Naungan Sedekah

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

naungan sedekahSahabat, pernahkah terjebak pada situasi hujan lebat, angin kencang, pohon tumbang, dan kilat menyambar, sementara kita tak menemukan satu tempat pun untuk berteduh atau bernaung sementara waktu?

Tentu kondisi tersebut amat mencekam. Basah kuyup, kedinginan, ketakutan, bahkan jika sekadar menemukan halte kecil untuk bernaung pun akan sangat kita syukuri.

Atau sebaliknya, pernahkah Sahabat merasakan siang yang begitu terik, matahari membakar, namun sebuah payung untuk berlindung pun tak ada? Bayangan rimbun pohon untuk bernaung pun tak tampak.

Sehingga kita akhirnya mengalami dehidrasi, kepala berkunang-kunang, badan lemas, dan rasanya memiliki sehelai kain untuk bernaung di bawahnya pun sudah merupakan sebuah nikmat yang dahsyat.

Sahabat, mari kita sadari bahwa situasi seperti itu akan segera kita temui, yakni saat kiamat tiba dan seluruh manusia dibangkitkan di padang mahsyar untuk diadili.

Takkan ada satu naungan pun di saat itu kecuali naungan Allah, dan setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya masing-masing hingga jatuhnya penetapan keputusan.

Setiap orang berada di bawah naungan sedekahnya hingga manusia diadili (oleh pengadilan Allah),” atau beliau bersabda, “Hingga keputusan di antara manusia ditetapkan (oleh pengadilan Allah),” (HR. Ibnu Khuzaimah. Hadits shahih berdasarkan sanad muslim).

Bayangkanlah hari yang penuh huru-hara dan kegoncangan, setiap orang hanya mempedulikan urusannya masing-masing. Matahari akan terasa sangat dekat di ubun-ubun, bahkan manusia akan tenggelam dalam lautan keringatnya sendiri saking beratnya penantian di hari itu.

Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Pada hari kiamat manusia akan berkeringat hingga mengalir sejauh tujuh puluh hasta, dan akan menenggelamkan mereka hingga mencapai telinga mereka,” (HR. Bukhari)

Di saat itulah sedekah yang kita nafkahkan selama hidup di dunia ini akan berfungsi melindungi diri kita, yakni menjadi tempat bernaung di kala menanti keputusan pengadilan Allah.

Pertanyaannya, akan seberapa besarkah tempat naungan kita di hari kiamat tersebut? Apakah hanya selebar daun pisang? Sebesar halte bis? Ataukah seluas istana megah?

Hanya kita yang bisa menentukannya, saat ini juga, selagi nyawa masih dikandung badan! Sudah seberapa besarkah jumlah sedekah yang kita keluarkan selama ini?

Apakah kita baru bersedekah 1% saja dari jumlah harta yang dimiliki, atau sudah 10% bahkan 50% dari total kekayaan yang Allah titipkan pada kita?

Banyak orang yang bangga telah bersedekah sekian milyar, padahal harta yang dimilikinya mencapai puluhan trilyun! Sebaliknya, ada orang yang begitu malu hanya mampu bersedekah sebuah roti, padahal harta yang dimilikinya memang hanya 2 buah roti. Sehingga nilai sedekah sebuah roti mampu mengungguli besarnya nilai sedekah sekian milyar Rupiah. Jelas bahwa sedekah bukanlah masalah nilai nominal, melainkan nilai jerih payah yang dikeluarkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Satu dirham bisa mengalahkan seratus ribu dirham.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana bisa demikian?”

Ada orang yang memiliki 2 dirham, kemudian dia sedekahkan satu dirham. Sementara itu ada orang yang memiliki banyak harta, kemudian dia mengambil seratus ribu dirham untuk sedekah.” (HR. Nasai dan dinilai hasan oleh Al-Albani)

Sahabat, jadi sudah seberapa besarkah naungan sedekah yang akan kita dapatkan kelak di padang mahsyar? Selama masih diberi waktu dan harta untuk disedekahkan, marilah kita perbesar naungan untuk di hari kiamat kelak dengan merutinkan bersedekah! (SH)

Wakaf Sekarang