Melupakan Amalan

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Melupakan AmalanSahabat, ada baiknya kita belajar melupakan amalan-amalan baik yang telah kita lakukan. Mengapa harus melupakan amalan?

Pasalnya, terlalu banyak orang yang mengingat-ingat amalannya sampai-sampai ia merasa amalannya telah begitu banyak.

Padahal sangat mungkin amalannya yang banyak itu hanya seperti buih, yang tak bernilai, tak berbobot, bahkan tak bermanfaat, disebabkan amalan tersebut selalu diingat-ingat dan diperhitungkan oleh pelakunya.

“Saya sudah melakukan amalan ini, itu, di sini, dan di situ, in syaa Allah pintu surga akan terbuka untuk saya.”

Bukankah merasa banyak amalan seperti ini sangat buruk efeknya?

Sahabat, mari belajar melupakan amalan, agar kita senantiasa panik dan punya rasa cemas saat beramal, karena kita merasa belum berbuat kebaikan apa pun.

Cara melupakan amalan baik yang pernah kita lakukan antara lain:

1. Meniru ikhlasnya seseorang yang habis keluar dari WC!

Belum pernah ada orang yang tak rela makanan lezat yang telah dilumatnya keluar kembali dari lubang pembuangan akhir.

Apalagi sampai mengungkit-ungkit, “Tadi saya makan steak seharga lima ratus ribu, sayang sekali kalau harus dikeluarkan lagi setelah dicerna.”

Justru biasanya orang akan segera melupakan apa yang baru saja dikeluarkannya di WC, ia sudah merasa lega dan takkan perhitungan.

Maka lakukanlah amalan seperti itu pula! Tak perlu mengingat-ingat apalagi mengungkit-ungkit apa yang telah terjadi.

2. Tak menganggap amalan yang kita lakukan itu telah memenuhi standar

Cara melupakan amalan selanjutnya adalah menganggap amalan yang kita lakukan belum memenuhi standar, sehingga kita takkan mengenangnya.

“Saya baru saja berwakaf seratus juta, tapi bisa saja bagi Allah itu adalah jumlah yang kecil karena harga mobil dan rumah saya saja lebih tinggi dari itu! Aah… Semoga Allah memampukan saya berwakaf lebih banyak lagi.”

“Saya sudah mulai rutin Tahajud, tapi bisa jadi Allah tak menerima shalat saya karena selalu dikerjakan sambil menahan kantuk. Saya harus belajar Tahajud yang lebih khusyu lagi!”

Orang yang merasa amalannya telah memenuhi standar kebajikan, bahkan merasa sudah pasti diterima oleh Allah, sangat mungkin terjerumus pada sifat ‘ujub alias membanggakan diri.

Dan bisa saja akibat rasa bangga dirinya tersebut, amalan sebesar apapun menjadi tak bernilai di mata Allah.

Jangan anggap amalan kita adalah masterpiece. Justru anggaplah amalan kita seperti barang NG (not good), yang takkan dihitung, takkan disimpan, takkan dikenang dan belum layak untuk dibanggakan di hadapan Allah.

3. Memperbanyak beramal

Orang yang amalnya sedikit, cenderung akan mengingat-ingat amalannya itu. Maka perbanyaklah beramal agar kita lupa amalan-amalan apa saja yang pernah dilakukan.

Sahabat, semoga dengan melupakan segala amalan baik yang telah kita lakukan, Allah menjadi semakin tidak melupakan kita. Wallaahualam. (SH)

Baca Juga: Syarat Terpenting Tiap Amalan

Wakaf Sekarang