Memaksimalkan Doa sebagai Senjata

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

memaksimalkan doa “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka sesungguhnya Aku sangat dekat (kepada mereka). Aku perkenankan doa orang-orang yang mendoa apabila ia memohon (mendoa) kepada-Ku. Sebab itu, hendaklah mereka memenuhi (seruan)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al Baqarah: 186)

Sahabat, seberapa sering kita menggunakan doa sebagai senjata dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan? Atau, jangan-jangan kita hampir tak pernah menjadikan doa untuk mengatasi kesulitan dalam hidup?

Orang yang tak pernah berdoa atau memohon pada Allah laksana seorang yang sombong dan menganggap dirinya mampu menyelesaikan segala permasalahan sendirian. Padahal sering kali Allah memberi suatu masalah pada hambaNya agar Ia mendengar rintihan permohonan dari diri hambaNya tersebut.

Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al Mukmin: 60)

Akan tetapi, dalam berdoa pun kita perlu memperhatikan beberapa poin agar doa kita tidak sekadar ritual hampa seusai shalat, atau untaian kata-kata hapalan yang kering makna.

Bukankah banyak orang yang merapal doa seperti dukun merapal mantera? Sehapal apapun kita atas doa-doa yang diajarkan oleh Rasulullah, pastikan kita menyertakan hati dan jiwa saat memohon di hadapanNya, jangan hanya sekadar gerakan bibir dan ‘setor’ hapalan doa  tanpa penjiwaan sama sekali, karena bukan inilah esensi doa yang dipanjatkan.

Berikut ini beberapa adab dalam berdoa yang bila dilakukan in syaa Allah bisa menjadikan doa kita sebagai ‘senjata’ setiap kali menghadapi persoalan hidup:

1. Memulai doa dengan pujian pada Allah dan shalawat pada Rasulullah

Jangankan ketika memohon pada Allah, untuk meminta sesuatu dari manusia saja kita memerlukan ‘pendahuluan’, lihat bagaimana cara seorang profesional melakukan pembukaan presentasi di hadapan kliennya, demikian jualah seharusnya kita bersungguh-sungguh dalam membuka doa kita dengan puji-pujian dan shalawat.

Apabila kalian berdoa, hendaknya dia memulai dengan memuji dan mengagungkan Allah, kemudian bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian berdoalah sesuai kehendaknya.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan dishahihkan Al-Albani)

2. Berdoa dengan merendahkan hati, melembutkan suara, di antara perasaan harap dan cemas

Siapa yang suka jika ada orang meminta pertolongan dengan suara kasar, meninggikan dirinya sendiri, dan memaksa? Jangan sampai kita memohon pada Allah dengan cara seperti itu, karena sama sekali tak beretika.

Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90)

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf: 55)

3. Yakin bahwa Allah mampu mengabulkan keinginan kita

Allah Maha Kaya, Maha Kuasa, sungguh bodoh ketika kita memohon padaNya dengan keragu-raguan!

“Apabila kalian berdoa, hendaknya dia mantapkan keinginannya. Karena Allah tidak keberatan dan kesulitan untuk mewujudkan sesuatu.” (HR. Ibn Hibban dan dishahihkan Syua’ib Al-Arnauth)

Berdoalah kepada Allah dan kalian yakin akan dikabulkan. Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai, dan lengah (dengan doanya).” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan Al-Albani)

4. Sering mengulangi doa yang dipanjatkan

Orang yang bersungguh-sungguh dalam memohon sudah pasti akan terus dan sering mengulang-ulang harapannya tersebut tanpa jemu. Maka, mengapakah kita enggan mengulang doa dan berharap sekali meminta saja langsung akan dikabulkan?

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila beliau berdoa, beliau mengulangi tiga kali. Dan apabila beliau meminta kepada Allah, beliau mengulangi tiga kali.” (HR. Muslim)

5. Jangan tergesa-gesa dalam berdoa

Yakni mudah putus asa ketika doa belum terkabulkan, atau mendoakan keburukan untuk orang lain. Kedua hal ini sangat dilarang!

Akan dikabulkan (doa) kalian selama tidak tergesa-gesa. Dia mengatakan, ‘Saya telah berdoa, namun belum saja dikabulkan‘.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (QS. Al-Isra’: 11)

Janganlah kalian mendoakan keburukan untuk diri kalian, jangan mendoakan keburukan untuk anak kalian, jangan mendoakan keburukan untuk pembantu kalian, jangan mendoakan keburukan untuk harta kalian. Bisa jadi ketika seorang hamba berdoa kepada Allah bertepatan dengan waktu mustajab, pasti Allah kabulkan.” (HR. Abu Daud)

6. Memanfaatkan waktu-waktu yang baik untuk berdoa

Ibarat sinyal ponsel, ada waktu di mana saluran begitu sibuk tapi ada juga waktu sepi di mana kita bisa lebih leluasa mendapatkan pelayanan. Maka demikian pula Allah memiliki waktu mustajab untuk mengabulkan doa hambaNya. Manfaatkan waktu-waktu ini dengan baik.

– Waktu sebelum fajar

“Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar (sahur).”(QS. Adz Dzariyat:18)

– Waktu di antara adzan dan iqomat

Doa di antara adzan dan iqomat tidaklah ditolak.” (HR. Abu Daud)

– Waktu di perjalanan jauh

“Ada tiga doa mustajabah yang tidak diragukan lagi padanya, (yakni) doa orang yang dizhalimi, doa orang yang musafir dan doa orang tua untuk kebaikan anaknya.(HR Abu Daud, At-Tirmidzy dan lbnu Majah)

Serta masih banyak waktu mustajab lainnya.

7. Memastikan diri dan keluarga senantiasa memakan makanan halal dan dari rezeki yang halal pula cara mendapatkannya

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a, ‘Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku’. Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan mengabulkan do’anya?” (HR. Muslim)

Sahabat, doa merupakan sesuatu yang amat mudah kita lakukan, namun jarang dimaksimalkan sebagai senjata menghadapi permasalahan hidup. Padahal doa bisa ‘bertarung’ dengan takdir, mengapa kita tak mengoptimalkannya dan menjauhi rasa putus asa?

“Tidak ada gunanya waspada menghadapi takdir, namun doa bermanfaat menghadapi takdir sebelum dan sesudah takdir itu turun. Dan sesungguhnya, ketika musibah itu ditakdirkan turun (dari langit), maka ia segera disambut oleh doa (dari bumi), lalu keduanya (musibah dan doa) bertarung sampai hari kiamat.” (HR. Ahmad, Al-Hakim, Al-Bazar, Ath-Thabrani)

Selamat memaksimalkan doa untuk mengarungi hari-hari! (SH)

Wakaf Sekarang