Menyesali Sedekah

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

Menyesali SedekahSahabat, pernahkah merasa menyesal bersedekah? Sesungguhnya, sangat mungkin ketika sakaratul maut menjemput, kita akan merasa menyesal dengan sedekah yang kita berikan, sebagaimana salah seorang sahabat Rasulullah yang bernama Sya’ban, amat menyesali sedekah yang ia pernah keluarkan.

Dikisahkan bahwa saat sakaratul maut, Sya’ban Radiyallahu ‘anhu meneriakkan 3 kalimat yang tidak dimengerti maknanya oleh keluarganya. 3 kalimat tersebut berupa rasa penyesalan Sya’ban terhadap apa yang telah diperbuatnya selama hidup.

Penyesalan yang pertama membuatnya berteriak, “Aduuuh kenapa tidak lebih jauh…”
Yakni penyesalan karena jarak rumahnya ke masjid hanya beberapa kilometer saja, sedangkan saat sakaratul maut tersebut ia diperlihatkan oleh Allah ganjaran pahala yang diperolehnya langkah demi langkah menuju masjid, maka ia pun menyesali mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi, agar pahala yang diperolehnya lebih banyak lagi.

Penyesalannya yang kedua membuatnya berseru,” Aduuuh kenapa tidak yang baru…”
Karena menjelang kedatangan ajalnya itu pula, Allah memperlihatkan amalannya yang lain, yakni di waktu angin dingin berhembus. Sya’ban memakai pakaian double, yang ia pakai di dalam adalah satu baju baru, sedangkan sebagai luaran adalah baju lama.

Niat Sya’ban setelah sampai masjid, baju luarannya akan dilepas sehingga ia shalat dengan memakai baju baru. Akan tetapi di tengah perjalanannya ke masjid, ia bertemu seseorang yang tampak sekarat karena kedinginan.

Maka Sya’ban pun membantu memapah orang tersebut dan memakaikan baju luarannya yang sudah usang pada orang itu, sehingga orang yang hampir sekarat itu bisa tertolong.

Rupanya amalan tersebut Allah ganjar surga yang ditampakkanNya pada Sya’ban ketika sakaratul maut. Maka ia amat menyesali mengapa saat itu hanya memberikan pakaian lama, bukan yang baru. Melihat betapa besarnya ganjaran kenikmatan yang ia peroleh hanya karena memberi pakaian usang, ia berpikir apalagi kalau ia memberi pakaian yang baru.

Baca Juga: Agar Sedekah Menjadi Lifestyle

Dan terakhir adalah penyesalan Sya’ban mengenai sedekahnya kepada seorang pengemis, penyesalan ini membuatnya berseru saat sakaratul maut.
“Aduuuh kenapa tidak semua…”
Karena saat itu ia ingin memakan sebuah roti, tiba-tiba ada seorang pengemis meminta makanan padanya akibat sudah beberapa waktu pengemis tersebut tidak mengisi perutnya sama sekali.

Maka Sya’ban membagi 2 rotinya sama besarnya, untuk disantap olehnya dan oleh pengemis tersebut.
Begitu melihat ganjaran yang diperolehnya atas sedekahnya itu, ia pun menyesal, mengapa tidak memberikan semua roti tersebut pada sang pengemis. Itulah makna teriakkannya saat sakaratul maut tersebut.
Sahabat, bahkan setelah mengetahui ganjaran luar biasa yang didapatnya, seseorang masih bisa menyesali sedekah yang dikeluarkannya, menyesal mengapa ketika hidup hanya mengeluarkan sedekah sedikit saja. Apalagi seseorang yang meninggal tanpa pernah bersedekah.

Bukankah mayit saja jika diperbolehkan hidup kembali akan memilih untuk bersedekah?
“Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang shaleh.” (QS. Al-Munafiqun: 10)
Oleh sebab itu, bersedekahlah dengan apapun yang kita miliki saat ini juga. Jangan sampai kita menyesali karena menahan-nahan harta dan tidak menginfakkannya. (SH)

Wakaf Sekarang