Memaksa Kebaikan

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

memaksa kebaikan“Tidak ada paksaan dalam agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (Surat al-Baqoroh: 256)

Sahabat, seringkali sebuah kebaikan diawali dengan keterpaksaan, namun tentu saja bukan paksaan dari luar diri, karena paksaan dari luar sifatnya hanya sementara.

Yang paling bisa memaksa diri kita adalah diri sendiri! Dari keterpaksaan inilah lahir sebuah kebaikan yang jika terus dipelihara akan menjadi kebiasaan. Pertanyaannya, mengapa perlu memaksa diri untuk melakukan kebaikan? Bukankah tidak ada nilai jika sesuatu dilakukan tanpa keikhlasan?

Marilah kita lihat contoh dalam kehidupan nyata, pernahkah melihat seorang ibu hamil yang sudah memasuki usia 38 pekan? Ini adalah masa di mana bayi dalam kandungannya sudah siap dilahirkan, akan tetapi sayangnya tidak semua ibu hamil merasakan kontraksi ingin melahirkan di usia kandungan tersebut. Apa yang terjadi?

Sang ibu harus ‘memaksa’ dirinya untuk mencari rasa mulas kontraksi agar bisa mempercepat persalinan, hal ini dinamakan induksi alami. Bisa dengan cara mengonsumsi buah kurma, melakukan banyak gerakan dan senam, sampai melakukan pijat refleksi atau akupuntur, semata-mata dilakukan agar sang bayi bisa segera dilahirkan.

Jika sang ibu tidak memaksa dirinya untuk induksi alami, maka di usia kehamilan 40 pekan ke atas, bidan dan tenaga medis lainnya bisa ‘memaksa’ kontraksi dengan memberikan induksi kimiawi, misalnya melalui infus. Tentu saja paksaan dari luar sifatnya jauh lebih menyakitkan, membuat stres, bahkan banyak wanita yang trauma karena kontraksi persalinan dengan induksi kimia ini sangat dahsyat rasa sakitnya.

Akan tetapi apa boleh buat, tanpa kontraksi maka tidak ada pembukaan, dan itu berarti sang bayi tidak bisa dilahirkan bahkan beresiko kematian dalam kandungan.

Cara paksaan yang paling ampuh lainnya adalah dengan melakukan operasi, dokter membelah perut sang ibu untuk ‘mengeluarkan paksa’ sang bayi. Akan tetapi operasi tentu saja berbeda dengan persalinan alami, banyak wanita yang mengeluhkan rasa perih dan sakit luar biasa yang tetap terasa setelah berbulan-bulan dioperasi.

Bahkan hormon oksitosin yakni hormon cinta yang seharusnya dihasilkan ketika persalinan, takkan keluar jika bayi dilahirkan dengan cara operasi.

Sahabat, bahkan peristiwa alamiah melahirkan bayi saja terkadang perlu menempuh jalan paksa untuk keselamatan, lalu bagaimana dengan ibadah dan kebaikan yang bisa menyelamatkan kita dunia-akhirat? Tentunya diperlukan ‘induksi’ agar kita terangsang untuk melakukan kebaikan. Yang terbaik adalah induksi alami dari dalam diri sendiri.

Misalkan untuk merutinkan sedekah, bisa dengan cara memaksa diri memotong 10% dari penghasilan untuk disedekahkan tiap bulannya. Toh Allah dan RasulNya telah menjanjikan bahwa tidak akan berkurang harta yang dikeluarkan sedekahnya! Jadi takkan ada ruginya memaksa diri untuk bersedekah rutin.

Lalu bagaimana dengan pahala kebaikannya? Apakah kebaikan yang dipaksakan dan tanpa keikhlasan akan tetap bernilai di hadapan Allah?

Sahabat, sesungguhnya pahala dan dosa adalah wewenang Allah, kita tidak berhak menilai sesuatu berpahala atau tidak, apalagi jika bicara tentang surga dan neraka. Satu yang pasti, Allah tidak pernah menyia-nyiakan kebaikan yang dilakukan hambaNya.

“Maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 90)

Oleh karena itu, jangan pernah ragu untuk memaksakan diri melakukan kebaikan, berilah induksi alami agar diri kita bisa melahirkan kebaikan-kebaikan yang banyak setiap harinya.

Mudah-mudahan Allah memberi kelancaran untuk setiap usaha yang kita lakukan dalam rangka menjadi hambaNya yang bertaqwa. Aamiin. (SH)

Wakaf Sekarang