempa ini bertambah menjadi 68 jiwa, dengan 213 orang lainnya mengalami luka-luka. Kabupaten Manggarai Timur, tempat Masjid Al-Istiqomah berdiri, mencatat 24 korban jiwa, angka tertinggi kedua setelah Kabupaten Manggarai. Pemerintah Provinsi NTT menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana selama 14 hari, terhitung sejak 15 hingga 28 Agustus 2026, untuk mempercepat penanganan korban dan pemulihan wilayah terdampak.
Di antara reruntuhan itu, Masjid Kubah Merah Putih ikut roboh. Bangunan yang delapan tahun lalu berdiri gagah tepat di hari kemerdekaan, kini rata dengan tanah di bulan yang sama.
Warga Ronting kehilangan lebih dari sekadar bangunan. Mereka kehilangan tempat berjamaah, tempat anak-anak mengaji, tempat majelis taklim berkumpul, dan tempat mereka biasa bersandar sebagai umat. Di tengah duka kehilangan sanak keluarga, mereka juga harus kehilangan ruang spiritual yang menemani hampir satu abad perjalanan iman kampung ini.
Melanjutkan yang Terputus
Kubah yang pernah membuat Ronting dikenal seluruh negeri kini menanti untuk berdiri kembali. Warisan yang dijaga Tuan Guru Amazena sejak 1932, yang bertumbuh dari surau daun kelapa menjadi masjid berkubah merah putih, tidak boleh berhenti di titik ini.
Dompet Dhuafa membuka ruang wakaf melalui uang bagi siapa saja yang ingin menjadi bagian dari pembangunan kembali Masjid Al-Istiqomah. Setiap kontribusi akan dikelola menjadi bangunan masjid yang manfaatnya terus mengalir, melanjutkan warisan yang sudah dijaga lintas generasi sejak sembilan dekade lalu.








