Melayani atau Dilayani

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

melayani atau dilayani-“Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Sahabat, jika di dunia ini seorang yang tinggi posisi dan jabatannya bisa terlihat dari seberapa banyak jumlah orang yang melayaninya, maka sesungguhnya ketinggian posisi kita di hadapan Allah justru bisa tampak dari seberapa banyak orang yang kita layani.

Mari kita introspeksi diri, apakah kita adalah seorang yang bersedia melayani atau masih selalu berkeinginan untuk dilayani?

Manusia yang patut dilayani adalah bayi, anak-anak, dan kalangan orang-orang lemah. Baik lemah secara fisik maupun lemah secara ekonomi. Sehingga jika kita bukan termasuk golongan orang-orang tersebut, semestinya kita tak layak dilayani, justru sebaliknya kita harus melayani!

Jangan salah paham! Bersedia melayani orang lain bukan berarti kita tak boleh memiliki pelayan seperti supir, pembantu, pengasuh anak, tukang kebun, satpam, dan lain sebagainya. Justru ketika kita memperlakukan para pelayan tersebut dengan baik, memberi mereka semua hak-haknya, bersikap ramah dan santun pada mereka, artinya kita telah membuktikan diri sebagai seseorang yang bersedia melayani orang-orang yang lebih lemah kedudukannya.

Mengapa kita perlu menjadi orang yang melayani? Ya, tentu saja karena Allah mencintai orang-orang yang bersedia melayani sesamanya.

“Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia, dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan ke dalam diri seorang muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitan atau engkau melunasi utang mereka atau menghilangkan kelaparan.

Dan sesungguhnya aku berjalan bersama seorang saudaraku untuk (menunaikan) suatu kebutuhan lebih aku sukai daripada aku beritikaf di masjid ini—yaitu Masjid Madinah—selama satu bulan.

Dan barangsiapa yang menghentikan amarahnya maka Allah akan menutupi kekurangannya dan barangsiapa menahan amarahnya padahal dirinya sanggup untuk melakukannya maka Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada hari kiamat.

Dan barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk (menunaikan) suatu keperluan sehingga tertunaikan (keperluan) itu maka Allah akan meneguhkan kakinya pada hari tidak bergemingnya kaki-kaki (hari perhitungan).” (HR. Thabrani)

Simaklah hadits di atas! Bukankah intinya memotivasi kita untuk bersedia melayani orang lain?

Bisa dilihat poin-poin yang perlu kita perhatikan jika ingin mendapat cinta Allah adalah sebagai berikut:

1. Memberi manfaat untuk orang lain

Tentu saja memberi manfaat bagi orang lain tidak bisa diseragamkan bentuknya karena Allah menitipkan potensi yang berbeda-beda untuk setiap orang.

Mereka yang dititipkan kemampuan berbicara menyampaikan kebenaran, bisa memberi manfaat dirinya dengan cara menjadi mubalig atau guru.

Lain lagi dengan orang-orang yang diberi kemampuan bisa menulis dengan baik, mereka bisa memberi manfaat dirinya melalui tulisan di blog, di media massa, dan lain sebagainya.

Begitu pula dengan orang yang dititipi potensi berupa harta yang banyak, manfaat yang bisa diberikannya dapat berupa sedekah harta ataupun wakaf, baik wakaf bangunan, wakaf tanah, wakaf saluran air, dan lainnya yang bermanfaat besar untuk masyarakat.

Apapun itu, layanilah orang lain dengan berbagi manfaat diri kita!

2. Membahagiakan sesama muslim

Memberi kebahagiaan pada sesama muslim merupakan bentuk pelayanan yang perlu kita biasakan. Maka, menyapa dengan salam dan menunjukkan wajah cerah ceria pada orang lain sudah pasti menjadi hal wajib yang perlu kita lakukan di setiap kesempatan.

3. Menghilangkan kesulitan sesama muslim

Bentuk pelayanan lainnya yang perlu dipelihara adalah menghilangkan kesulitan sesama muslim. Bisa dengan cara membantu mereka melunasi utangnya, atau menghilangkan kelaparan yang mendera diri dan keluarganya.

Jika kita mengetahui kesulitan sesama saudara seiman, mampu membantunya, namun kita enggan menolong, bisa dipastikan murka Allah akan mengenai kita.

4. Menahan amarah

Sebagai seorang yang melayani, tentu saja perlu membuang karakter buruk mudah tersulut emosi. Dan Allah akan mengganjar kemampuan menahan amarah ini dengan surgaNya.

5. Membantu menunaikan kebutuhan sesama muslim

Bahkan sekadar menemani saudara kita untuk menunaikan kebutuhannya merupakan salah satu bentuk pelayanan yang akan diganjar Allah dengan luar biasa. Yakni Allah akan menolong kita di hari kiamat kelak di mana takkan ada seorang penolong pun selainNya.

Sahabat, sudahkah kita bersedia melayani orang lain? Dan seberapa besar pelayanan yang telah kita lakukan? Sesungguhnya pertolongan Allah dekat bagi orang-orang yang suka melayani sesama saudara seiman. Wallaahualam. (SH)

Wakaf Sekarang