Menerima Rasa Sakit

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

menerima rasa sakitSahabat, kita sering menahan rasa sakit bahkan juga melawannya. Entah itu sakit fisik atapun sakit secara batin. Padahal ada cara yang lebih efektif untuk menyembuhkan rasa sakit dan bahkan menghilangkannya, yakni justru dengan cara menerima rasa sakit tersebut.

Mengapa rasa sakit harus diterima? Disadari atau tidak, semakin kita melawannya, rasa sakit itu semakin menguat. Cobalah berteriak saat sedang sakit dan juga teruslah mengeluh, niscaya kita akan merasakan sakit tersebut bertambah kuat.

Sebaliknya, ketika kita berdamai dan menerima rasa sakit, tetap tenang saat rasa sakit tersebut datang, in syaa Allah rasa sakit itu tak terlalu kentara rasanya. Bahkan sering kali menghilang begitu saja.

Sekali lagi hal ini tidak hanya berlaku pada sakit yang kita rasakan di jasad fisik, melainkan juga sakit yang terasa di dalam hati atau tersakiti secara batiniah. Semakin bisa menerima rasa sakit tersebut dan berdamai dengannya, tiba-tiba rasa sakit itu justru melemah!

Lalu, bagaimana cara menerima rasa sakit?

Tidak ada yang mengatakan menerima rasa sakit adalah persoalan mudah, karena sudah tabiat kita selaku manusia untuk selalu mengeluh, bahkan hanya karena sedikit pusing pun, kita bisa saja menulis status satu paragraf di berbagai sosial media.

Akan tetapi, setidaknya beberapa hal berikut ini mudah-mudahan bisa membantu kita menerima rasa sakit:

1. Menyadari bahwa sakit fisik maupun sakit hati bisa menjadi sarana penebus dosa

Tiada seorang mukmin yang ditimpa oleh lelah atau pe­nyakit, atau risau pikiran atau sedih hati, sampaipun jika terkena duri, melainkan semua penderitaan itu akan di­jadikan penebus dosanya oleh Allah.” (HR Bukhari-Muslim)

Jika kita mengetahui bahwa rasa sakit bisa menebus dosa-dosa yang telah kita lakukan, semestinya kita mampu untuk lebih menerima rasa sakit yang Allah timpakan.

Bagaimana tidak, bahkan hanya tertusuk duri pun bisa menghapus dosa, apalagi jika kita merasakan sakit yang luar biasa dan berlipat-lipat ganda. Manfaatkanlah dengan cara menerimanya sebagai hadiah dari Allah untuk menebus kesalahan yang pernah kita perbuat.

2. Ketahui bahwa merahasiakan rasa sakit bisa menjadi simpanan kebaikan

“Termasuk dari simpanan-simpanan kebaikan, menyembunyikan musibah-musibah, sesakitan serta sedekah.” (Riwayat Abu Nu’aim, dishahihkan oleh Al Hafidz As Suyuthi)

Selain menghapus dosa, rasa sakit yang kita rasakan lalu kita rahasiakan dengan tidak mengeluhkannya pada orang lain, dapat menjadi simpanan kebaikan layaknya tabungan akhirat.

Jika kebetulan kita bukanlah orang yang mampu banyak beramal shaleh, tidak sanggup sedekah, tidak kuat melaksanakan berbagai ibadah sunah, maka cukuplah menerima rasa sakit ini sebagai cara memperbanyak simpanan kebaikan untuk kehidupan akhirat.

3. Menerima rasa sakit bisa memusnahkan rasa sakit itu sendiri

Tak perlu menahannya apalagi melawannya, pikirkanlah bahwa rasa sakit itu ada untuk dinikmati, sebagai tanda  kita masih diberikan kehidupan oleh Allah.

Lagipula kemampuan kita dalam menerima rasa sakit justru bisa memusnahkan rasa sakit itu sendiri, teknik ini disebut dengan The Sedona Method, yakni metode yang membantu melepaskan energi-energi negatif dalam diri. Salah satu caranya adalah dengan menerima dan bahkan menyambut rasa sakit.

Teknik ini menjadikan diri kita sebagai subjek dan bukannya korban. Bahwa kita selalu memiliki pilihan dalam hidup, termasuk memilih untuk menerima rasa sakit. Orang yang menahan dan melawan rasa sakit seolah-olah menjadikan dirinya ‘korban’ Allah, seolah-olah Allah jahat telah menimpakan penyakit untuk kita.

Padahal kalau mau ‘ditampar’ dengan kesadaran, rasa sakit yang kita peroleh sering kali diakibatkan oleh kesalahan kita sendiri, betul demikian? Makan tidak teratur, akhirnya lambung terluka. Makan makanan sampah, sehingga pencernaan rusak, kurang tidur dan kebanyakan begadang sehingga organ dalam terganggu, akhirnya kita pun sakit. Lalu mengapa kita tidak menerimanya saja ketika rasa sakit itu datang karena kelalaian diri sendiri?

4. Menjadikan rasa sakit sebagai motivasi untuk berbagi dengan orang lain

Baru rasa sakit seperti ini saja kita sudah tidak kuat, bagaimana dengan para penderita kanker atau penyakit mematikan lainnya yang tentu saja penderitaan mereka menghadapi rasa sakit jauh lebih besar. Tidakkah kesadaran ini mengetuk hati kita untuk bersedekah dan berbagi perhatian pada orang lain yang mengalami rasa sakit jauh lebih parah?

Apalagi sedekah terbukti bisa menolak bala dan menyembuhkan penyakit, manfaatkanlah rasa sakit yang kita terima sebagai pemotivasi untuk lebih dermawan lagi pada makhluk Allah. Dengan demikian, semoga kita bisa lebih mudah menerima rasa sakit sekaligua menghapus rasa sakit tersebut.

Sahabat, hampir tidak ada manusia yang tak pernah merasakan rasa sakit, sering kali rasa sakit justru bisa menumbuhkan kita menjadi sosok yang lebih kuat dan bijak. Mudah-mudahan kita mampu memanfaatkan segala rasa yang Allah berikan untuk menjadikan diri lebih dekat pada Allah dan bukannya sebaliknya. (SH)

Wakaf Sekarang