Menyadari Pujian adalah Ujian

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

pujian adalah ujian“Pujian itu adalah penyembelihan.” (Shahih secara sanad)

Guru imam Bukhari berkata, “(Hal itu berlaku) apabila seseorang senang akan pujian yang diberikan kepadanya.”

Sahabat, pernahkah kita merasa senang dan bangga mendengar pujian yang dilontarkan untuk diri kita? Mungkin tampak manusiawi, ketika dipuji karena kebaikan, kepintaran, kerupawanan, kekayaan, kedermawanan, kemudian kita merasa bahagia.

Akan tetapi sebenarnya pujian bisa berpotensi menghancurkan amalan shaleh dan diri kita sendiri. Berikut ini beberapa kerugian orang yang suka dipuji:

1. Suka pujian menandakan hati yang tidak ikhlas

Simaklah pernyataan Ibnul Qayyim dalam Al Fawaid berikut ini:

“Tidak mungkin dalam hati seseorang menyatu antara ikhlas dan mengharap pujian serta tamak pada sanjungan manusia kecuali bagaikan air dan api.”

Jelas bahwa keikhlasan tidak mungkin bersemayam dalam hati yang rakus akan pujian. Yang menyedihkan, betapa banyak orang yang beramal hanya sekadar untuk membentuk opini dan menjaga pencitraan diri semata. Tidakkah menyadari kerugian besar yang akan didapatkan jika sekadar beramal untuk jaga imej?

Sangat mungkin amalan yang kita lakukan tak ada nilainya di mata Allah karena hati kita berharap dipandang oleh manusia!

2. Pujian berlebihan justru bisa merusak diri orang yang dipuji

Berikut ini sikap Rasulullah mengenai pujian terhadap seseorang:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seorang pria berlebih-lebihan dalam memuji seorang. Beliau lalu bersabda,

”Kalian telah membinasakan atau mematahkan punggung orang itu.”(Shahih. HR. Bukhari Muslim)

Jelas bahwa pujian bisa merusak diri orang yang mendapatkannya. Karena sangat mungkin amalan yang awalnya diniatkan ikhlas, lantas berubah menjadi pamer karena senang mendapat pujian. Akhirnya orang tersebut beramal lagi agar kembali mendapat pujian, atau justru berhenti beramal ketika tidak memperoleh apresiasi berupa puja-puji.

3. Pujian bisa membuat lupa bahwa segala puji hanyalah milik Allah

Jika kita merasa pantas dipuji, sangat mungkin karena kita lupa bahwa segala yang kita miliki adalah dari Allah. Ibarat tukang parkir yang bangga ketika ada mobil ferrari dan BMW parkir di tempatnya bertugas, sungguh konyol bukan? Apa yang bisa dibanggakan dari sekadar titipan?

Ibnu Athaillah berkata: “Orang Mukmin menyadari bahwa pujian sesungguhnya hanya milik Allah. Karena itu  ia akan merasa malu bila menyandang pujian. Ketika seorang mukmin dipuji, ia malu kepada Allah karena ia dipuji dengan sifat yang tidak ia dapati pada dirinya.” (Alhikam)

Lantas apa yang semestinya kita perbuat ketika mendapat pujian?

Inilah doa yang dipanjatkan oleh Abu Bakar ash Shiddiq jika mendengar pujian:

“Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun.”

“Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka” (HR. Baihaqi)

Sebaliknya, jika kita melihat seseorang yang luar biasa mengagumkan, apa yang perlu kita lakukan sebagai ganti memujinya?

Dari Abu Bakrah, ia menceritakan bahwa ada seorang pria yang disebutkan di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang hadirin memuji orang tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda,

“Celaka engkau, engkau telah memotong leher temanmu (berulangkali beliau mengucapkan perkataan itu). Jika salah seorang di antara kalian terpaksa/harus memuji, maka ucapkanlah, ”’Saya kira si fulan demikian kondisinya.” -Jika dia menganggapnya demikian-. Adapun yang mengetahui kondisi sebenarnya adalah Allah dan  janganlah mensucikan seorang di hadapan Allah.”(Shahih. HR. Bukhari)

Ada hadits lainnya yang menganjurkan kita mengganti pujian untuk seseorang dengan doa keberkahan:

“Jika salah seorang di antara kalian melihat sesuatu yang menakjubkan dari saudaranya, maka hendaklah dia mendo’akannya agar diberikan keberkahan kepadanya.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)

Sahabat, semoga kita menjadi orang-orang yang tidak bangga terhadap pujian, karena pujian sangat mungkin merupakan salah satu bentuk ujian yang bisa membuat kita makin dekat pada Allah atau malah sebaliknya. Wallaahualam. (SH)

Wakaf Sekarang