MERASA SUCI

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

merasa suci, tanda celaka“Maka janganlah kamu merasa suci. Dia-lah yang Mengetahui siapa yang bertaqwa”
(QS. An-Najm: 32)

Yang namanya perasaan, bisa benar dan bisa juga keliru. Namanya saja perasaan. Mungkin cuma perasaan. Belum masuk wilayah kebenaran hakiki. Namanya saja perasaan. Sangat subjektif.

Adalah benar bahwa, menurut penilaian Allah, orang yang terbaik di antara kita ialah orang yang paling bertaqwa. Bukan yang paling kaya. Bukan yang paling tinggi jenjang pendidikannya. Bukan yang paling elok parasnya. Melainkan, yang paling bertaqwa.

Taqwa itu bukanlah klaim atas diri. Melainkan, penilaian dari Allah Ta’ala. Memang taqwa itu ada ciri-ciri dan syarat-syaratnya. Misalnya, orang bertaqwa itu pemaaf, orang bertaqwa itu mampu menahan marah, orang bertaqwa itu jika berbuat khilaf segera memohon ampun kepada Allah, dan orang bertaqwa itu menafkahkan hartanya baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Namun, berusaha memenuhi beberapa syarat di atas hanya demi bisa “merasa” bertaqwa adalah kekeliruan. Sebab, saat diri “merasa” memenuhi kualifikasi taqwa, maka godaan untuk mengklaim diri bertaqwa akan bermunculan.

Cara yang bisa dilakukan adalah terus memperbanyak amalan-amalan yang mendekatkan diri pada taqwa tanpa mengingat-ingatnya. Tujuannya, agar kita tidak menilai diri sendiri. Segera melupakan semua amal baik kita merupakan cara agar diri ini merasa tak punya amal baik, agar diri ini tak mengklaim punya amal baik, agar diri terus-menerus menambah dan meningkatkan amal baik. Sayyiduna ‘Ali radhiyallaahu’anhu mengingatkan,

bahwa tanda celaka itu ada empat, yaitu:
(1) melupakan dosa, padahal catatannya ada di sisi Allah,
(2) mengingat-ingat kebaikan, padahal tidak tahu apakah diterima atau ditolak oleh Allah,
(3) melihat kepada orang yang lebih tinggi dalam hal dunia, dan
(4) melihat kepada orang yang lebih rendah dalam hal agama.

Mengingat-ingat amal kebaikan yang pernah diperbuat dapat membuat seseorang celaka. Berupa apa celakanya? Ia mengira amal kebaikannya sudah banyak, padahal ia tidak tahu apakah amal sebanyak itu diterima oleh Allah. Alangkah ruginya orang yang saat di dunia “merasa” diri sudah bertaqwa, tetapi saat berjumpa dengan Allah dia tak menjumpai amalan-amalan yang pernah dikerjakan di dunia.

Hal ini hampir sama dengan paparan Syaikh Ibnu ‘Athaillah saat menjelaskan amalan-amalan yang diperbuat untuk sekedar untuk dilihat orang, atau yang kita kenal dengan istilah riya’. Beliau menjelaskan bahwa orang yang berbuat riya’ itu seumpama orang yang mengantongi batu di dalam sakunya dan masuk ke pasar.

Orang-orang di pasar melihat betapa tebal kantong orang itu, padahal isinya tak bisa untuk membeli apa-apa. Hanya perbedaanya, riya’ adalah mengerjakan amalan untuk mendapatkan penilaian orang lain, sedangkan merasa suci adalah mengerjakan amalan untuk bisa menilai diri sendiri. Dua-duanya sama-sama tidak baik. Yang berhak memberikan predikat taqwa pada diri kita bukanlah orang lain apalagi diri sendiri, melainkan Allah. Dia-lah yang Mengetahui siapa yang sebenarnya bertaqwa.

Allah Ta’ala memperingatkan kita agar terus-menerus meningkatkan ketaqwaan dengan taqwa yang sebenar-benarnya. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 102, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”.

Sebenar-benar taqwa merupakan ketaqwaan yang tak membuat seseorang merasa bertaqwa. Sebab orang yang merasa suci/bertaqwa bukanlah orang yang benar-benar bertaqwa. Sebagaimana halnya ketawadhuan, bahwa orang yang merasa dirinya tawadhu’ bukanlah orang yang benar-benar tawadhu’. Bahkan Syaikh Ibnu ‘Athaillah menyatakan dalam kitabnya, Al-Hikam, “Barangsiapa yang merasa (mengklaim) dirinya telah tawadhu’, maka sesungguhnya dia adalah orang yang benar-benar takabur (sombong)”. Begitupula taqwa, orang yang benar-benar bertaqwa tak akan merasa dirinya telah bertaqwa. Orang yang benar-benar bertaqwa tak akan merasa dirinya suci.

Baca Juga: Amalan Kebaikan Bukan untuk Disombongkan

Wakaf Sekarang