Merasa Berjasa itu Keliru

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

merasa berjasa“Mereka merasa telah berjasa kepadamu dengan keIslaman mereka. Katakanlah, ‘Janganlah kamu merasa berjasa kepadaku dengan keIslamanmu, sebenarnya Allah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang yang jujur.’” (QS.Al-Hujurat: 17)

Ya, tak perlu menunjuk orang lain, bisa jadi kita sendiri sering merasa berjasa atas keislaman kita.

“Saya banyak mewakafkan tanah, bangunan dan kendaraan untuk dakwah Islam.”

“Sayalah yang berinisiatif pertama kalinya untuk berdakwah di medan ini.”

“Tanpa saya, dakwah Islam di sini akan mati.”

Boleh-boleh saja diri kita merasa berjasa, tapi ketahuilah bahwa pikiran seperti itu sebenarnya keliru besar. Jadi buat apa terus-menerus memelihara pemikiran yang keliru?

Sahabat, bukan kita yang berjasa pada Islam, atau pada Allah dan RasulNya, karena tanpa kita pun Allah memiliki banyak ‘pasukan’ yang akan membela agamaNya dengan harta dan jiwa mereka.

Justru seharusnya kita bersyukur dan menyadari bahwa Allah dan RasulNya lah yang telah berjasa pada diri kita, sehingga kita terlepas dari ketidakberdayaan, bersyukur bahwa diri kita digunakan olehNya untuk kebaikan dakwah, juga bahwa Ia mengambil manfaat dari jiwa dan harta kita untuk kebaikan umat. Bukankah kitalah yang diuntungkan atas hal ini?

Perasaan bahwa kita telah berjasa terhadap Islam dan dakwah merupakan hal yang berbahaya dan berpotensi mencelakakan diri kita sendiri. Berikut ini beberapa sebabnya:

1. Menafikan kuasa Allah

Orang yang merasa telah berjasa pada Islam, pada Umat, pada dakwah, sesungguhnya telah menafikan kuasa Allah. Ia melupakan posisi dirinya sebagai hamba yang sebenarnya tak memiliki kuasa apapun kecuali atas izin Allah.

“Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. An-Nur: 45)

Bukankah kecelakaan besar bagi orang yang melupakan kodratnya sebagai hamba Allah? Ia yang seharusnya bersyukur karena telah Allah berdayakan, justru malah merasa pantas disyukuri oleh Allah dan makhlukNya atas jasa yang telah ia berikan.

Ibarat seorang yang tidak memiliki apa-apa, hidup miskin, lapar, bodoh, kemudian diberikan tempat tinggal, pendidikan, bahkan juga diberi jabatan di perusahaan, ketika ia kemudian berhasil memberi kontribusi untuk perusahaan, ia berbangga diri dan merasa layak mendapat penghargaan, ia melupakan fakta bahwa jika ia tak diberi kesempatan, sebenarnya ia takkan menjadi apa-apa.

2. Masuk dalam kategori penyakit ujub

Ujub atau kagum dan bangga pada diri sendiri merupakan salah satu penyakit hati yang bisa membinasakan. Seseorang yang merasa berjasa pastilah memendam penyakit ini di hatinya.

“Adapun tiga hal yang membinasakan itu adalah kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti dan ujub (kekaguman) seseorang terhadap dirinya sendiri.” (HR. ath-Thabrani)

3. Dibenci Allah dan juga manusia

Tidak hanya dibenci oleh Allah karena sifat ujub yang dimilikinya, ketika seseorang merasa telah berjasa terhadap sesuatu atau seseorang, sangat mungkin ia akan dibenci pula oleh manusia lain.

Hal ini disebabkan tak jarang orang yang merasa dirinya telah berjasa akan senantiasa mengungkit-ungkit pemberian atau jasanya pada orang lain sehingga membuat orang tidak nyaman.

Bahkan jika jasa yang dimaksud adalah berupa sedekah untuk orang lain, Allah telah menyatakan bahwa sedekah tersebut batal jika kita mengungkit-ungkitnya dan menyakitkan hati si penerima.

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah
kamu sekali-kali membatalkan sedekahmu dengan mengungkit-ungkit dan menyakitkan hati (penerimanya).” (QS. Al Baqarah : 264)

Oleh sebab itu buang jauh-jauh perasaan telah berjasa atas pemberian kita pada orang lain jika tak ingin dibenci Allah dan sesama.

Sahabat, tiada guna merasa hidup kita penuh dengan jasa pada umat dan dakwah Islam. Yang sebenarnya terjadi adalah Allah memberi kita kesempatan dari ‘nothing’ menjadi ‘something’, tak perlulah kita berbangga diri dan merasa diri kita adalah ‘everything’.

Tetap lakukan kebaikan, tetap memberi sedekah yang terbaik, dengan terus menata hati dan menyadari bahwa semua kebaikan itu berasal dari Allah, dan bahwa kita amat beruntung telah dipilihNya untuk membagi manfaat diri pada orang lain. Wallaahualam. (SH)

Wakaf Sekarang