SUKABUMI — Wisata Panen 2025 penuh semarak dan keseruan dengan melibatkan para donatur, influencer, serta santri di Pesanten Tahfidz Green Lido, Sukabumi. Bertajuk “Petik Cerita, Rangkai Manfaat” agenda panen sayur di kawasan wakaf produktif Pesantren Tahfidz Green Lido, berlangsung pada Kamis (24/4/2025).
Dompet Dhuafa secara langsung para donatur untuk melihat kawasan wakaf produktif Dompet Dhuafa, agenda ini menjadi wadah transparansi dan pertanggungjawaban atas amanah wakaf yang telah disalurkan melalui program wakaf Dompet Dhuafa.

Wisata Panen ini cukup berbeda dengan beberapa acara sebelumnya, karena melibatkan peserta untuk merangkai buket sayur, dari berbagai hasil panen yang telah dipetik. Beberapa komoditas unggulan yang sudah dipanen di antaranya buncis kenya, tomat, dan daun bawang yang ditanam di kawasan greenhouse serta area pertanian terbuka di kawasan pesantren.

“Ini adalah bagian dari ikhtiar kami untuk menunjukkan bahwa wakaf yang dikelola Dompet Dhuafa secara produktif benar-benar memberikan manfaat nyata. Di sini ada masjid, lahan pertanian produktif, dan tentu saja santri yang menjadi penerima manfaat secara langsung,” ujar Ali Bastoni sebagai General Manager Lembaga Pengembangan Investasi Wakaf Dompet Dhuafa.
Untuk menambah pengetahuan para peserta, agenda ini juga menggelar Mini Talkshow tentang Urban Farming, yang dipaparkan oleh Udi Rafiudin, diharapkan para peserta memahami dan dapat mempraktikkan urbang farming dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk ke-4 kalinya, Pesantren Tahfizh Green Lido kembali memanen hasil pertanian dari lahan wakaf produktifnya. Kali ini, komoditas utama yang dipanen adalah buncis Kenya, yang telah memasuki masa panen dengan hasil signifikan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sumber pemasukan bagi pesantren, tetapi juga melibatkan para donatur untuk merasakan langsung manfaat program wakaf yang mereka dukung.
Purwanti, salah satu peserta kegiatan, mengungkapkan kekagumannya saat pertama kali terlibat dalam panen. “Saya sangat senang bisa memetik tomat dan buncis langsung dari kebun. Ini pengalaman baru bagi saya,” ujarnya. Ia juga mengapresiasi transparansi Dompet Dhuafa dalam mengelola dana wakaf. “Wakaf di sini benar-benar terasa manfaatnya, tidak sekadar menabung, tapi benar-benar memberdayakan.”

Tak hanya Purwanti, salah satu influencer yang hadir, Assyifa Zara juga menyambut antusias kegiatan ini. “Senang melihat dana donasi dikelola dengan baik dan menghasilkan sesuatu yang nyata,” ungkapnya.
Hasil panen seperti buncis, melon, dan tomat selain dipasarkan ke supplier lokal, juga dipersiapkan untuk merambah pasar internasional. Misalnya komoditas buncis, melon untuk diekspor ke Singapura melalui mitra Karya Masyarakat Mandiri (KMM) Dompet Dhuafa.
Budidaya buncis Kenya di kawasan panen ini, telah memasuki dua periode tanam dengan potensi produksi hingga 1,2 ton. Tanaman ini dibudidayakan secara konvensional dengan masa panen 40–50 hari dan bisa dipanen hingga 15 kali dalam 90 hari. Selain buncis, pesantren juga mengembangkan tomat di greenhouse, serta sayuran seperti sawi dan bawang daun dengan sistem tumpang sari di lahan pertanian terbuka.

Program ini tidak hanya mendukung ketahanan pangan, tetapi juga membuka lapangan penghasilan bagi petani sekitar. Ke depan, diharapkan lahan wakaf ini dapat terus dikembangkan dengan diversifikasi tanaman dan perluasan area budidaya.
“Melalui wakaf produktif, kami ingin membuktikan bahwa dana sosial bisa menjadi solusi nyata untuk pemberdayaan ekonomi,” ungkap perwakilan Dompet Dhuafa.
Selain menjadi usaha produktif bagi pesantren, kawasan lahan pertanian ini juga menjadi sarana pembelajaran entrepreneurship dan agribisnis bagi para penghafal quran, serta memberdayakan para petani lokal.
Ayo ikut bantu berdayakan para petani melalui:
https://digital.dompetdhuafa.org/wakaf/greenhouse




