Skip to content

Menutupi Aib Sesama Muslim

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

menutupi aib sesama muslimSahabat, sesungguhnya Allah meminta kita untuk menutupi aib sesama muslim. Seandainya kita melihat ada kekurangan yang dimiliki saudara kita, alih-alih menyebarluaskannya, lebih baik kita menyimpannya sendiri dan mendatangi saudara kita tersebut untuk memberinya nasihat.

Contoh sederhana, ketika kita mencium bau badan saudara kita begitu menyengat, daripada mengghibahnya, mendumel dalam hati, atau memberitahunya di depan orang lain, lebih baik kita meminta waktu untuk mengobrol empat mata dengannya dan memberinya saran-saran agar bau badannya tersebut hilang atau berkurang. Jangan sampai aibnya tersebut diketahui oleh orang banyak.

Selain itu, ketika melihat saudara sesama muslim melakukan maksiat, sebaiknya kita menutupi aibnya, tentunya dengan terlebih dahulu menasehatinya empat mata, dengan kata-kata yang terbaik agar ia menyadari kesalahannya.  Misalnya, ketika ada saudara kita yang tidak jujur di kantor, alih-alih menyebarluaskan kebohongannya, sebaiknya kita menasehatinya terlebih dahulu agar ia mengubah sikap buruknya. Jika memang ia tidak mau berubah, kita bisa memberitahukan orang lain yang lebih berwenang dan mungkin lebih memiliki kemampuan untuk menegurnya. Namun sebisa mungkin tetap tidak menyebarluaskan aib saudara kita tersebut di hadapan banyak orang.

Sungguh besar ancaman Allah bagi orang-orang yang membuka aib sesama saudara muslimnya, apalagi yang memang bertujuan menjelek-jelekkannya.

Berikut ini beberapa keutamaan menutup aib orang lain:

1. Allah akan menutupi aib kita di dunia maupun di akhirat

Tentu saja kita berharap Allah menutupi segala aib yang kita miliki bukan? Baik aib yang sepele maupun aib yang memalukan. Maka, itulah yang dijamin Allah bagi siapa saja yang mampu menutupi aib sesama muslim.

“Barang siapa yang menutupi aib saudaranya muslim, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat, dan barang siapa mengumbar aib saudaranya muslim, maka Allah akan mengumbar aibnya hingga terbukalah kejelekannya di dalam rumahnya.” (HR. Ibnu Majah)

“Barangsiapa yang meringankan (menghilangkan) kesulitan seorang muslim kesulitan-kesulitan duniawi, maka Allah akan meringankan (menghilangkan) baginya kesulitan di akhirat kelak. Barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang mengalami kesulitan di dunia, maka Allah akan memudahkan baginya kemudahan (urusan) di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selalu ia menolong saudaranya.” (HR. Tirmidzi)

“Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya dan iman itu belum masuk ke dalam hatinya. Janganlah kalian mengghibah kaum muslimin dan jangan mencari-cari/mengintai aib mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aib kaum muslimin, Allah akan mencari-cari aibnya. Dan siapa yang dicari-cari aibnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya di dalam rumahnya (walaupun ia tersembunyi dari manusia).” (HR. Ahmad)

2. Seolah-olah menghidupkan kembali bayi yang telah dikubur hidup-hidup

Bayi yang dikubur hidup-hidup tentu saja akan menemui ajalnya. Akan tetapi seseorang yang menutupi aib orang lain seolah-olah ia menghidupkan kembali bayi yang telah mati terkubur tersebut. Bukankah perumpamaan ini menunjukkan begitu luar biasanya pahala bagi siapapun yang menyembunyikan aib orang lain.

“Siapa melihat aurat (aib orang lain) lalu menutupinya, maka seakan-akan ia menghidupkan bayi yang dikubur hidup-hidup.” (HR. Abu Daud)

3. Allah hapuskan dosa-dosanya di hari kiamat kelak

Sebuah hadits memperlihatkan hal yang dahsyat, betapa Allah begitu baiknya menjaga aib seorang mukmin di hari penghisaban kelak.

“Sesungguhnya (di hari penghisaban nanti) Allah mendekatkan seorang mukmin, lalu Allah meletakkan tabir dan menutupi si mukmin (sehingga penghisabannya tersembunyi dari orang-orang yang hadir di mahsyar). Allah berfirman: ‘Apakah engkau mengetahui dosa ini yang pernah kau lakukan? Apakah engkau tahu dosa itu yang dulunya di dunia engkau kerjakan?’ Si mukmin menjawab: ‘Iya, hamba tahu wahai Rabbku (itu adalah dosa-dosa yang pernah hamba lakukan).’ Hingga ketika si mukmin ini telah mengakui dosa-dosanya dan ia memandang dirinya akan binasa karena dosa-dosa tersebut, Allah memberi kabar gembira padanya: ‘Ketika di dunia Aku menutupi dosa-dosamu ini, dan pada hari ini Aku ampuni dosa-dosamu itu.’ Lalu diberikanlah padanya catatan kebaikan-kebaikannya…” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Sahabat, agar lidah kita tidak gatal untuk mengungkap aib orang lain, nasihat dari Abdullah Al Muzani ini bisa kita renungkan:

“Jika iblis memberikan was-was kepadamu bahwa engkau lebih mulia dari muslim lainnya, maka perhatikanlah. Jika ada orang lain yang lebih tua darimu, maka seharusnya engkau katakan, “Orang tersebut telah lebih dahulu beriman dan beramal sholih dariku, maka ia lebih baik dariku.” Jika ada orang lainnya yang lebih muda darimu, maka seharusnya engkau katakan, “Aku telah lebih dulu bermaksiat dan berlumuran dosa serta lebih pantas mendapatkan siksa dibanding dirinya, maka ia sebenarnya lebih baik dariku.” Demikianlah sikap yang seharusnya engkau perhatikan ketika engkau melihat yang lebih tua atau yang lebih muda darimu.”

Semoga Allah menguatkan hati kita untuk tidak menyebarluaskan aib sesama muslim. (SH)

Baca Juga: Amalan Kebaikan Bukan untuk Disombongkan