Mempercantik ‘Kulit Luar’ Pentingkah?

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

allah-tidak-memandang-rupa-dan-harta

Sahabat, banyak orang terjebak, lebih mementingkan ‘kulit’ daripada isinya. Misalnya untuk shalat, lebih mementingkan mukenah atau sarung berkualitas yang dipakai, daripada kekhusyu’an ibadah shalat itu sendiri, untuk tilawah lebih memperhatikan kemerduan bacaan daripada mentadaburi arti dari yang dibaca. Ketahuilah bahwa Allah tidak memandang rupa dan banyaknya harta yang dimiliki hambanya.

Demikian juga dalam kehidupan sehari-hari, karena terjebak oleh pentingnya kecantikan ‘kulit’, banyak yang lebih fokus memiliki rumah mewah, di cluster, meskipun harus berat menanggung kreditnya selama belasan tahun, daripada berfokus membangun rumah tangga yang samara dan dihiasi dengan amalan shaleh. Walhasil, meski memiliki rumah dengan perabot lengkap dan kualitas terbaik, tak ditemukan kenyamanan dan ketenangan di dalamnya.

Bukankah sebagus apapun motif vertikal hitam putih di kulit biji bunga matahari, dan sekecil apapun isinya, manusia tetap memecah kulitnya agar bisa memakan isinya? Demikian juga setajam apapun kulit durian, orang tetap tergila-gila pada harum dan legit daging buahnya bukan kulitnya?

Sahabat, kulit memang penting untuk melindungi isi, tapi percuma memiliki ‘kulit luar’ bagus jika isinya busuk dan buruk.

Lalu, pentingkah mempercantik ‘kulit luar’?

“Sesungguhnya Allah tidak memandang pada rupa paras dan hartamu, melainkan yang dipandang-Nya ialah hati dan amal perbuatanmu.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah)

Jelas bahwa yang terpenting adalah mempercantik hati dan amal perbuatan terlebih dahulu, baru kemudian kita boleh mempercantik bagian kulit luar, yakni rupa dan harta benda yang dimiliki.

Kita boleh saja menghiasi ‘kulit luar’ kita, Islam tidak melarang umatnya untuk memiliki wajah cantik, rumah, kendaraan, dan perabotan yang bagus. Hanya saja perlu diperhatikan, jangan sampai mempercantik kulit luar menjadi prioritas utama, tentu kita akan merasakan penyesalan yang luar biasa.

Misalnya, memiliki uang ratusan juta tapi lebih mengutamakan membeli mobil mewah daripada menunaikan kewajiban naik haji ke tanah suci. Punya banyak cicilan: Rumah, mobil, motor, perabotan, tapi tak bisa memberi uang nafkah istri dan anak, sehingga menelantarkan keluarga.

Atau, sibuk merawat kecantikan kulit wajah dengan facial, setrika wajah, make up tren terkini, namun tak pernah menyentuhkan air wudhu untuk membasuh wajah dan tubuh serta mensucikan diri.

Atau, sibuk merawat anak dengan makanan bergizi, menjaga kebersihan tubuhnya, memberi les musik, les pelajaran, dan les bahasa asing, tapi tak pernah mengajarinya membaca Quran ataupun berakhlak mulia pada sesama manusia. Na’udzubillah.

Sahabat, sungguh orang yang paling mulia dan tinggi derajatnya di hadapan Allah bukanlah mereka yang memiliki jabatan tinggi di pemerintahan, di perusahaan, atau yang memiliki paling banyak kekayaan, jumlah karyawan, jumlah anak, melainkan mereka yang menggunakan jabatan, kekayaan, kecantikan rupa, dan bahkan anak-anaknya untuk menaati Allah.

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa.” (QS. Al-Hujarat: 13)

Selain itu, shaleh secara pribadi saja belum cukup, ada ‘persaingan’ di antara orang mukmin untuk menjadi yang terbaik di hadapan Allah, yakni dengan cara mendayagunakan jabatan dan kekayaannya dalam menyeru sebanyak mungkin orang untuk mengerjakan amal shaleh:

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

Sahabat, semoga Allah senantiasa menyadarkan hati kita untuk mempercantik amal ibadah dan memperbanyak amal shaleh sebagai prioritas utama dalam menjalani hidup. Apalah arti ‘kulit luar’ yang cantik berkilau jika isinya tak bermanfaat, sebagaimana seseorang akan membuang telur busuk meskipun kulit luarnya bagus.

”Harta dan anak-anak adalah perhiasan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan” (QS. Al-Kahfi : 46)

Wallaahualam. (SH)

 

Baca Juga : Meninggalkan Pahala Abadi dengan Sedekah Jariyah

Wakaf Sekarang