Membanggakan Harta

Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin ketinggian (menyombongkan diri) dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash: 83)

Sahabat pernah melihat orang yang membanggakan hartanya? Tak perlu meneliti ucapannya, bahkan dari sikap dan tingkah laku seseorang kita bisa melihat apakah ia membanggakan hartanya atau tidak.

Terutama sekali sikapnya ketika bersama dengan bawahan, pembantu, atau orang-orang yang diberi gaji olehnya. Biasanya orang-orang yang membanggakan harta akan memperlihatkan dirinya sebagai ‘Bos’ dengan kelakuan yang ‘bossy’.

Tampaknya wajar, tapi semestinya seorang yang beriman pada Allah SWT harus lebih berhati-hati dalam bersikap.

Coba lihat sikap Rasulullah SAW dan para Sahabatnya dalam memperlakukan pembantu atau budak mereka. Bahkan orang yang tidak mengenali mereka takkan bisa membedakan mana tuan dan mana budak, karena dari mulai pakaian, makanan, semuanya sama.

Mengapa Islam mencontohkan seperti itu? Bukankah berbeda antara orang berharta dengan tidak?

Ya, tentu saja berbeda. Orang berharta semestinya memiliki kesempatan beramal lebih banyak. Mereka memiliki harta untuk diinfakkan, diwakafkan, dikeluarkan zakatnya, bahkan juga mendanai mereka naik haji dan umroh berkali-kali. Sedangkan orang miskin tidak bisa melakukannya.

Jadi, kebanggaan akan harta bukanlah karena wujud fisiknya seperti rumah megah, kendaraan nyaman, pakaian dan perhiasan yang indah. Akan tetapi bagaimana harta tersebut diinfakkan di jalan Allah, sehingga karena harta tersebut kita bisa berbangga diri kelak di hadapanNya.

Baca juga:

Cara Bangun Rumah di Surga

Wakaf RS Hasyim Asyari-Dompet Dhuafa dari “Orang Baik” di Kitabisa.com

Sungguh merugi orang yang terpedaya sehingga membanggakan hartanya yakni yang sekadar berupa bentuk fisik semata. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

Manusia berkata, “Hartaku-hartaku.” Beliau bersabda, “Wahai manusia, apakah benar engkau memiliki harta? Bukankah yang engkau makan akan lenyap begitu saja? Bukankah pakaian yang engkau kenakan juga akan usang?” (HR. Muslim no. 2958)

Dalam hadits lainnya, Rasulullah merincikan yang disebut harta sebenarnya ada 3:

Hamba berkata, “Harta-hartaku.” Bukankah hartanya itu hanyalah tiga: yang ia makan dan akan sirna, yang ia kenakan dan akan usang, yang ia beri yang sebenarnya harta yang ia kumpulkan. Harta selain itu akan sirna dan diberi pada orang-orang yang ia tinggalkan.” (HR. Muslim no. 2959)

Bahkan tidak ada yang bisa dibanggakan dari harta kita karena saat kematian menjemput, tiadalah harta tersebut akan menemani kita, kecuali apa-apa yang kita sedekahkan semasa hidup sebagai amal shalih:

Yang akan mengiringi mayit (hingga ke kubur) ada tiga. Yang dua akan kembali, sedangkan yang satu akan menemaninya. Yang mengiringinya tadi adalah keluarga, harta dan amalnya. Keluarga dan hartanya akan kembali. Sedangkan yang tetap menemani hanyalah amalnya.” (HR. Bukhari no. 6514 dan Muslim no. 2960)

Sahabat, semoga kita menyadari tak ada yang pantas dibanggakan dari harta kita, kecuali apa yang kita sedekahkan dan wakafkan, karena hanya pemberian itulah yang menemani kita kelak setelah kematian. Wallahualam. (SH)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Facebook

Instagram